KOMPAS.com - Julaibib merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenang melalui riwayat tentang pernikahan, keberanian di medan perang, dan penghormatan Rasulullah SAW kepadanya.
Kisahnya memperlihatkan bahwa latar belakang sosial seseorang tidak menghalanginya untuk memperoleh penghargaan.
Riwayat tentang Julaibib tercatat dalam literatur hadis, termasuk Sahih Muslim dan Musnad Ahmad.
Dua peristiwa yang menonjol ialah ketika Rasulullah SAW mencarikan pasangan untuknya dan ketika Nabi secara langsung mencari keberadaannya setelah pertempuran.
Julaibib, yang juga ditulis Julaybib dalam sejumlah sumber berbahasa Inggris, dikenal melalui riwayat para sahabat.
Ibn Hajar al-Asqalani mencatat namanya dalam kitab Al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah.
Informasi mengenai nasab dan asal-usul keluarganya tidak tercatat secara lengkap sehingga penulisannya perlu menghindari penambahan nama ayah atau garis keturunan yang tidak terverifikasi.
Baca juga: Hukum Menerima Hadiah dari Orang yang Berutang, Apakah Termasuk Riba?
Kisah Julaibib menjadi perhatian karena riwayat tentang dirinya tidak hanya membicarakan peperangan, tetapi juga penerimaan sosial dan pernikahan.
Namun, detail mengenai kehidupannya perlu dibedakan berdasarkan kekuatan sumber agar cerita populer yang tidak memiliki landasan memadai tidak dianggap sebagai fakta sejarah.
Dalam riwayat yang dihimpun Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW mengajukan lamaran kepada seorang laki-laki Ansar agar putrinya menikah dengan Julaibib.
Ayah perempuan tersebut menyambut permintaan Rasulullah SAW dengan hormat.
Namun, ketika ia menyampaikan maksud itu kepada istrinya, sang ibu keberatan setelah mengetahui bahwa calon suami putrinya adalah Julaibib.
Keberatan tersebut menunjukkan adanya penolakan terhadap Julaibib sebagai calon menantu.
Baca juga: Bandara Riyadh Diserang, Keselamatan Jemaah Umrah Jadi Sorotan
Perempuan itu mendengar percakapan orang tuanya. Ia kemudian mempertanyakan apakah mereka akan menolak permintaan Rasulullah SAW.
Ia bersedia menerima pernikahan tersebut karena meyakini bahwa Nabi tidak akan memilihkan sesuatu yang membawa keburukan baginya.
Ayahnya lalu kembali kepada Rasulullah SAW dan menyetujui pernikahan itu.
Riwayat yang sama menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menikahkan perempuan tersebut dengan Julaibib.
Identitas perempuan itu tidak disebutkan secara jelas dalam riwayat yang menjadi rujukan, sehingga namanya tidak perlu ditambahkan berdasarkan cerita yang belum terverifikasi.
Anas bin Malik RA juga menyampaikan bahwa perempuan tersebut kemudian dikenal sebagai bagian dari rumah tangga yang paling banyak mengeluarkan sedekah di Madinah.
Keterangan ini menjadi bagian penting dari riwayat pernikahan Julaibib.
Baca juga: Masa Tunggu Haji di Sulteng Jadi 14 Tahun, Kuota 2027 Malah Berkurang
Kisah tersebut dapat dipahami sebagai gambaran penerimaan terhadap seseorang yang semula ditolak oleh calon keluarga istrinya.
Meski demikian, penyebutan perempuan itu sebagai sosok paling cantik atau paling mulia tidak boleh dinyatakan sebagai fakta apabila tidak didukung sumber yang jelas.
Riwayat sahih mengenai akhir hayat Julaibib terdapat dalam Sahih Muslim nomor 2472.
Abu Barzah al-Aslami RA meriwayatkan bahwa setelah suatu pertempuran, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat apakah ada orang yang belum ditemukan.
Setelah beberapa nama disebutkan dan para sahabat menyatakan tidak ada lagi yang hilang, Rasulullah SAW mengatakan bahwa Julaibib belum ditemukan.
Nabi kemudian meminta para sahabat mencarinya di antara orang-orang yang gugur.
Baca juga: Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah di Arab Saudi Waspada, Ini Pesan Penting bagi yang Belum Berangkat
Julaibib akhirnya ditemukan di dekat tujuh orang yang telah dibunuhnya sebelum ia sendiri terbunuh. Rasulullah SAW mendatangi jenazahnya dan bersabda:
قَتَلَ سَبْعَةً ثُمَّ قَتَلُوهُ، هَذَا مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ
Qatala sab'atan tsumma qatalūhu, hādzā minnī wa anā minhu.
Artinya: “Ia membunuh tujuh orang, kemudian mereka membunuhnya. Ia bagian dariku dan aku bagian darinya.” (HR Muslim, Sahih Muslim 2472).
Riwayat tersebut juga menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mengangkat jenazah Julaibib dengan kedua lengan beliau hingga dimakamkan.
Kisah Julaibib memperlihatkan dua sisi kehidupannya yang dikenang melalui riwayat: pernikahan yang sempat menghadapi penolakan dan pengorbanannya di medan perang.
Rasulullah SAW memberikan perhatian kepadanya, baik ketika mencarikan pasangan maupun ketika memastikan keberadaannya setelah pertempuran.
Baca juga: Apakah Anak Wajib Melunasi Utang Orangtua yang Meninggal?
Bagi umat Islam, kisah Julaibib menjadi pengingat untuk tidak mengukur nilai seseorang hanya berdasarkan latar belakang atau penerimaan sosial.
Kemuliaan dalam Islam perlu dipahami melalui iman, amal, dan ketakwaan, sementara setiap kisah sejarah harus tetap disampaikan sesuai bukti riwayat yang tersedia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.