Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Muhammadiyah: Ayah Bukan Mesin ATM, Anak Butuh Kehadiran dan Keteladanan

Kompas.com, 13 Oktober 2026, 17:22 WIB
Puji Sri Rahayu,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Aly Aulia, mengingatkan bahwa tanggung jawab ayah dalam keluarga tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan finansial. Anak juga membutuhkan kehadiran emosional, komunikasi, dan keteladanan dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan Aly dalam kajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Senin (12/10/2026). Menurut dia, kesibukan mencari nafkah perlu diimbangi dengan keterlibatan dalam pengasuhan agar anak tidak hanya memperoleh fasilitas hidup, tetapi juga perhatian dan pendidikan karakter dari keluarga.

Ayah Bukan Sekadar Mesin ATM Keluarga

Aly menyoroti kondisi ketika orang tua berhasil meningkatkan kesejahteraan keluarga, tetapi kehilangan waktu untuk membangun kedekatan dengan anak dan pasangan. Rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih baik, serta pendidikan berkualitas belum tentu menjamin hubungan keluarga berjalan dengan baik.

Baca juga: Abu Talhah Al-Anshari, Sahabat yang Sedekahkan Kebun Kesayangannya

Ia menggambarkan orang tua yang berangkat bekerja sebelum anak bangun dan pulang setelah anak tidur. Bahkan ketika berada di rumah, pikiran mereka masih tersita oleh pekerjaan.

“Sebetulnya nih kita sedang membangun kehidupan keluarga atau hanya sebetulnya menjadi ATM keluarga ini?” kata Aly, dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Selasa (13/10/2026).

Menurutnya, mencari nafkah merupakan aktivitas yang dapat bernilai ibadah. Namun, tanggung jawab tersebut perlu berjalan beriringan dengan perhatian, pendampingan, dan komunikasi bersama anak.

Anak Membutuhkan Kehadiran Emosional Ayah

Aly turut menyinggung fenomena fatherless, yakni keadaan ketika seorang anak memiliki ayah, tetapi tidak merasakan kehadirannya dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pemenuhan kebutuhan materi perlu diimbangi dengan keterlibatan orang tua dalam pengasuhan.

Baca juga: Hukum Menggunakan Barang Milik Bersama Tanpa Izin, Bagaimana dalam Islam?

Kehadiran ayah bukan hanya persoalan tinggal serumah dengan anak. Orang tua juga perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita, memahami kebutuhan anak, serta mendampingi mereka menghadapi persoalan sehari-hari.

Keterlibatan tersebut membantu membangun kedekatan antara orang tua dan anak. Karena itu, kesibukan bekerja perlu ditata agar tidak menghilangkan kesempatan untuk menjalankan tanggung jawab pengasuhan.

Al-Qur'an Mengajarkan Komunikasi Ayah dan Anak

Aly menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberikan sejumlah gambaran mengenai komunikasi antara orang tua dan anak. Ia menyebut terdapat 17 ayat yang menggambarkan komunikasi tersebut, dengan 14 di antaranya menampilkan komunikasi ayah dan anak.

Ia mencontohkan dialog Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail, Nabi Ya'qub dengan Nabi Yusuf, serta Luqman dengan putranya. Kisah-kisah tersebut memperlihatkan pentingnya percakapan, nasihat, dan penanaman nilai dalam pendidikan keluarga.

Baca juga: Membawa Pulang Makanan dari Acara Tanpa Izin, Bagaimana Hukumnya?

Menurut Aly, ayah perlu mengambil bagian dalam pendidikan anak, termasuk membangun keimanan, mengajarkan kejujuran, dan menanamkan kebiasaan berbuat baik. Pendidikan keluarga tidak cukup diukur dari kemampuan menyediakan fasilitas karena anak juga membutuhkan bimbingan untuk memahami nilai yang benar dan tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat.

Keteladanan Menjadi Warisan bagi Anak

Selain kehadiran, Aly mengajak orang tua memikirkan warisan yang akan ditinggalkan kepada anak. Warisan keluarga tidak selalu berupa uang, rumah, atau aset lainnya. Nilai-nilai yang ditanamkan melalui keteladanan dapat terus hidup dalam perilaku generasi berikutnya.

Ia mencontohkan kisah Nabi Ya'qub dalam Surah Al-Baqarah ayat 133, yang menggambarkan perhatian Nabi Ya'qub terhadap keyakinan anak-anaknya. Menurut Aly, orang tua perlu memperhatikan keberlanjutan iman dan karakter anak, selain memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Baca juga: Barang Pinjaman Rusak Saat Dipakai, Siapa yang Wajib Mengganti?

Keteladanan dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana, seperti menjaga amanah, bersikap sabar, berbagi dengan sesama, dan menjalankan ibadah. Anak tidak hanya menerima nasihat secara lisan, tetapi juga melihat langsung bagaimana orang tua menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Karena harta ayah mungkin saja terbatas, tapi nilai kebaikan yang ditanamkan terus bertumbuh,” jelas Aly.

Memulai Kebaikan dari Rumah

Aly mengajak orang tua mengevaluasi apakah kehadiran mereka telah membawa manfaat bagi keluarga. Evaluasi dapat dimulai dengan memperhatikan kecukupan waktu bersama anak, komunikasi di rumah, serta nilai-nilai yang dicontohkan dalam keseharian.

Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak menunda kebaikan sampai pekerjaan lebih longgar atau kondisi ekonomi semakin mapan. Kesibukan tetap dapat dijalankan, tetapi perlu ditata agar tanggung jawab kepada keluarga tidak terabaikan.

Baca juga: Jangan Tunggu Pensiun untuk Beribadah, Kesibukan Bisa Menjadi Bekal Akhirat 

Kerja keras dan keberhasilan ekonomi tetap penting untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, keduanya perlu berjalan bersama keterlibatan dalam pengasuhan. Ayah tidak hanya bertanggung jawab menyediakan kebutuhan hidup, tetapi juga mendampingi anak membangun iman, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama.

Dengan demikian, kehadiran dan keteladanan menjadi bagian penting dari tanggung jawab ayah. Keluarga tidak hanya membutuhkan pencari nafkah, tetapi juga sosok yang hadir, mendengarkan, membimbing, dan memberikan contoh kebaikan bagi anak-anaknya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar