Editor
JEMBER, KOMPAS.com — Wakaf produktif menjadi salah satu sumber pendanaan pendidikan di Pondok Pesantren Baitul Arqom, Jember, Jawa Timur.
Pesantren yang berdiri pada 1958 di atas dua hektare sawah wakaf itu kini mengelola 12 hektare sawah produktif untuk menopang keberlangsungan pendidikannya.
Pengalaman tersebut menjadi contoh pengelolaan wakaf dalam pembahasan kemandirian pesantren pada kuliah tamu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember (FEB UNEJ), Senin (26/10/2026).
Baca juga: Sarung dan Peci, dari Identitas Pesantren hingga Simbol Kebangsaan
Sekretaris Jenderal Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) sekaligus Pimpinan Pondok Modern Tazakka Batang, KH Anang Rikza Masyhadi, mengatakan, keberlanjutan pesantren membutuhkan fondasi kelembagaan, pendidikan, sumber daya manusia, dan pendanaan yang kuat.
“Kemandirian dan keberlanjutan pesantren bertumpu pada empat pilar dasar, yakni penguatan kelembagaan, pengembangan SDM yang berkualitas, sistem pendidikan yang terukur, serta sistem pendanaan yang solid dan mandiri. Sinergi dengan akademisi seperti FEB UNEJ akan semakin memperkokoh pilar-pilar ini,” ujarnya.
Kuliah tamu bertajuk “Beyond Charity: Productive Waqf, Islamic Social Finance, and the Sustainable Development Goals” dihadiri ratusan mahasiswa serta dosen.
Pembahasannya mencakup wakaf produktif dan peran keuangan sosial Islam dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Baca juga: Kemenag Perketat Izin Pendirian Pesantren, Ada PBG dan SLF, Apa Itu?
Dalam kegiatan tersebut, FPAG dan FEB UNEJ menandatangani nota kesepahaman untuk mengembangkan potensi ekonomi, bisnis, dan kelembagaan pesantren.
Kerja sama ini akan ditindaklanjuti melalui pengabdian masyarakat, riset bersama, pendampingan ekonomi pesantren, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Dekan FEB UNEJ Isti Fadah mengatakan, perguruan tinggi perlu memastikan keilmuan dan kegiatannya memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami di FEB UNEJ berprinsip untuk menjadi ‘menara air’ yang mengalirkan manfaat dan kesejukan bagi sekitar, bukan ‘menara gading’ yang mengisolasi diri. Kami memperkuat branding Kampus Pancasila, di mana seluruh tingkah laku dan kebijakan dilandasi nilai-nilai Pancasila melalui semangat gotong royong dan bergandengan tangan dengan lembaga mana pun, termasuk pondok pesantren,” ujarnya.
Kolaborasi dengan pesantren menjadi bagian dari upaya fakultas untuk memperluas keterlibatan dalam pemberdayaan masyarakat.
Wakil Sekretaris Jenderal FPAG sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, KH Izzat Fahd, mengatakan, kerja sama tersebut juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal kehidupan dan kontribusi pesantren.
“Kolaborasi antara FPAG dan UNEJ ini sangat luar biasa. Melalui sinergi ini, masyarakat luas dapat melihat secara langsung bagaimana para santri dan pendidik di pesantren berjuang dan berkontribusi nyata dalam membangun peradaban umat serta kemajuan bangsa,” tuturnya.
Baitul Arqom, yang dalam keterangan penyelenggara disebut sebagai pondok alumni Gontor pertama, memiliki pengalaman mengelola lahan produktif untuk mendukung pendidikan.
Pengelolaan 12 hektare sawah tersebut memperlihatkan salah satu bentuk pemanfaatan aset produktif untuk membantu menjaga keberlanjutan pesantren.
Melalui kerja sama FPAG dan FEB UNEJ, pendampingan ekonomi serta penguatan kelembagaan diharapkan dapat mendukung kemandirian pesantren.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.