Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Memilih Pasangan dalam Islam, Ikhtiar Mencari Jodoh Dunia Akhirat

Kompas.com, 23 Oktober 2026, 14:08 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com - Memilih pasangan hidup dalam Islam perlu mempertimbangkan agama, tanggung jawab, dan kesiapan membangun rumah tangga, bukan semata-mata penampilan atau materi.

Terlebih, memilih pasangan untuk menikah bukan hanya bertujuan dunia saja, namun juga di akhirat.

Baca juga: Menjaga Privasi Anak Juga Bagian dari Adab dalam Islam

Dilansir dari laman MUI, Ustadzah Qotrunnada Syathiry Ahmad, Lc., mengingatkan bahwa ikhtiar mencari jodoh perlu disertai perbaikan diri, lingkungan yang baik, serta proses taaruf sesuai tuntunan syariat.

Pesan tersebut disampaikan dalam sesi tanya jawab pada tabligh akbar yang menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, Sabtu (17/10/2026).

Baca juga: Pendidikan Anak dalam Islam Dimulai dari Keluarga, Ini Peran Penting Orang Tua

Cara Memilih Pasangan dalam Islam

Ia menyarankan orang yang sedang mencari pasangan untuk memperluas ikhtiar melalui lingkungan yang mendukung kebaikan, termasuk majelis taklim.

1. Mencari Pasangan di Lingkungan yang Baik

Ustadzah Qotrunnada menyarankan laki-laki yang ingin mendapatkan pasangan salehah untuk memperluas pergaulan di lingkungan yang mendukung kehidupan beragama. Salah satunya dengan mengikuti majelis taklim dan kegiatan keagamaan lainnya.

“Jadi saya berpesan kepada Mas Ridwan dan siapa pun yang sedang mencari jodoh, khususnya laki-laki, kalau ingin mencari jodoh yang salehah, carilah di tempat-tempat kebaikan. Carilah di majelis-majelis taklim,” pesannya.

Menurut dia, ikhtiar mencari pasangan tidak cukup hanya dengan menunggu seseorang yang dianggap ideal. Seseorang juga perlu memperbaiki diri dan mempersiapkan kualitas pribadi agar siap menjalani kehidupan rumah tangga.

“Kan yang penting salehah, kan? Dipantaskan sama Allah. Tugas kita ikhtiar,” ujarnya.

2. Mengutamakan Agama dalam Memilih Pasangan

Agama menjadi salah satu pertimbangan utama dalam memilih pasangan hidup menurut Islam. Hal ini sejalan dengan hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim yang menjelaskan empat perkara dalam memilih perempuan untuk dinikahi, yakni harta, keturunan, kecantikan, dan agama. Rasulullah SAW menganjurkan agar agama menjadi prioritas.

Bagi perempuan yang mencari calon suami, Ustadzah Qotrunnada juga mengingatkan pentingnya mempertimbangkan tanggung jawab dan kemampuan calon pasangan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Kita ingin dinikahi, bukan mencari yang sempurna. Tapi paling tidak tercukupi kebutuhan kita. Tapi kalau memang punya keterbatasan, minimal agamanya,” tuturnya.

Menurut dia, mencari pasangan bukan berarti harus menemukan sosok yang sempurna dalam segala hal. Namun, komitmen terhadap agama tetap perlu menjadi pertimbangan penting dalam menentukan pasangan hidup.

3. Memperbaiki Diri dan Terus Berikhtiar Mencari Jodoh

Ustadzah Qotrunnada menekankan bahwa ikhtiar mencari jodoh mencakup dua hal, yaitu memperbaiki diri dan berusaha menemukan pasangan yang sesuai. Keduanya perlu dilakukan secara seimbang agar seseorang tidak hanya berfokus pada kekurangan calon pasangan, tetapi juga mengevaluasi dirinya sendiri.

“Tugas ikhtiar kita pertama adalah diri kita perbaiki karena Allah akan memantaskan. Tugas kita kedua adalah berikhtiar untuk mencari,” tambahnya.

Perbaikan diri dapat dilakukan dengan memperkuat pemahaman agama, membangun karakter yang baik, serta mempersiapkan tanggung jawab dalam kehidupan pernikahan. Pada saat yang sama, seseorang tetap perlu berusaha mencari calon pasangan melalui cara yang sesuai dengan tuntunan Islam.

4. Kisah Asiyah, Istri Firaun, sebagai Pelajaran tentang Keimanan

Untuk menjelaskan bahwa keimanan seseorang tidak selalu mencerminkan keimanan pasangannya, Ustadzah Qotrunnada mengangkat kisah Asiyah binti Muzahim, istri Firaun. Meski hidup bersama penguasa yang zalim, Asiyah tetap teguh mempertahankan keimanannya kepada Allah SWT.

Kisah tersebut diabadikan dalam Al Quran surah At-Tahrim ayat 11. Allah SWT menjadikan istri Firaun sebagai perumpamaan bagi orang-orang beriman, termasuk melalui doanya agar mendapatkan rumah di surga dan diselamatkan dari Firaun beserta perbuatannya.

Allah SWT berfirman:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ

Artinya: “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Firaun, ketika dia berkata, ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.’” (QS. At-Tahrim: 11)

Kisah Asiyah menunjukkan bahwa seseorang tetap dapat mempertahankan keimanannya meskipun hidup bersama pasangan yang tidak sejalan dalam keyakinan dan perilaku. Namun, keteguhan tersebut bukan alasan untuk mengabaikan agama ketika memilih pasangan, melainkan pelajaran tentang pentingnya menjaga iman dalam berbagai keadaan.

5. Menjalani Taaruf Sesuai Syariat dan Tidak Berlarut-larut

Dalam proses mencari jodoh, Ustadzah Qotrunnada mengingatkan pentingnya menjalani taaruf sesuai tuntunan syariat. Proses mengenal calon pasangan perlu memiliki arah yang jelas menuju pernikahan dan tidak berlangsung terlalu lama tanpa kepastian.

“Jadi ada aturan-aturan dalam syariat tentang bagaimana kita bertaaruf. Jangan lama-lama,” pesannya.

Selama taaruf, calon pasangan perlu mempertimbangkan karakter, komitmen terhadap agama, tanggung jawab, serta kesiapan masing-masing untuk menikah. Pertimbangan tersebut membantu kedua belah pihak mengenali kesesuaian sebelum mengambil keputusan untuk membangun rumah tangga.

Selain melakukan ikhtiar, shalat istikharah dapat menjadi salah satu cara memohon petunjuk kepada Allah SWT ketika menghadapi pilihan. Ibadah ini dapat disertai pertimbangan yang matang agar keputusan menikah tidak hanya didasarkan pada perasaan sesaat.

6. Pernikahan Bukan tentang Mencari Pasangan yang Sempurna

Ustadzah Qotrunnada menegaskan bahwa pernikahan merupakan proses belajar bersama, bukan tuntutan agar salah satu pihak selalu menjadi sosok yang paling benar atau paling saleh. Kedua pasangan perlu memiliki kemauan untuk saling memahami dan memperbaiki diri sepanjang kehidupan rumah tangga.

“Pernikahan itu isinya belajar. Bukan selalu kita merasa pasangan kita belum saleh. Bukan merasa dia terus yang salah. Tapi hakikat dalam pernikahan, kita sama-sama belajar,” ungkapnya.

Dengan demikian, cara memilih pasangan dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan menemukan seseorang yang memiliki kualitas agama dan karakter yang baik, tetapi juga mempersiapkan diri untuk menjalankan peran dalam pernikahan.

Ikhtiar mencari jodoh, perbaikan diri, pertimbangan yang matang, dan proses taaruf sesuai syariat menjadi bagian penting sebelum melangkah menuju kehidupan rumah tangga.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Sumpah Pemuda 1928: Sosok Johan Machmoed Tjaja dan Peran Jong Islamieten Bond
Sumpah Pemuda 1928: Sosok Johan Machmoed Tjaja dan Peran Jong Islamieten Bond
Aktual
Jadwal TKA Pesantren dan Madrasah Aliyah 2026 untuk Mapel Wajib, Pilihan, serta Ujian Susulan
Jadwal TKA Pesantren dan Madrasah Aliyah 2026 untuk Mapel Wajib, Pilihan, serta Ujian Susulan
Aktual
Legislator Minta Ditjen Pesantren Perkuat 5 Aspek, dari Anggaran hingga Keamanan Santri
Legislator Minta Ditjen Pesantren Perkuat 5 Aspek, dari Anggaran hingga Keamanan Santri
Aktual
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Jejak Santri dalam Sejarah Persatuan Indonesia
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Jejak Santri dalam Sejarah Persatuan Indonesia
Aktual
Hari Santri 2026, Menag Ajak ASN Kemenag Pakai Sarung dan Peci Seminggu Sekali
Hari Santri 2026, Menag Ajak ASN Kemenag Pakai Sarung dan Peci Seminggu Sekali
Aktual
Zakat Akhir Tahun: Cara Menghitung, Nisab, dan Golongan Penerimanya
Zakat Akhir Tahun: Cara Menghitung, Nisab, dan Golongan Penerimanya
Aktual
Alasan Shalat Istisqa Tetap Disunahkan Meski Hujan Telah Turun
Alasan Shalat Istisqa Tetap Disunahkan Meski Hujan Telah Turun
Aktual
Doa Saat Hujan Turun dan Setelah Hujan Reda, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa Saat Hujan Turun dan Setelah Hujan Reda, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Doa Saat Hujan yang Diajarkan Rasulullah, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa Saat Hujan yang Diajarkan Rasulullah, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Wisata Ramah Muslim di Jepang, dari Menikmati Ramen Halal hingga Berendam di Onsen
Wisata Ramah Muslim di Jepang, dari Menikmati Ramen Halal hingga Berendam di Onsen
Aktual
Menag Ajak Tradisikan Bersarung dan Berpeci sebagai Identitas Kebangsaan
Menag Ajak Tradisikan Bersarung dan Berpeci sebagai Identitas Kebangsaan
Aktual
Kemenag Gandeng Gus, Ning, dan Influencer dalam 5 Program Quick Win Pesantren
Kemenag Gandeng Gus, Ning, dan Influencer dalam 5 Program Quick Win Pesantren
Aktual
Ka'b bin Malik Sahabat yang Kisah Tobatnya Diabadikan dalam Al-Qur'an
Ka'b bin Malik Sahabat yang Kisah Tobatnya Diabadikan dalam Al-Qur'an
Aktual
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Ini Dalil dan Pengecualiannya
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Ini Dalil dan Pengecualiannya
Aktual
Insentif Dosen Ma’had Aly 2026 Naik Lebih dari 200 Persen, Cair Akhir November
Insentif Dosen Ma’had Aly 2026 Naik Lebih dari 200 Persen, Cair Akhir November
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar