KOMPAS.com - Menjelang akhir bulan Ramadhan, pertanyaan mengenai kapan jatuhnya Hari Raya Idul Fitri 2026 mulai banyak dicari masyarakat.
Setiap tahun, penetapan awal bulan Syawal di Indonesia kerap menjadi perhatian karena terkadang terdapat perbedaan antara pemerintah dan organisasi Islam.
Lalu sebenarnya kapan Lebaran 2026 menurut pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah?
Jika dihitung dari Minggu, 15 Maret 2026, Hari Raya Idul Fitri diperkirakan tinggal 5 hingga 6 hari lagi, tergantung pada metode penentuan awal Syawal yang digunakan.
Perbedaan tersebut bukan hal baru dalam praktik penentuan kalender Islam di Indonesia. Setiap lembaga memiliki pendekatan ilmiah dan keagamaan yang berbeda, tetapi semuanya tetap berlandaskan pada kajian astronomi dan tradisi keilmuan Islam.
Per 15 Maret 2026, umat Islam di Indonesia sedang berada pada penghujung Ramadan 1447 Hijriah. Jika mengacu pada berbagai prediksi yang beredar:
Kepastian tanggal Lebaran tetap menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat.
Baca juga: Kapan Idul Fitri 2026? Hitung Mundur Lebaran dan Jadwal Liburnya
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan menentukan awal Syawal melalui mekanisme sidang isbat.
Sidang ini dijadwalkan berlangsung pada 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 Hijriah, di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama di Jakarta.
Dalam sidang tersebut, pemerintah menggunakan dua metode utama:
Data astronomi juga akan didukung oleh lembaga ilmiah seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Selain itu, sidang isbat juga melibatkan perwakilan organisasi masyarakat Islam, pakar astronomi, dan lembaga terkait lainnya.
Jika pada 19 Maret 2026 hilal telah memenuhi kriteria visibilitas menurut standar MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), maka Idul Fitri kemungkinan jatuh pada 20 Maret 2026. Namun jika hilal belum memenuhi syarat, maka Lebaran berpotensi jatuh pada 21 Maret 2026.
Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama biasanya mengikuti keputusan pemerintah dalam penetapan awal Syawal.
NU menggunakan metode rukyat hilal yang dipadukan dengan perhitungan hisab sebagai alat bantu.
Pengamatan hilal dilakukan di berbagai titik di Indonesia melalui Lembaga Falakiyah NU. Hasil rukyat tersebut kemudian menjadi dasar bagi NU dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Dalam praktiknya, karena menggunakan metode yang sama dengan pemerintah, tanggal Lebaran versi NU hampir selalu mengikuti hasil sidang isbat.
Berbeda dengan pemerintah dan NU, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki kontemporer.
Melalui Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang penetapan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H, organisasi ini telah menetapkan bahwa:
1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Penentuan tersebut dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dengan menggunakan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Metode ini memungkinkan penetapan hari besar Islam dilakukan jauh hari sebelumnya karena sepenuhnya berdasarkan perhitungan astronomi.
Perbedaan dalam menentukan awal bulan Hijriah sebenarnya sudah lama terjadi dalam tradisi keilmuan Islam.
Dalam kitab “Ilmu Falak Praktis” karya Muhyiddin Khazin, dijelaskan bahwa metode hisab dan rukyat sama-sama memiliki dasar ilmiah dan historis dalam penentuan kalender Islam.
Sementara itu, dalam buku “Fiqh Sunnah” karya Sayyid Sabiq, disebutkan bahwa penentuan awal bulan Hijriah pada masa Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan rukyat atau melihat hilal secara langsung.
Namun seiring perkembangan ilmu astronomi, metode hisab juga berkembang menjadi pendekatan ilmiah yang digunakan oleh sebagian ulama dan lembaga Islam modern.
Karena itu, perbedaan metode antara hisab dan rukyat kerap menghasilkan kemungkinan tanggal yang berbeda.
Walaupun berbagai prediksi telah beredar, masyarakat tetap dianjurkan menunggu keputusan resmi dari pemerintah.
Pengumuman tersebut biasanya disampaikan langsung oleh Menteri Agama setelah sidang isbat selesai dilakukan pada 19 Maret 2026.
Keputusan ini nantinya menjadi acuan bagi mayoritas umat Islam di Indonesia dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Dalam sejarah Islam di Indonesia, perbedaan penetapan awal Syawal bukanlah hal yang baru.
Para ulama menilai perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika ijtihad dalam memahami dalil agama dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Yang terpenting, perbedaan itu tidak mengurangi makna utama Idul Fitri sebagai momentum mempererat silaturahmi, saling memaafkan, dan merayakan kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
Karena itu, sambil menunggu pengumuman resmi, umat Islam di Indonesia kini tengah memasuki hitung mundur menuju Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Bagi sebagian orang, Lebaran mungkin tinggal 5 hari lagi, sementara bagi yang lain bisa jadi 6 hari lagi, semuanya bergantung pada hasil pengamatan hilal yang akan diumumkan dalam sidang isbat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang