Editor
KOMPAS.com - Memilih pasangan hidup dalam Islam perlu mempertimbangkan agama, tanggung jawab, dan kesiapan membangun rumah tangga, bukan semata-mata penampilan atau materi.
Terlebih, memilih pasangan untuk menikah bukan hanya bertujuan dunia saja, namun juga di akhirat.
Baca juga: Menjaga Privasi Anak Juga Bagian dari Adab dalam Islam
Dilansir dari laman MUI, Ustadzah Qotrunnada Syathiry Ahmad, Lc., mengingatkan bahwa ikhtiar mencari jodoh perlu disertai perbaikan diri, lingkungan yang baik, serta proses taaruf sesuai tuntunan syariat.
Pesan tersebut disampaikan dalam sesi tanya jawab pada tabligh akbar yang menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, Sabtu (17/10/2026).
Baca juga: Pendidikan Anak dalam Islam Dimulai dari Keluarga, Ini Peran Penting Orang Tua
Ia menyarankan orang yang sedang mencari pasangan untuk memperluas ikhtiar melalui lingkungan yang mendukung kebaikan, termasuk majelis taklim.
Ustadzah Qotrunnada menyarankan laki-laki yang ingin mendapatkan pasangan salehah untuk memperluas pergaulan di lingkungan yang mendukung kehidupan beragama. Salah satunya dengan mengikuti majelis taklim dan kegiatan keagamaan lainnya.
“Jadi saya berpesan kepada Mas Ridwan dan siapa pun yang sedang mencari jodoh, khususnya laki-laki, kalau ingin mencari jodoh yang salehah, carilah di tempat-tempat kebaikan. Carilah di majelis-majelis taklim,” pesannya.
Menurut dia, ikhtiar mencari pasangan tidak cukup hanya dengan menunggu seseorang yang dianggap ideal. Seseorang juga perlu memperbaiki diri dan mempersiapkan kualitas pribadi agar siap menjalani kehidupan rumah tangga.
“Kan yang penting salehah, kan? Dipantaskan sama Allah. Tugas kita ikhtiar,” ujarnya.
Agama menjadi salah satu pertimbangan utama dalam memilih pasangan hidup menurut Islam. Hal ini sejalan dengan hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim yang menjelaskan empat perkara dalam memilih perempuan untuk dinikahi, yakni harta, keturunan, kecantikan, dan agama. Rasulullah SAW menganjurkan agar agama menjadi prioritas.
Bagi perempuan yang mencari calon suami, Ustadzah Qotrunnada juga mengingatkan pentingnya mempertimbangkan tanggung jawab dan kemampuan calon pasangan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Kita ingin dinikahi, bukan mencari yang sempurna. Tapi paling tidak tercukupi kebutuhan kita. Tapi kalau memang punya keterbatasan, minimal agamanya,” tuturnya.
Menurut dia, mencari pasangan bukan berarti harus menemukan sosok yang sempurna dalam segala hal. Namun, komitmen terhadap agama tetap perlu menjadi pertimbangan penting dalam menentukan pasangan hidup.
Ustadzah Qotrunnada menekankan bahwa ikhtiar mencari jodoh mencakup dua hal, yaitu memperbaiki diri dan berusaha menemukan pasangan yang sesuai. Keduanya perlu dilakukan secara seimbang agar seseorang tidak hanya berfokus pada kekurangan calon pasangan, tetapi juga mengevaluasi dirinya sendiri.
“Tugas ikhtiar kita pertama adalah diri kita perbaiki karena Allah akan memantaskan. Tugas kita kedua adalah berikhtiar untuk mencari,” tambahnya.
Perbaikan diri dapat dilakukan dengan memperkuat pemahaman agama, membangun karakter yang baik, serta mempersiapkan tanggung jawab dalam kehidupan pernikahan. Pada saat yang sama, seseorang tetap perlu berusaha mencari calon pasangan melalui cara yang sesuai dengan tuntunan Islam.
Untuk menjelaskan bahwa keimanan seseorang tidak selalu mencerminkan keimanan pasangannya, Ustadzah Qotrunnada mengangkat kisah Asiyah binti Muzahim, istri Firaun. Meski hidup bersama penguasa yang zalim, Asiyah tetap teguh mempertahankan keimanannya kepada Allah SWT.
Kisah tersebut diabadikan dalam Al Quran surah At-Tahrim ayat 11. Allah SWT menjadikan istri Firaun sebagai perumpamaan bagi orang-orang beriman, termasuk melalui doanya agar mendapatkan rumah di surga dan diselamatkan dari Firaun beserta perbuatannya.
Allah SWT berfirman:
وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ
Artinya: “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Firaun, ketika dia berkata, ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.’” (QS. At-Tahrim: 11)
Kisah Asiyah menunjukkan bahwa seseorang tetap dapat mempertahankan keimanannya meskipun hidup bersama pasangan yang tidak sejalan dalam keyakinan dan perilaku. Namun, keteguhan tersebut bukan alasan untuk mengabaikan agama ketika memilih pasangan, melainkan pelajaran tentang pentingnya menjaga iman dalam berbagai keadaan.
Dalam proses mencari jodoh, Ustadzah Qotrunnada mengingatkan pentingnya menjalani taaruf sesuai tuntunan syariat. Proses mengenal calon pasangan perlu memiliki arah yang jelas menuju pernikahan dan tidak berlangsung terlalu lama tanpa kepastian.
“Jadi ada aturan-aturan dalam syariat tentang bagaimana kita bertaaruf. Jangan lama-lama,” pesannya.
Selama taaruf, calon pasangan perlu mempertimbangkan karakter, komitmen terhadap agama, tanggung jawab, serta kesiapan masing-masing untuk menikah. Pertimbangan tersebut membantu kedua belah pihak mengenali kesesuaian sebelum mengambil keputusan untuk membangun rumah tangga.
Selain melakukan ikhtiar, shalat istikharah dapat menjadi salah satu cara memohon petunjuk kepada Allah SWT ketika menghadapi pilihan. Ibadah ini dapat disertai pertimbangan yang matang agar keputusan menikah tidak hanya didasarkan pada perasaan sesaat.
Ustadzah Qotrunnada menegaskan bahwa pernikahan merupakan proses belajar bersama, bukan tuntutan agar salah satu pihak selalu menjadi sosok yang paling benar atau paling saleh. Kedua pasangan perlu memiliki kemauan untuk saling memahami dan memperbaiki diri sepanjang kehidupan rumah tangga.
“Pernikahan itu isinya belajar. Bukan selalu kita merasa pasangan kita belum saleh. Bukan merasa dia terus yang salah. Tapi hakikat dalam pernikahan, kita sama-sama belajar,” ungkapnya.
Dengan demikian, cara memilih pasangan dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan menemukan seseorang yang memiliki kualitas agama dan karakter yang baik, tetapi juga mempersiapkan diri untuk menjalankan peran dalam pernikahan.
Ikhtiar mencari jodoh, perbaikan diri, pertimbangan yang matang, dan proses taaruf sesuai syariat menjadi bagian penting sebelum melangkah menuju kehidupan rumah tangga.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.