KOMPAS.com - Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Aly Aulia, mengingatkan bahwa tanggung jawab ayah dalam keluarga tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan finansial. Anak juga membutuhkan kehadiran emosional, komunikasi, dan keteladanan dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan Aly dalam kajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Senin (12/10/2026). Menurut dia, kesibukan mencari nafkah perlu diimbangi dengan keterlibatan dalam pengasuhan agar anak tidak hanya memperoleh fasilitas hidup, tetapi juga perhatian dan pendidikan karakter dari keluarga.
Aly menyoroti kondisi ketika orang tua berhasil meningkatkan kesejahteraan keluarga, tetapi kehilangan waktu untuk membangun kedekatan dengan anak dan pasangan. Rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih baik, serta pendidikan berkualitas belum tentu menjamin hubungan keluarga berjalan dengan baik.
Baca juga: Abu Talhah Al-Anshari, Sahabat yang Sedekahkan Kebun Kesayangannya
Ia menggambarkan orang tua yang berangkat bekerja sebelum anak bangun dan pulang setelah anak tidur. Bahkan ketika berada di rumah, pikiran mereka masih tersita oleh pekerjaan.
“Sebetulnya nih kita sedang membangun kehidupan keluarga atau hanya sebetulnya menjadi ATM keluarga ini?” kata Aly, dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, mencari nafkah merupakan aktivitas yang dapat bernilai ibadah. Namun, tanggung jawab tersebut perlu berjalan beriringan dengan perhatian, pendampingan, dan komunikasi bersama anak.
Aly turut menyinggung fenomena fatherless, yakni keadaan ketika seorang anak memiliki ayah, tetapi tidak merasakan kehadirannya dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pemenuhan kebutuhan materi perlu diimbangi dengan keterlibatan orang tua dalam pengasuhan.
Baca juga: Hukum Menggunakan Barang Milik Bersama Tanpa Izin, Bagaimana dalam Islam?
Kehadiran ayah bukan hanya persoalan tinggal serumah dengan anak. Orang tua juga perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita, memahami kebutuhan anak, serta mendampingi mereka menghadapi persoalan sehari-hari.
Keterlibatan tersebut membantu membangun kedekatan antara orang tua dan anak. Karena itu, kesibukan bekerja perlu ditata agar tidak menghilangkan kesempatan untuk menjalankan tanggung jawab pengasuhan.
Aly menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberikan sejumlah gambaran mengenai komunikasi antara orang tua dan anak. Ia menyebut terdapat 17 ayat yang menggambarkan komunikasi tersebut, dengan 14 di antaranya menampilkan komunikasi ayah dan anak.
Ia mencontohkan dialog Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail, Nabi Ya'qub dengan Nabi Yusuf, serta Luqman dengan putranya. Kisah-kisah tersebut memperlihatkan pentingnya percakapan, nasihat, dan penanaman nilai dalam pendidikan keluarga.
Baca juga: Membawa Pulang Makanan dari Acara Tanpa Izin, Bagaimana Hukumnya?
Menurut Aly, ayah perlu mengambil bagian dalam pendidikan anak, termasuk membangun keimanan, mengajarkan kejujuran, dan menanamkan kebiasaan berbuat baik. Pendidikan keluarga tidak cukup diukur dari kemampuan menyediakan fasilitas karena anak juga membutuhkan bimbingan untuk memahami nilai yang benar dan tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat.
Selain kehadiran, Aly mengajak orang tua memikirkan warisan yang akan ditinggalkan kepada anak. Warisan keluarga tidak selalu berupa uang, rumah, atau aset lainnya. Nilai-nilai yang ditanamkan melalui keteladanan dapat terus hidup dalam perilaku generasi berikutnya.
Ia mencontohkan kisah Nabi Ya'qub dalam Surah Al-Baqarah ayat 133, yang menggambarkan perhatian Nabi Ya'qub terhadap keyakinan anak-anaknya. Menurut Aly, orang tua perlu memperhatikan keberlanjutan iman dan karakter anak, selain memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Baca juga: Barang Pinjaman Rusak Saat Dipakai, Siapa yang Wajib Mengganti?
Keteladanan dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana, seperti menjaga amanah, bersikap sabar, berbagi dengan sesama, dan menjalankan ibadah. Anak tidak hanya menerima nasihat secara lisan, tetapi juga melihat langsung bagaimana orang tua menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Karena harta ayah mungkin saja terbatas, tapi nilai kebaikan yang ditanamkan terus bertumbuh,” jelas Aly.
Aly mengajak orang tua mengevaluasi apakah kehadiran mereka telah membawa manfaat bagi keluarga. Evaluasi dapat dimulai dengan memperhatikan kecukupan waktu bersama anak, komunikasi di rumah, serta nilai-nilai yang dicontohkan dalam keseharian.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak menunda kebaikan sampai pekerjaan lebih longgar atau kondisi ekonomi semakin mapan. Kesibukan tetap dapat dijalankan, tetapi perlu ditata agar tanggung jawab kepada keluarga tidak terabaikan.
Baca juga: Jangan Tunggu Pensiun untuk Beribadah, Kesibukan Bisa Menjadi Bekal Akhirat
Kerja keras dan keberhasilan ekonomi tetap penting untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, keduanya perlu berjalan bersama keterlibatan dalam pengasuhan. Ayah tidak hanya bertanggung jawab menyediakan kebutuhan hidup, tetapi juga mendampingi anak membangun iman, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama.
Dengan demikian, kehadiran dan keteladanan menjadi bagian penting dari tanggung jawab ayah. Keluarga tidak hanya membutuhkan pencari nafkah, tetapi juga sosok yang hadir, mendengarkan, membimbing, dan memberikan contoh kebaikan bagi anak-anaknya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.