Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Memaafkan Tak Berarti Membenarkan Kesalahan, Ini Pandangan Islam

Kompas.com, 15 Oktober 2026, 16:07 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Memaafkan orang yang menyakiti hati bukan perkara mudah. Ada kalanya seseorang memilih memaafkan demi ketenangan batin, tetapi tetap perlu menjaga jarak agar kesalahan yang sama tidak terulang.

Dalam Islam, memaafkan merupakan akhlak terpuji, tetapi tidak berarti seseorang harus menerima perlakuan buruk tanpa batas.

Islam mendorong umatnya untuk menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Namun, memaafkan perlu dibedakan dari membenarkan perbuatan yang salah.

Seseorang dapat melepaskan dendam sekaligus mengakui bahwa tindakan yang merugikan dirinya tidak dapat dibenarkan dan tetap perlu dipertanggungjawabkan.

Islam Mengajarkan Keutamaan Memaafkan

Allah SWT menggambarkan keutamaan memaafkan dalam Surah Ali Imran ayat 134:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Allażīna yunfiqūna fis-sarrā'i waḍ-ḍarrā'i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-'āfīna 'anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn.

Baca juga: Menjaga Privasi Anak Juga Bagian dari Adab dalam Islam

Artinya, “(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134).

Ayat ini menempatkan kemampuan menahan amarah dan memaafkan sebagai bagian dari karakter orang bertakwa.

Memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan kemampuan mengendalikan diri ketika memiliki alasan untuk membalas.

Namun, ayat tersebut tidak mengharuskan seseorang menganggap perbuatan salah sebagai sesuatu yang benar.

Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan memaafkan melalui hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah:

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

Wa mā zādallāhu 'abdan bi'afwin illā 'izzā.

Artinya, “Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba karena pemberian maafnya, kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim nomor 2588).

Baca juga: 15 Warna Jilbab untuk Gamis Burgundy agar Terlihat Elegan

Hadis tersebut menerangkan bahwa memaafkan dapat menjadi jalan menuju kemuliaan. Seseorang tidak kehilangan kehormatannya karena memilih tidak membalas perlakuan buruk.

Namun, memaafkan tidak otomatis menghapus dampak kesalahan pelaku atau kewajiban memperbaiki kerugian.

Memaafkan Tidak Sama dengan Membenarkan Kesalahan

Al-Qur'an menjelaskan keseimbangan antara balasan yang setimpal dan keutamaan memaafkan dalam Surah Asy-Syura ayat 40:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Wa jazā'u sayyi'atin sayyi'atun miṡluhā, fa man 'afā wa aṣlaḥa fa ajruhu 'alallāh, innahū lā yuḥibbuẓ-ẓālimīn.

Artinya, “Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40).

Baca juga: Gus Baha Tangani Dakwah Digital, Ini Tugas 5 Wakil Rais Aam PBNU

Ayat ini menunjukkan bahwa memaafkan merupakan pilihan terpuji, tetapi tidak menghilangkan prinsip keadilan.

Frasa “memaafkan dan berbuat baik” menekankan pentingnya perbaikan. Memaafkan tidak harus berarti membiarkan pelaku mengulangi kesalahannya atau mengabaikan hak orang yang dirugikan.

Meminta Pertanggungjawaban Bukan Berarti Pendendam

Melansir laman NU Online membahas pentingnya memahami pemaafan secara proporsional.

Memaafkan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengabaikan kesalahan atau membiarkan kerugian yang dialami seseorang tanpa penyelesaian.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang dirugikan tetap dapat meminta pelaku mengakui kesalahan, memperbaiki kerugian, atau menjalani proses hukum jika diperlukan.

Langkah tersebut berbeda dari balas dendam karena bertujuan memperoleh keadilan dan mencegah pelanggaran terulang.

Baca juga: Menag Minta Sekolah Gratis Cakup Biaya Asrama Santri

Menetapkan Batas Tetap Diperbolehkan

Memaafkan juga tidak selalu berarti hubungan harus kembali seperti semula. Seseorang dapat memaafkan teman yang mengkhianati kepercayaan, tetapi tetap membatasi informasi pribadi yang dibagikan kepadanya.

Demikian pula, seseorang dapat memaafkan anggota keluarga tanpa membiarkan perlakuan merugikan terus berlangsung.

Batas tersebut dapat menjadi bentuk perlindungan diri, bukan tanda bahwa seseorang gagal memaafkan.

Jika kesalahan terus berulang, menjaga jarak dan mencari bantuan dari pihak tepercaya dapat menjadi langkah bijak.

Memaafkan tidak mengharuskan seseorang kembali ke situasi yang membahayakan dirinya.

Pada akhirnya, memaafkan merupakan upaya melepaskan dendam tanpa kehilangan kemampuan membedakan yang benar dan salah.

Islam mengajarkan kelapangan hati sekaligus menghargai keadilan. Seseorang dapat memaafkan dengan tulus, meminta pertanggungjawaban secara patut, dan menjaga batas agar kesalahan yang sama tidak terulang.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar