Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Dana haji yang dikelola Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mencapai Rp185,73 triliun per September 2026.
Besarnya dana tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi BPKH untuk menjaga keberlanjutan manfaat bagi jemaah haji saat ini maupun calon jemaah pada masa mendatang.
Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Fadlul Imansyah mengatakan, pengelolaan dana haji tidak hanya dituntut menghasilkan nilai manfaat, tetapi juga harus memperhatikan kebutuhan likuiditas, prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap syariah, serta transparansi dan akuntabilitas.
"Tantangan tersebut semakin kompleks di tengah dinamika pasar keuangan global, meningkatnya biaya penyelenggaraan ibadah haji, serta tuntutan masyarakat terhadap pengelolaan dana yang lebih terbuka, " tutur Fadlul dalam rilisnya, Rabu (14/10/2026).
Baca juga: BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, Siap Diaudit Forensik
Persoalan ini akan menjadi salah satu pembahasan dalam 8th International Hajj Fund Forum (IHFF) 2026 yang diselenggarakan BPKH di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Forum yang menjadi bagian dari Indonesia Shariah Economic Festival (ISEF) 2026 tersebut mengangkat tema "Pengelolaan Dana Haji Berkelanjutan Melalui Sinergi Strategis dan Transformasi Digital".
Melalui forum ini, BPKH ingin memperkuat pengelolaan dana haji sebagai tanggung jawab antargenerasi.
Artinya, pemanfaatan dana untuk kebutuhan jemaah yang berangkat saat ini harus tetap mempertimbangkan kepentingan calon jemaah yang masih menunggu giliran keberangkatan.
Penguatan tata kelola, strategi investasi, manajemen risiko, serta pemanfaatan teknologi digital menjadi sejumlah aspek yang akan dibahas.
Teknologi digital dinilai dapat membantu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, pengawasan, dan efisiensi pengelolaan dana haji.
IHFF 2026 juga akan membahas pengembangan ekosistem keuangan haji, peluang investasi, serta penguatan kerja sama Indonesia dengan Arab Saudi.
Salah satu topik yang menjadi perhatian adalah Kampung Haji Indonesia, termasuk potensi pengembangan infrastruktur dan investasi di Makkah.
Sejumlah pejabat dijadwalkan hadir, antara lain Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, Managing Director Stakeholder Management Danantara Indonesia Rohan Hafas, serta Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Muhadjir Effendy.
Forum tersebut juga akan menghadirkan Konsul Jenderal RI di Jeddah Sugiri Suparwan, Kepala Komisi Haji Nasional Nigeria Ismail Abba Yusuf, dan CEO ISRA Consulting Mohamed Eskandar Shah Mohd Rasidi.
Pertemuan ini diharapkan menjadi ruang pertukaran pengalaman dalam menghadapi tantangan investasi jangka panjang, perubahan demografi jemaah, dan pengelolaan dana haji yang berkelanjutan.
Selain membahas pengelolaan dana haji dalam skala besar, BPKH juga mengajak generasi muda mulai mempersiapkan biaya ibadah haji sejak usia produktif.
Ajakan tersebut akan disampaikan melalui talkshow bertajuk "Gen Z Naik Haji" yang digelar pada hari yang sama.
Program ini menekankan pentingnya perencanaan keuangan, kebiasaan menabung, serta kesiapan fisik sebelum menunaikan ibadah haji.
Persiapan tersebut dinilai perlu dilakukan jauh sebelum jadwal keberangkatan, mengingat ibadah haji membutuhkan kesiapan finansial dan kesehatan.
Talkshow akan menghadirkan Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah, dokter Gia Pratama, musisi Arda Hatna, serta penyanyi Tantri Kotak. Diskusi akan dipandu oleh Inayah Wahid.
Melalui kegiatan ini, BPKH ingin mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memandang ibadah haji sebagai tujuan jangka panjang yang perlu dipersiapkan secara terencana.
Di sisi lain, penguatan ekosistem haji juga dinilai perlu melibatkan berbagai sektor, mulai dari keuangan syariah, teknologi, transportasi, perhotelan, layanan kesehatan, hingga industri halal.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat ekonomi penyelenggaraan haji tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dan perlindungan dana jemaah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.