Editor
KOMPAS.com — Keterbatasan biaya dapat menjadi hambatan bagi mahasiswa untuk melanjutkan kuliah.
Melalui Program Zakat dan Infak Gajah, Rumah Amal Salman menghimpun dukungan masyarakat untuk membantu mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), termasuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Catatan Rumah Amal Salman, program tersebut menyalurkan bantuan pendidikan senilai Rp2,3 miliar kepada 400 mahasiswa dari berbagai latar belakang agama pada 2024.
Baca juga: Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat
Program ini melibatkan Direktorat Kemahasiswaan ITB, Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari ITB, Ikatan Alumni ITB, serta komunitas alumni.
Kolaborasi tersebut mempertemukan kebutuhan mahasiswa dengan dukungan para donatur agar kendala ekonomi tidak menghambat keberlanjutan studi.
Selain bantuan UKT, Rumah Amal Salman mendorong pengembangan skema Orang Tua Asuh untuk mendukung pendidikan mahasiswa.
Melalui skema tersebut, mahasiswa yang terpilih sebagai penerima bantuan mendapatkan dukungan dana pendidikan secara rutin serta pendampingan.
Keterlibatan alumni dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun dukungan yang berkelanjutan.
Mahasiswa yang menghadapi keterbatasan finansial keluarga diharapkan dapat terus menjalani perkuliahan hingga menyelesaikan studi.
Baca juga: Kemenag Buka Bantuan Masjid Rp50 Juta dan Musala Rp35 Juta, Ini Syaratnya
Salah satu upaya memperluas dukungan terhadap Program Zakat dan Infak Gajah dilakukan melalui kampanye #RunForGajahDidik dalam ajang ITB Ultra Marathon.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 16 pelari yang tergabung dalam tim estafet Rumah Amal Salman menempuh total jarak 180 kilometer.
Mereka membawa pesan solidaritas untuk mengajak masyarakat ikut membantu biaya pendidikan mahasiswa ITB.
Kampanye ini menghubungkan pelari, alumni, donatur, dan komunitas melalui kegiatan olahraga sekaligus penggalangan dukungan pendidikan.
Kapten tim Rumah Amal Salman, Muhay, mengatakan, keikutsertaan dalam ITB Ultra Marathon menjadi awal untuk melanjutkan kampanye tersebut.
“ITB Ultra Marathon itu bukan sebuah akhir, justru ini adalah awal dari kampanye berlari untuk pendidikan. Oleh karena itu, perjalanan kami belum selesai,” ujar Muhay.
Melalui #RunForGajahDidik, masyarakat diajak berkontribusi melalui donasi maupun penyebarluasan kampanye agar semakin banyak pihak terlibat dalam membantu mahasiswa yang membutuhkan.
Gerakan tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap pendidikan dapat dibangun melalui beragam kegiatan, termasuk olahraga.
Bagi mahasiswa penerima bantuan, solidaritas itu menjadi dukungan untuk menjaga kesempatan belajar dan menyelesaikan kuliah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.