Editor
KOMPAS.com - Merpati yang beterbangan di sekitar Masjidil Haram menjadi salah satu pemandangan yang akrab bagi jamaah haji dan umrah di Makkah, Arab Saudi.
Burung yang dikenal sebagai merpati Tanah Haram ini tidak hanya menjadi bagian dari lanskap kota suci, tetapi juga memiliki kaitan dengan tradisi keagamaan dan kebudayaan masyarakat setempat.
Keberadaannya telah tercatat dalam sejumlah literatur sejarah, termasuk catatan para sejarawan dan pelancong sejak lebih dari satu abad lalu.
Baca juga: Museum Haramain di Makkah, Wisata Sejarah Islam Dekat Masjidil Haram yang Bisa Diakses Gratis
Masyarakat Makkah dan para pengunjung juga memiliki tradisi merawat merpati dengan menyediakan makanan serta air minum.
Dilansir dari Arab News dan Saudipedia, berikut ulasan sejarah, asal-usul, ciri khas, hingga upaya perlindungan merpati yang menjadi salah satu ikon kota suci Makkah.
Baca juga: Tarif Kursi Roda dan Golf Cart di Masjidil Haram untuk Jemaah Haji 2026
Menurut Saudipedia, burung-burung tersebut merupakan merpati khas Makkah Al-Mukarramah dan menjadi salah satu ciri khas kota suci itu. Keberadaannya mendapat perlakuan khusus karena berkaitan dengan ketentuan perlindungan satwa di kawasan Tanah Haram.
Setiap orang, baik yang sedang berihram maupun tidak, dilarang membunuh atau mengganggu merpati tersebut.
Ketentuan ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap satwa di kawasan suci tidak hanya berkaitan dengan larangan berburu bagi orang yang sedang berihram.
Dalam catatan sejarah yang dibahas Arab News, larangan memburu dan mengganggu satwa di dalam batas Tanah Haram telah dikenal sejak lama.
Sejarawan Abu Al-Walid Al-Azraqi bahkan mencatat ketentuan fikih mengenai perlindungan satwa di kawasan suci dalam karyanya, Akhbar Makkah.
Sementara itu, Muhammad Al-Fakihi mendokumentasikan referensi sastra, puisi, dan tradisi lokal yang memperlihatkan kedudukan merpati dalam identitas sosial dan budaya masyarakat Makkah.
Saudipedia mencatat terdapat beberapa riwayat mengenai asal-usul merpati Masjidil Haram.
Salah satunya berasal dari pendapat Muhammad bin Abdullah Al-Azraqi yang menyebut burung tersebut sebagai keturunan burung Ababil yang menyerang pasukan bergajah.
Pendapat lain disampaikan Al-Suyuthi. Ia menyebut asal-usul merpati Masjidil Haram berkaitan dengan dua ekor merpati yang bersarang di Gua Tsur ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah menuju Madinah Al-Munawwarah.
Selain kedua riwayat tersebut, terdapat pula pendapat yang menghubungkan asal-usul merpati Masjidil Haram dengan garis keturunan burung dari Eropa. Namun, Saudipedia menyebut pendapat tersebut belum terbukti.
Dengan demikian, asal-usul merpati Masjidil Haram masih memiliki sejumlah versi yang tercatat dalam literatur, bukan satu riwayat yang telah dipastikan secara historis.
Merpati Masjidil Haram memiliki karakteristik warna yang relatif seragam. Saudipedia menggambarkan tubuh burung tersebut berwarna abu-abu kehijauan atau putih kebiruan.
Bagian kepala hingga lehernya berwarna biru pekat dengan kilau warna-warni. Adapun ujung sayap dan ekornya berwarna hitam.
Penampilan yang relatif seragam menjadi salah satu ciri khas merpati yang hidup di sekitar Masjidil Haram. Burung-burung ini juga dikenal mudah beradaptasi dengan lingkungan perkotaan.
Mereka bersarang dan berlindung di tepian bangunan serta atap, sedangkan halaman dan pelataran terbuka menjadi tempat berkumpul dan mencari makan.
Kebiasaan memberi makan merpati telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat Makkah serta para pengunjung.
Jamaah haji dan umrah biasanya menyediakan biji-bijian serta air minum untuk burung-burung tersebut dengan harapan memperoleh pahala dari Allah SWT.
Menurut Saudipedia, kepedulian terhadap merpati Masjidil Haram bukanlah praktik yang baru muncul pada masa modern. Tradisi tersebut telah berlangsung sejak zaman dahulu dan tercatat dalam sejumlah literatur.
Salah satu catatan sejarah menyebutkan keberadaan Sumur Merpati atau Well of the Pigeons pada masa sebelum Islam. Sumur tersebut terletak di bawah Gunung Abu Qubais, di sisi timur Makkah, dan menjadi tempat merpati berkumpul untuk minum sebelum terbang kembali.
Pada masa modern, kepedulian terhadap merpati juga diwujudkan melalui wakaf khusus.
Saudipedia mencatat seorang warga Makkah pernah mengkhususkan harta wakaf untuk membiayai perawatan merpati Masjidil Haram. Keberadaan wakaf tersebut tercatat dalam dokumen administrasi perwakafan.
Hasil pengelolaan wakaf digunakan untuk menyediakan makanan dan air bagi burung-burung tersebut.
Selain itu, Pemerintah Kota Suci Makkah membangun menara khusus sebagai tempat berlindung merpati setelah matahari terbenam. Diperkirakan terdapat enam menara merpati di sekitar Jembatan Hajoun, dekat Pemakaman Al-Mu'alla.
Keberadaan merpati di Masjidil Haram juga terdokumentasi dalam catatan perjalanan para pelancong pada awal abad ke-20.
Dalam buku Al-Rihlah Al-Hijaziyyah (Perjalanan Hijaz) yang terbit pada 1911, sejarawan Mesir Muhammad Al-Batnuni menggambarkan banyaknya merpati yang memenuhi halaman, atap, dan pintu-pintu melengkung Masjidil Haram.
Ia juga mencatat keberadaan tempat pemberian pakan dan air minum yang disediakan jamaah.
Di sisi timur masjid, terdapat tempat khusus dengan wadah air minum serta persediaan gandum yang diberikan secara rutin pada waktu tertentu.
Sementara itu, di sisi barat masjid, sejumlah orang menjual gandum kepada jamaah dan pengunjung yang ingin memberi makan merpati. Burung-burung tersebut bahkan kerap terbang rendah hingga mengepakkan sayap di atas kepala orang yang melintas.
Saudipedia juga mengutip catatan penulis Mesir Muhammad Labib Al-Tabnuni dalam The Hijazi Journey pada 1911. Ia menggambarkan merpati Al-Hima yang memenuhi atap, pintu masuk, dan ceruk-ceruk bangunan Masjidil Haram.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa merpati telah menjadi bagian dari kehidupan di sekitar masjid sejak lebih dari satu abad lalu. Tradisi memberikan makanan dan air minum juga menunjukkan hubungan yang telah lama terjalin antara masyarakat Makkah dan burung-burung tersebut.
Keberadaan merpati di kawasan Masjidil Haram perlu diimbangi dengan pemeliharaan kebersihan lingkungan, terutama karena kawasan tersebut dikunjungi banyak jamaah dan wisatawan setiap hari.
Arab News melaporkan Pemerintah Kota Suci Makkah secara rutin melakukan pembersihan dan sanitasi di pelataran serta jalur pejalan kaki yang menjadi tempat berkumpulnya merpati.
Petugas membersihkan area publik, mencuci sejumlah fasilitas, dan membuang sisa pakan yang tertinggal. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus memberikan kenyamanan bagi jamaah dan pengunjung.
Selain menjadi bagian dari lanskap kota, merpati Masjidil Haram juga merepresentasikan tradisi perlindungan satwa yang telah berlangsung lintas generasi.
Catatan sejarah, tradisi wakaf, dan kebiasaan jamaah memberi makan memperlihatkan hubungan panjang masyarakat Makkah dengan burung-burung tersebut.
Bagi jamaah haji dan umrah asal Indonesia, mengenal tradisi ini dapat menambah pemahaman tentang kehidupan sosial dan budaya di sekitar Masjidil Haram.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.