KOMPAS.com - Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dipercaya menjalankan tugas diplomatik.
Rasulullah SAW mengutusnya membawa surat kepada Heraklius, penguasa Romawi, untuk menyampaikan ajakan kepada Islam.
Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah mencatat Dihyah sebagai sahabat yang telah memeluk Islam sejak awal.
Ia tidak mengikuti Perang Badar, tetapi mengikuti berbagai peperangan setelahnya. Ibn Sa'd dalam At-Ṭabaqāt al-Kubrā juga mencatat Dihyah sebagai sahabat Nabi dari Bani Kalb yang kemudian tinggal di wilayah Syam.
Dihyah dikenal sebagai Dihyah bin Khalifah bin Farwah Al-Kalbi. Riwayat biografinya menunjukkan bahwa ia termasuk sahabat yang dipercaya Rasulullah SAW untuk menjalankan tugas penting.
Baca juga: Apa Itu Peradaban Islam? Ini Prinsip yang Diajarkan Al-Quran
Salah satu tugas tersebut adalah menyampaikan surat Rasulullah SAW kepada penguasa Romawi.
Dalam riwayat Sahih al-Bukhari, surat itu dibawa Dihyah kepada penguasa Busra. Surat tersebut kemudian diteruskan kepada Heraklius untuk dibaca.
Tugas tersebut menunjukkan bahwa penyampaian dakwah pada masa Nabi juga dilakukan melalui hubungan dan komunikasi dengan para penguasa.
Dihyah menjadi salah satu sahabat yang menjalankan peran tersebut.
Dihyah Al-Kalbi dikenal sebagai sahabat Nabi yang memiliki rupa sangat elok. Keistimewaan ini berkaitan dengan riwayat bahwa Malaikat Jibril AS kerap datang kepada Rasulullah SAW dalam rupa Dihyah.
Dalam Sahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
وَرَأَيْتُ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا دَحْيَةُ
Artinya: “Dan aku melihat Jibril AS, ternyata orang yang paling mirip dengannya dari yang pernah aku lihat adalah Dihyah.” (Sahih Muslim).
Baca juga: Kemenag Tegaskan Data Santri Terverifikasi Capai 4,63 Juta, Bukan 1,7 Juta
Riwayat tersebut menunjukkan bahwa rupa Dihyah menjadi bentuk manusia yang sangat mirip dengan rupa Jibril ketika menampakkan diri.
Dalam riwayat lain, Ummu Salamah RA bahkan mengira Jibril yang datang menemui Nabi Muhammad SAW adalah Dihyah Al-Kalbi.
Ia baru mengetahui bahwa sosok tersebut adalah Jibril setelah Rasulullah SAW menjelaskan kepadanya.
Kisah pengutusan Dihyah kepada Heraklius terdapat dalam hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas RA melalui Abu Sufyan.
Dalam hadis tersebut, Heraklius sedang berada di Iliya ketika menerima kabar mengenai Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah SAW menulis surat kepada Kaisar Romawi dan mengutus Dihyah untuk membawanya. Dalam Sahih al-Bukhari No. 4553 disebutkan:
حَدَّثَنِي أَبُو سُفْيَانَ بْنُ حَرْبٍ أَنَّهُ كَانَ بِالشَّأْمِ فِي رِجَالٍ مِنْ قُرَيْشٍ، قَدِمُوا فِي مُدَّةِ الْهُدْنَةِ الَّتِي كَانَتْ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَبِي سُفْيَانَ وَكُفَّارِ قُرَيْشٍ، فَجَاءَ كِتَابُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِلَى هِرَقْلَ، فَدَفَعَهُ دِحْيَةُ الْكَلْبِيُّ إِلَى عَظِيمِ بُصْرَى، فَدَفَعَهُ عَظِيمُ بُصْرَى إِلَى هِرَقْلَ
Haddatsanī Abū Sufyāna binu Ḥarbin annahū kāna bisy-Syāmi fī rijālin min Quraisyin, qadimū fī muddati al-hudnati allatī kānat baina Rasūlillāhi shallallāhu ‘alaihi wa sallama wa Abī Sufyāna wa kuffāri Quraisyin, fajī’a kitābun nabiyyi shallallāhu ‘alaihi wa sallama ilā Hiraqla, fadafa‘ahu Diḥyatul-Kalbiyyu ilā ‘aẓīmi Buṣrā, fadafa‘ahu ‘aẓīmu Buṣrā ilā Hiraqla.
Baca juga: 2 Tahun Pemerintahan Prabowo: Perubahan Besar Kebijakan Haji Indonesia
Artinya: “Abu Sufyan bin Harb mengabarkan bahwa ketika ia berada di Syam bersama beberapa orang Quraisy pada masa gencatan senjata antara Rasulullah SAW dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy, datang surat Nabi SAW kepada Heraklius. Dihyah Al-Kalbi menyerahkan surat itu kepada penguasa Busra, kemudian penguasa Busra menyerahkannya kepada Heraklius.” (Sahih al-Bukhari Nomor 4553)
Setelah surat tersebut sampai kepada Heraklius, ia mencari orang dari kaum Nabi Muhammad SAW untuk ditanyai mengenai sosok yang mengaku sebagai nabi.
Saat itu, Abu Sufyan bersama rombongan Quraisy dipanggil menghadap Heraklius.
Kaisar Romawi tersebut kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai nasab Nabi Muhammad SAW, kejujuran, pengikut, ajaran, dan perjalanan dakwahnya.
Baca juga: Nyai Machfudhoh Aly Ubaid Wafat, Jejak Pengabdian untuk Santri dan Perempuan NU
Jawaban Abu Sufyan menjadi dasar bagi Heraklius untuk menilai tanda-tanda kenabian Muhammad SAW.
Riwayat yang sama kemudian memuat pernyataan Heraklius bahwa jika keterangan tersebut benar, Muhammad adalah seorang nabi.
Ia kemudian meminta surat Rasulullah SAW yang sebelumnya dibawa Dihyah kepada penguasa Busra.
Dalam Sahih al-Bukhari Nomor 7, disebutkan bahwa Heraklius membaca surat Rasulullah SAW yang dibawa Dihyah. Surat tersebut berisi ajakan kepada Islam.
Bagian surat yang disebutkan dalam hadis berbunyi:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ أَسْلِمْ تَسْلَمْ وَأَسْلِمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Min Muḥammadin ‘abdillāhi wa rasūlihi ilā Hiraqla ‘aẓīmir-Rūm. Salāmun ‘alā manittaba‘al-hudā. Ammā ba‘du fa innī ad‘ūka bidi‘āyatil-Islām. Aslim taslam, wa aslim yu’tikallāhu ajraka marratain.
Baca juga: FAI UMS Hadir di IIEF 2026, Tawarkan Beasiswa dan Pengalaman VR
Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Heraklius, penguasa Romawi. Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba'du, sesungguhnya aku mengajakmu kepada ajaran Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau selamat, dan masuk Islamlah, Allah akan memberimu pahala dua kali.”
Surat tersebut memperlihatkan bahwa dakwah Rasulullah SAW kepada penguasa dilakukan melalui penyampaian pesan yang jelas.
Dihyah menjalankan peran sebagai pembawa pesan tersebut kepada pihak yang dituju.
Setelah mendengar keterangan Abu Sufyan dan membaca surat Rasulullah SAW, Heraklius menyampaikan penilaiannya mengenai Nabi Muhammad SAW.
Dalam riwayat Sahih al-Bukhari Nomor 7, Heraklius menyatakan bahwa jika keterangan yang disampaikan Abu Sufyan benar, Nabi Muhammad SAW akan menguasai wilayah yang berada di bawah kakinya.
Ia juga menyatakan telah mengetahui bahwa seorang nabi akan muncul, meski tidak menyangka nabi tersebut berasal dari bangsa Arab.
Namun, pengakuan tersebut tidak berujung pada keislaman Heraklius. Hadis yang sama menceritakan bahwa setelah menyampaikan pendapatnya kepada para pembesar Romawi, Heraklius menguji keteguhan mereka dan akhirnya tidak mengikuti ajakan tersebut.
Baca juga: Lebaran 2027 Tanggal Berapa? Ini Jadwal Idul Fitri dan Cuti Bersama, Catat Juga Puasa 2027
Dihyah tidak hanya menjalankan tugas sebagai utusan Rasulullah SAW. Ibn Hajar mencatat bahwa ia turut mengikuti berbagai peristiwa setelah Perang Badar dan kemudian ikut dalam Perang Yarmuk.
Ibn Sa'd juga mencatat Dihyah dalam kelompok sahabat yang tinggal di Syam.
Riwayat tentang kehidupannya setelah masa Rasulullah SAW menunjukkan bahwa ia tetap berperan dalam berbagai peristiwa pada masa berikutnya.
Kisah Dihyah Al-Kalbi menunjukkan bahwa sahabat Nabi memiliki peran yang beragam. Selain berperang dan meriwayatkan ilmu, sebagian sahabat dipercaya menjalankan tugas komunikasi dengan penguasa di luar wilayah Arab.
Dihyah menjadi salah satu contoh sahabat yang menjalankan amanah tersebut dengan membawa pesan Rasulullah SAW kepada Heraklius.
Baca juga: Adab Menuntut Ilmu dalam Islam, Bukan Sekadar Rajin Belajar
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.