Editor
KOMPAS.com - Rais Syuriyah PBNU sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli Lc MA, menyoroti urgensi transformasi dakwah di era digital yang menuntut adaptasi tanpa mengabaikan fondasi keilmuan dan nilai Aswaja An-Nahdliyah.
Perubahan teknologi digital tidak hanya memindahkan dai dari mimbar ke gawai, tetapi juga menggeser cara masyarakat mencari pengetahuan, memilih sumber informasi, dan menerima pesan keagamaan.
Untuk merespons hal ini, Imam Jazuli Foundation telah mengembangkan program transformasi dai, termasuk Workshop Nasional Dai Transformatif di Tengah Perubahan Disruptif yang diikuti 700 pendakwah pada September 2026.
Baca juga: Kiai Imjaz Masuk Syuriyah PBNU, Siap Kawal Penguatan Otoritas Ulama dan Transformasi Pesantren
Kiai Imam Jazuli, yang akrab disapa Kiai Imjaz, menjelaskan bahwa tantangan dakwah saat ini bukan sekadar kekurangan materi keagamaan, melainkan bagaimana ilmu yang benar dapat bertemu dengan masyarakat yang cara belajar, berpikir, berkomunikasi, dan mengonsumsi informasinya telah berubah.
"Dunia dakwah sedang berubah. Media dan masyarakatnya berubah. Cara mereka mencari pengetahuan berubah. Bahkan, cara mereka menentukan siapa yang layak didengarkan pun berubah. Saya tergerak untuk mengawal transformasi dakwah yang relate dengan kebutuhan zaman," kata Kiai Imam Jazuli dalam keterangan pers, Minggu (4/10/2026).
Program yang ditargetkan menjangkau 5.000 dai nasional melalui seleksi berbasis portofolio dan kompetensi ini dijadwalkan kembali berlangsung di Provinsi Banten pada 18 Oktober 2026.
Kiai Imjaz menegaskan, transformasi dakwah tidak hanya sebatas mengganti media ceramah.
Perubahan yang diperlukan mencakup cara memahami masyarakat, menyusun pesan, memilih bahasa, serta saluran media yang relevan.
Menurutnya, ilmu mendalam dapat kehilangan daya jangkau jika disampaikan dengan metode yang tidak sesuai karakter audiens.
"Dakwah tidak cukup bertanya apa yang ingin disampaikan. Kita juga harus bertanya kepada siapa pesan itu disampaikan, bagaimana pesan tersebut diterima, dan perubahan apa yang lahir setelah pesan itu diterima," ujarnya.
Perpindahan ruang publik ke ekosistem digital seperti YouTube, TikTok, Instagram, dan podcast telah mengaburkan batas geografis antara dai dan jemaah.
Namun, fenomena ini juga melahirkan paradoks: banyak ulama senior kesulitan menjangkau generasi baru, sementara muncul "dai instan" yang piawai menggunakan media sosial, video pendek, branding, dan algoritma namun belum tentu memiliki kedalaman ilmu.
"Yang paling banyak didengar belum tentu yang paling dalam ilmunya," kata Rais PBNU ini.
Kiai Imjaz mendorong lahirnya ulama digital yang menguasai khazanah keislaman, memahami persoalan kontemporer, mampu membaca karakter generasi muda, dan menerjemahkan tradisi keilmuan ke dalam bahasa serta media yang dipahami masyarakat luas.
Ulama digital harus mampu menjaga kedalaman ilmu, ketepatan konteks, dan kecakapan komunikasi.
Kiai Imam Jazuli, yang baru dipercaya sebagai Rais Syuriyah PBNU masa khidmah 2026-231, mengingatkan bahwa viralitas tidak dapat menjadi ukuran utama keberhasilan dakwah.
Dakwah digital membutuhkan keseimbangan antara popularitas dan otoritas, memastikan informasi memiliki landasan keilmuan yang kuat.
Dai masa kini tidak cukup pandai berbicara, tetapi juga perlu mampu memilah informasi, memeriksa sumber, membaca konteks, membedakan fakta dan opini, serta menyusun tim media yang bekerja cepat untuk mengolah pengetahuan agama yang bertanggung jawab.
Ia juga menekankan revitalisasi orientasi dakwah NU agar tidak terjebak pada kemeriahan acara, melainkan bergerak menuju pemberdayaan umat dan penyelesaian persoalan kehidupan.
Gagasan Kiai Imam Jazuli tentang transformasi dakwah bermuara pada prinsip "berubah tanpa kehilangan akar." Dakwah harus tetap memiliki sanad, tetapi tidak boleh gagap teknologi.
Baca juga: Kiai Imjaz, Gus Yahya, dan Gus Yusuf Hadir di PMKNU Cirebon, Sinyal Panas Menuju Muktamar NU 2026
Transformasi digital, menurut Kiai Imjaz, seharusnya bukan ancaman terhadap tradisi, melainkan kesempatan memperluas khidmah. Hal ini memerlukan keberanian merangkul generasi muda yang memiliki talenta dalam pengelolaan media, teknologi, dan komunikasi profesional.
Oleh karena itu, transformasi dakwah membutuhkan ekosistem dan tata kelola profesional, melibatkan tim yang memahami produksi konten, desain, strategi distribusi, literasi data, dan digital.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.