Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Didaulat Sebagai Rais Syuriyah PBNU, Kiai Imjaz Siap Kawal Tranformasi Dakwah Abad Kedua NU

Kompas.com, 4 Oktober 2026, 21:13 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Rais Syuriyah PBNU sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli Lc MA, menyoroti urgensi transformasi dakwah di era digital yang menuntut adaptasi tanpa mengabaikan fondasi keilmuan dan nilai Aswaja An-Nahdliyah.

Perubahan teknologi digital tidak hanya memindahkan dai dari mimbar ke gawai, tetapi juga menggeser cara masyarakat mencari pengetahuan, memilih sumber informasi, dan menerima pesan keagamaan.

Untuk merespons hal ini, Imam Jazuli Foundation telah mengembangkan program transformasi dai, termasuk Workshop Nasional Dai Transformatif di Tengah Perubahan Disruptif yang diikuti 700 pendakwah pada September 2026.

Baca juga: Kiai Imjaz Masuk Syuriyah PBNU, Siap Kawal Penguatan Otoritas Ulama dan Transformasi Pesantren

Tantangan dan Program Transformasi

Kiai Imam Jazuli, yang akrab disapa Kiai Imjaz, menjelaskan bahwa tantangan dakwah saat ini bukan sekadar kekurangan materi keagamaan, melainkan bagaimana ilmu yang benar dapat bertemu dengan masyarakat yang cara belajar, berpikir, berkomunikasi, dan mengonsumsi informasinya telah berubah.

"Dunia dakwah sedang berubah. Media dan masyarakatnya berubah. Cara mereka mencari pengetahuan berubah. Bahkan, cara mereka menentukan siapa yang layak didengarkan pun berubah. Saya tergerak untuk mengawal transformasi dakwah yang relate dengan kebutuhan zaman," kata Kiai Imam Jazuli dalam keterangan pers, Minggu (4/10/2026).

Program yang ditargetkan menjangkau 5.000 dai nasional melalui seleksi berbasis portofolio dan kompetensi ini dijadwalkan kembali berlangsung di Provinsi Banten pada 18 Oktober 2026.

Esensi Perubahan Dakwah

Kiai Imjaz menegaskan, transformasi dakwah tidak hanya sebatas mengganti media ceramah.

Perubahan yang diperlukan mencakup cara memahami masyarakat, menyusun pesan, memilih bahasa, serta saluran media yang relevan.

Menurutnya, ilmu mendalam dapat kehilangan daya jangkau jika disampaikan dengan metode yang tidak sesuai karakter audiens.

"Dakwah tidak cukup bertanya apa yang ingin disampaikan. Kita juga harus bertanya kepada siapa pesan itu disampaikan, bagaimana pesan tersebut diterima, dan perubahan apa yang lahir setelah pesan itu diterima," ujarnya.

Dilema Digital dan Ulama Digital

Perpindahan ruang publik ke ekosistem digital seperti YouTube, TikTok, Instagram, dan podcast telah mengaburkan batas geografis antara dai dan jemaah.

Namun, fenomena ini juga melahirkan paradoks: banyak ulama senior kesulitan menjangkau generasi baru, sementara muncul "dai instan" yang piawai menggunakan media sosial, video pendek, branding, dan algoritma namun belum tentu memiliki kedalaman ilmu.

"Yang paling banyak didengar belum tentu yang paling dalam ilmunya," kata Rais PBNU ini.

Kiai Imjaz mendorong lahirnya ulama digital yang menguasai khazanah keislaman, memahami persoalan kontemporer, mampu membaca karakter generasi muda, dan menerjemahkan tradisi keilmuan ke dalam bahasa serta media yang dipahami masyarakat luas.

Ulama digital harus mampu menjaga kedalaman ilmu, ketepatan konteks, dan kecakapan komunikasi.

Kredibilitas dan Revitalisasi

Kiai Imam Jazuli, yang baru dipercaya sebagai Rais Syuriyah PBNU masa khidmah 2026-231, mengingatkan bahwa viralitas tidak dapat menjadi ukuran utama keberhasilan dakwah.

Dakwah digital membutuhkan keseimbangan antara popularitas dan otoritas, memastikan informasi memiliki landasan keilmuan yang kuat.

Dai masa kini tidak cukup pandai berbicara, tetapi juga perlu mampu memilah informasi, memeriksa sumber, membaca konteks, membedakan fakta dan opini, serta menyusun tim media yang bekerja cepat untuk mengolah pengetahuan agama yang bertanggung jawab.

Ia juga menekankan revitalisasi orientasi dakwah NU agar tidak terjebak pada kemeriahan acara, melainkan bergerak menuju pemberdayaan umat dan penyelesaian persoalan kehidupan.

Prinsip dan Prospek Dakwah

Gagasan Kiai Imam Jazuli tentang transformasi dakwah bermuara pada prinsip "berubah tanpa kehilangan akar." Dakwah harus tetap memiliki sanad, tetapi tidak boleh gagap teknologi.

Baca juga: Kiai Imjaz, Gus Yahya, dan Gus Yusuf Hadir di PMKNU Cirebon, Sinyal Panas Menuju Muktamar NU 2026

Transformasi digital, menurut Kiai Imjaz, seharusnya bukan ancaman terhadap tradisi, melainkan kesempatan memperluas khidmah. Hal ini memerlukan keberanian merangkul generasi muda yang memiliki talenta dalam pengelolaan media, teknologi, dan komunikasi profesional.

Oleh karena itu, transformasi dakwah membutuhkan ekosistem dan tata kelola profesional, melibatkan tim yang memahami produksi konten, desain, strategi distribusi, literasi data, dan digital.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Didaulat Sebagai Rais Syuriyah PBNU, Kiai Imjaz Siap Kawal Tranformasi Dakwah Abad Kedua NU
Didaulat Sebagai Rais Syuriyah PBNU, Kiai Imjaz Siap Kawal Tranformasi Dakwah Abad Kedua NU
Aktual
MUI Kritik Usulan Sex Toy di Lapas: Tidak Patut Disampaikan Wakil Rakyat
MUI Kritik Usulan Sex Toy di Lapas: Tidak Patut Disampaikan Wakil Rakyat
Aktual
Cholil Nafis: Menikmati Ibadah Perlu Latihan dan Pembiasaan
Cholil Nafis: Menikmati Ibadah Perlu Latihan dan Pembiasaan
Aktual
Olah Eceng Gondok, Lulusan UIN Bandung Terpilih Belajar di Inggris
Olah Eceng Gondok, Lulusan UIN Bandung Terpilih Belajar di Inggris
Aktual
Kemenag: 4,63 Juta Santri Terverifikasi, Bukan Angka Final Jumlah Santri Nasional
Kemenag: 4,63 Juta Santri Terverifikasi, Bukan Angka Final Jumlah Santri Nasional
Aktual
Belajar dari Nabi Yusuf, Kendalikan Krisis Ekonomi dan Pangan
Belajar dari Nabi Yusuf, Kendalikan Krisis Ekonomi dan Pangan
Aktual
'Hanya Bercanda' Bukan Alasan Menyakiti Orang Lain, Ini Batasannya dalam Islam
"Hanya Bercanda" Bukan Alasan Menyakiti Orang Lain, Ini Batasannya dalam Islam
Aktual
Di Madrasah Fakfak, Buku dan Listrik Terbatas, Ada Kelas Tanpa Papan Tulis
Di Madrasah Fakfak, Buku dan Listrik Terbatas, Ada Kelas Tanpa Papan Tulis
Aktual
Anggota DPR Usulkan Sex Toy di Lapas, MUI: Haram
Anggota DPR Usulkan Sex Toy di Lapas, MUI: Haram
Aktual
Menag Ajak Masyarakat Jadi Agen Perlinsos, Ini Cara Daftarnya
Menag Ajak Masyarakat Jadi Agen Perlinsos, Ini Cara Daftarnya
Aktual
Kiai Adrian La Tansa: Membangun Keluarga Perlu Kerja Sama Suami Istri
Kiai Adrian La Tansa: Membangun Keluarga Perlu Kerja Sama Suami Istri
Aktual
MUI Tegaskan 'Sex Toy' bagi Warga Binaan Lapas Hukumnya Haram
MUI Tegaskan "Sex Toy" bagi Warga Binaan Lapas Hukumnya Haram
Aktual
Rekrutmen Pejabat Publik dalam Islam: Prinsip, Kriteria, dan Dalilnya
Rekrutmen Pejabat Publik dalam Islam: Prinsip, Kriteria, dan Dalilnya
Aktual
Penjelasan Mati Syahid dalam Islam: Pengertian, Jenis Penyebab, dan Dalilnya
Penjelasan Mati Syahid dalam Islam: Pengertian, Jenis Penyebab, dan Dalilnya
Aktual
Kiai Imjaz Masuk Syuriyah PBNU, Siap Kawal Penguatan Otoritas Ulama dan Transformasi Pesantren
Kiai Imjaz Masuk Syuriyah PBNU, Siap Kawal Penguatan Otoritas Ulama dan Transformasi Pesantren
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar