Editor
KOMPAS.com - Takbir yang menggema di malam Idul Fitri bukan sekadar lantunan yang indah didengar. Di balik kalimat “Allahu Akbar”, tersimpan sejarah panjang, makna spiritual mendalam, hingga perjalanan budaya yang terus hidup dari masa Rasulullah SAW hingga Indonesia hari ini.
Dalam Gema Takbir Akbar Nasional di Masjid Istiqlal, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa takbir adalah tradisi yang berakar kuat sejak masa awal Islam dan terus berkembang sebagai syiar umat.
Tradisi takbir bermula dari praktik Rasulullah SAW saat menutup bulan Ramadhan.
“Rasulullah Saw. melepas bulan Ramadhan dengan takbir. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh para sahabat dengan mengumandangkan takbir di ruang-ruang publik,” ujar Nasaruddin.
Baca juga: Gemerlap Takbiran di Danau Maninjau: Festival Rakik-rakik Hidupkan Tradisi di Tengah Duka
Dalam riwayat sejarah, sahabat seperti Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar bahkan mengumandangkan takbir di pasar, bukan hanya di masjid. Dari sini, takbir menjadi syiar yang hidup di tengah masyarakat, bukan sekadar ritual di ruang ibadah.
Takbir bukan hanya tradisi, tetapi juga memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an. Perintah tersebut termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, yang menegaskan agar umat Islam mengagungkan Allah setelah menyempurnakan puasa Ramadhan.
Selain itu, dalam hadis riwayat Imam asy-Syafi’i, disebutkan bahwa sahabat seperti Ibnu Umar mengumandangkan takbir sejak berangkat menuju tempat salat Id hingga pelaksanaan salat dimulai.
Ini menunjukkan bahwa takbir adalah ibadah yang dianjurkan sekaligus ekspresi kegembiraan spiritual.
Tradisi takbir masuk ke Indonesia sejak abad ke-13 bersama penyebaran Islam oleh para ulama dan saudagar.
Di masa Wali Songo, takbir berkembang dengan sentuhan budaya lokal, seperti penggunaan bedug sebagai penanda waktu dan alat komunikasi masyarakat.
Dari sinilah lahir kekhasan Indonesia:
Menurut Nasaruddin, Indonesia menjadi salah satu negara dengan tradisi takbiran paling semarak di dunia.
Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Dartim, menjelaskan bahwa takbir berasal dari kata kabaro yang berarti mengagungkan.
“Takbiran itu membesarkan via nama-nama-Nya, membesarkan via kalimat-kalimat-Nya,” ujarnya.
Maknanya tidak berhenti di lisan, tetapi juga:
Bahkan, dalam hadis riwayat Ahmad, disebutkan bahwa takbir dapat menjadi salah satu amalan yang melebur dosa-dosa yang telah lalu.
Seiring perkembangan zaman, takbiran juga mengalami pergeseran.
Di satu sisi, ia menjadi semakin meriah dan kreatif. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran jika euforia justru menggeser esensi.
Dartim mengingatkan bahwa:
“Bukan takbirannya yang bermasalah, tapi cara kita membawakannya,” tegasnya.
Bagi umat Islam, takbir bukan hanya penutup Ramadhan, tetapi juga awal perjalanan baru setelah sebulan ditempa.
“Lafaz ‘Allahu Akbar’ adalah ungkapan yang sangat dahsyat, yang memberikan energi, kekuatan, dan semangat dalam kehidupan beragama,” ujar Nasaruddin.
Takbir mengingatkan bahwa kemenangan sejati bukan sekadar berakhirnya puasa, tetapi meningkatnya ketakwaan, kuatnya iman, dan kemampuan menjaga kebaikan setelah Ramadhan.
Menariknya, gema takbir kini tak hanya terdengar di satu wilayah.
Melalui kerja sama MABIMS, takbir Idul Fitri dikumandangkan lintas negara—Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura—sebagai simbol persatuan umat Islam di Asia Tenggara.
Baca juga: Tata Cara Shalat Idul Fitri Lengkap: Niat, Takbir 7 dan 5 Kali, hingga Bacaan yang Dianjurkan
Takbir adalah jembatan antara ritual, sejarah, dan budaya. Ia lahir dari ajaran Rasulullah, tumbuh di tengah masyarakat, dan terus hidup dalam berbagai bentuk di seluruh dunia.
Di setiap gema “Allahu Akbar”, tersimpan pesan sederhana namun mendalam:
bahwa manusia hanyalah kecil, dan hanya Allah yang Maha Besar.
Dan mungkin, di situlah letak keindahan takbir—ia bukan hanya didengar, tetapi juga dirasakan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang