Editor
KOMPAS.com - Kementerian Agama menggandeng kalangan Gus, Ning, dan influencer untuk mendukung lima Program Quick Win pengembangan pesantren.
Gus merupakan sebutan yang lazim digunakan untuk putra kiai, sedangkan Ning merujuk pada putri kiai di lingkungan pesantren.
Baca juga: Kemenag Perketat Izin Pendirian Pesantren, Ada PBG dan SLF, Apa Itu?
Keduanya dilibatkan sebagai figur teladan sekaligus penerus tradisi keilmuan pesantren, sementara influencer dan kreator konten membantu mempercepat adaptasi digital serta membagikan praktik baik kepada para santri.
Kolaborasi ini mencakup program perlindungan santri, pengakuan ijazah, penguatan kemandirian ekonomi, peningkatan keterampilan masa depan, hingga pengembangan dakwah digital.
Baca juga: Sanad Ilmu dalam Tradisi Pesantren, Bukan Sekadar Rantai Nama Ulama
Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said mengatakan, kelima program tersebut dirancang untuk menjawab tantangan pesantren, mulai dari pencegahan kekerasan hingga kebutuhan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan dunia kerja.
"Program ini didesain dari, oleh, dan untuk pesantren. Karenanya, dalam pelaksanaannya, Kemenag bersinergi dengan kalangan Gus dan Ning sebagai penerus perjuangan pesantren," terang Basnang Said di Jakarta.
"Kemenag juga melibatkan sejumlah influencer untuk mengakselerasi proses adaptasi transformasi digital dan berbagi praktik baik di kalangan pesantren," sambungnya.
Program SafeSantri bertujuan memperkuat pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi santri. Program ini juga menjadi upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pesantren agar tidak tercoreng oleh tindakan individu yang bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan pesantren.
Kementerian Agama telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) SafeSantri yang diluncurkan Menteri Agama Nasaruddin Umar pada Upacara Peringatan Hari Santri Tahun 2026. Satgas tersebut menjalankan fungsi pencegahan, menyediakan kanal pengaduan, memberikan pendampingan, serta mendukung respons cepat terhadap kasus kekerasan.
Basnang mengatakan, Kemenag melibatkan Gus dan Ning sebagai figur teladan internal pesantren untuk memperkuat upaya perlindungan santri. Tokoh muda seperti Gus Kautsar serta beberapa Ning menyatakan kesediaannya bergabung dalam Satgas SafeSantri.
"Dalam program perlindungan ini, Kemenag melibatkan para Gus dan Ning sebagai figur teladan internal pesantren. Tokoh muda seperti Gus Kautsar serta beberapa Ning menyatakan kesediaannya untuk bergabung dalam Satgas SafeSantri," ujar Basnang.
"Fokus kami, santri datang untuk menuntut ilmu dan membangun masa depan, bukan untuk membawa pulang trauma," sambungnya.
Program rekognisi ijazah ditujukan untuk memperkuat pengakuan terhadap pendidikan pesantren sekaligus memperluas kesempatan santri melanjutkan pendidikan ke berbagai bidang. Pengakuan atas capaian pendidikan dan kompetensi tersebut juga diharapkan membuka peluang kerja serta mendukung pengembangan karier lulusan pesantren.
Basnang menegaskan, status pendidikan tidak seharusnya menjadi penghambat bagi santri untuk mengembangkan potensi dan melanjutkan masa depan mereka.
"Jangan sampai masa depan santri terhambat, bukan karena kurang ilmunya, melainkan karena belum diakui status pendidikannya," ucap Basnang Said.
Program Pesantren Adaptif dan Mandiri berfokus pada penguasaan teknologi, modernisasi tata kelola kelembagaan, serta penguatan kemandirian ekonomi pesantren. Program ini disiapkan untuk membantu pesantren menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan bidang Science, Technology, Engineering & Mathematics (STEM).
Melalui program ini, pesantren didorong tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pengembangan ilmu keislaman, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha, membuka lapangan kerja, serta menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.
Menurut Basnang, Kemenag melibatkan influencer dan praktisi bisnis atau kewirausahaan, seperti Habib Husein Ja'far, Atta Halilintar, Willy Salim, Putra Siregar, dan Aldi Taher. Mereka diharapkan berbagi pengalaman mengenai manajemen usaha dan pengembangan kemandirian ekonomi kepada para santri.
"Pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, melainkan juga ruang untuk menciptakan peluang ekonomi dan lapangan kerja baru," ungkapnya.
Program Santri 5.0 dirancang untuk mempersiapkan santri yang tidak hanya menguasai khazanah keilmuan Islam, tetapi juga memiliki keterampilan sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Penguatan keterampilan teknis, literasi digital, kemampuan beradaptasi, serta karakter keagamaan menjadi bagian penting dalam program ini.
Kemenag kembali melibatkan kreator konten dan influencer, termasuk Habib Husein Ja'far, Atta Halilintar, Willy Salim, Putra Siregar, dan Aldi Taher, untuk menginspirasi santri dalam mengembangkan kreativitas dan etos kerja di era digital.
"KIta ingin santri itu kuat ilmu agamanya, kuat pula keterampilannya," tambah Basnang Said.
Program Dakwah Digital bertujuan menyiapkan dai dan daiyah yang menguasai ilmu agama sekaligus memahami media sosial, algoritma, kecerdasan buatan (AI), dan pembuatan konten kreatif. Dengan kemampuan tersebut, dakwah yang santun dan moderat diharapkan dapat menjangkau generasi muda melalui platform digital.
Program ini merespons perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi dan pengetahuan keagamaan. Dakwah pesantren didorong tidak hanya hadir melalui mimbar dan pengajian konvensional, tetapi juga menjangkau ruang digital yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat.
Meski memanfaatkan teknologi, transformasi dakwah tetap harus berpijak pada kedalaman ilmu agama, moderasi beragama, dan kesinambungan sanad keilmuan pesantren.
Basnang mengatakan, program ini didukung tokoh dakwah muda dan kreator konten religi, seperti Habib Husein Ja'far, Atta Halilintar, Willy Salim, Putra Siregar, dan Aldi Taher, bersama para Gus dan Ning yang aktif berdakwah di ruang digital.
"Kalau anak muda hari ini lebih banyak berada di depan layar daripada di depan mimbar, maka dakwah harus hadir secara kreatif di layar mereka," jelas Basnang Said.
Kelima Program Quick Win tersebut menggabungkan penguatan perlindungan santri, pengakuan pendidikan, kemandirian ekonomi, keterampilan masa depan, dan dakwah digital.
Pelibatan Gus dan Ning diharapkan memperkuat peran tokoh internal pesantren, sedangkan influencer dan praktisi membantu memperluas wawasan santri serta mempercepat adaptasi teknologi.
Melalui kolaborasi ini, Kemenag mendorong pesantren tetap menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus mampu menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan digital.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.