Editor
BEKASI, KOMPAS.com — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mendorong asrama haji dimanfaatkan sepanjang tahun untuk akomodasi, manasik, pelatihan, hingga kegiatan masyarakat.
Pengembangan tersebut harus tetap menjaga fungsi utamanya sebagai tempat pelayanan jemaah haji.
Direktur Jenderal Pelayanan Haji, Ian Heriyawan, mengibaratkan asrama haji sebagai “raksasa yang tertidur”. Fasilitas berupa kamar, aula, dan lahan dinilai memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan di luar musim haji.
“Jangan sampai asrama haji hanya hidup satu musim. Kita memiliki aset yang besar, tetapi kalau sepanjang tahun tidak dimanfaatkan, justru menjadi beban operasional,” ujar Ian dalam rilisnya, Rabu (30/9/2026).
Baca juga: Kemenhaj Catat 189 Pengaduan, Ada Dugaan Penipuan Dana Haji dan Umrah
Ian mengatakan, pemanfaatan asrama haji dapat diperluas untuk layanan akomodasi dan perhotelan, manasik, pelatihan, pertemuan, serta kegiatan masyarakat lainnya.
Pengembangan itu diharapkan membuat aset asrama haji terus memberikan manfaat setelah operasional haji berakhir.
Namun, menurut Ian, perubahan tidak cukup dilakukan melalui pembenahan bangunan dan fasilitas. Cara pandang pengelola juga perlu berubah agar asrama haji dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel.
“Mindset itu yang harus kita ubah. Mengubah mindset memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan,” katanya.
Pengelolaan tersebut diharapkan meningkatkan kualitas layanan sekaligus mendukung keberlanjutan ekonomi asrama haji.
Ian menegaskan, transformasi asrama haji tidak hanya berkaitan dengan bisnis. Ada dimensi spiritual yang melekat pada fungsinya sebagai tempat awal perjalanan jemaah menuju Tanah Suci.
Ia mengibaratkan asrama haji sebagai “doa iftitah” dalam rangkaian perjalanan ibadah haji.
“Dari aspek spiritual, asrama haji itu doa iftitah-nya. Di sinilah gerbang awal bagaimana membuka spiritual jemaah sebelum menuju Tanah Suci,” ujarnya.
Karena itu, pembenahan asrama haji juga harus menghadirkan layanan yang nyaman, bersih, tertata, dan memiliki standar yang baik. Jemaah diharapkan merasakan kualitas pelayanan tersebut sejak masih berada di Tanah Air.
Ian turut memperkenalkan gagasan Grand El-Hajj sebagai bagian dari upaya membangun citra dan standar baru asrama haji.
Menurutnya, perubahan identitas harus diikuti peningkatan nyata dalam pelayanan dan pengelolaan.
“Justru asrama haji atau Grand El-Hajj yang harus terkenal dalam penyelenggaraan haji,” katanya.
Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri, Nurchalis, menilai asrama haji merupakan infrastruktur strategis untuk mendukung penyelenggaraan haji.
Selain melayani jemaah, asrama haji memiliki potensi pemanfaatan untuk kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, dan kegiatan masyarakat lainnya.
Pengembangannya, menurut Nurchalis, membutuhkan penguatan tata kelola, sumber daya manusia, digitalisasi, serta model pengelolaan yang berkelanjutan.
Rakor tersebut mengundang 70 peserta yang terdiri dari pengelola asrama haji seluruh Indonesia serta pejabat dan pegawai di lingkungan Kemenhaj.
Forum ini ditujukan untuk menyelaraskan visi pengelolaan, menyusun program prioritas dan indikator kinerja, serta menghasilkan rekomendasi kebijakan dan rencana strategis pengembangan asrama haji.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.