TOKYO, KOMPAS.com - Di tengah dinginnya pagi di Tokyo, Jepang, sejumlah umat muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri, Sabtu (21/3/2026) lalu. Mereka berkumpul dalam satu tempat menyatukan rindu para perantau yang tidak mudik dan merayakan Lebaran jauh dari kampung halaman.
Bagi sebagian orang, Lebaran di negeri orang mungkin terasa sunyi. Namun bagi Swasta Putra Dianto, justru di situlah makna kebersamaan menemukan bentuk yang berbeda.
Ia sudah 17 tahun menetap dan hampir setiap Lebaran dijalani di Kamata, jauh dari keluarga di Indonesia. Meski begitu, ia tetap menjaga tradisi dengan caranya sendiri.
Hari itu dimulai lebih awal dari biasanya, pukul 05.00 pagi ia bersama sembilan temannya berangkat menuju lokasi salat Idul Fitri yaitu di komplek Sekolah Indonesia Tokyo, yang berada satu kawasan KBRI Tokyo.
Perjalanan ditempuh dengan menggunakan kereta yang harus berganti jalur dari Stasiun Shinagawa ke Meguro, dilanjutkan bus untuk menghindari dinginnya angin pagi. Semua dilakukan demi satu tujuan sederhana yaitu bisa mengikuti salat di kloter pertama.
“Lebaran di sini ya kebetulan hari Sabtu jadi lebih banyak jamaah yang sholat juga. Kalau tidak salah saat pengumuman disebutkan 6500 jamaah. Sholat di sini dibagi menjadi 4 kloter, kebetulan saya kloter pertama jadi masih tidak terlalu ramai karena pagi sekali,” ujar pria yang biasa disapa Swasta itu kepada Kompas.com.
Tidak lama berselang, area sekitar sudah dipadati jamaah dan kloter berikutnya bahkan meluber hingga ke jalan.
Swasta Putra Dianto bersama temannya saat mengikuti sholat Idul Fitri di bersama warga Indonesia yang mimilih tidak mudik dilaksanakan di kompleks Sekolah Indonesia Tokyo (MIT), Sabtu (21/3/2026) pagi.Rindu yang Dipertemukan di Perantauan
Lebaran di Tokyo bukan hanya soal ibadah, tetapi juga tentang bagaimana orang-orang Indonesia saling menemukan satu sama lain.
Sehari sebelumnya, beberapa temannya sudah berkumpul di Garuda Cafe miliknya. Mereka datang dari berbagai wilayah, bahkan ada yang dari Ibaraki, menempuh perjalanan hingga dua jam demi bisa merayakan bersama.
“Mereka sudah stanby juga disini dan ternyata baru dapat kabar jam 9 malam dari KBRI bahwa sholatnya tgl. 21,” kata Swasta Putra Dianto.
Sebab kebersamaan itu menjadi pengganti suasana kampung halaman yang tidak bisa dijangkau untuk merayakan hari kemenangan tahun ini.
Meski jauh dari Indonesia, tradisi Lebaran tetap dihidupkan. Usai sholat Idul Fitri, ia dan teman-temannya kembali ke Garuda Cafe yang disulap menjadi ruang berkumpul.
Ia sudah menyiapkan secara khusus hidangan khas Lebaran yang akrab di lidah sekaligus menghangatkan momen spesial, lontong sayur dan kolak.
“Ya acara khususnya kita makan-makan bersama sudah ada nyiapin menu khas lebaran untuk perjamuan teman-teman sendiri biar bisa ngumpul,” imbuhnya.
Meskipun suasana mungkin tidak semeriah di Indonesia, karena tidak ada keramaian dan rutinitas silaturahmi ke rumah-rumah selepas sholat ied. Namun, justru dalam kesederhanaan itu, kebersamaan terasa lebih dekat.
Sejumlah warga Indonesia yang berada tidak mudik dan tetap berada di Jepang, kumpul bersama merayakan Lebaran di Garuda Cafe Kamata, Tokyo, Sabtu (21/3/2026) malam.Toleransi yang Terasa Nyata
Di tengah perbedaan budaya, Lebaran di Tokyo juga menghadirkan pengalaman tentang toleransi. Pelaksanaan ibadah berjalan tertib, bahkan mendapat dukungan dari aparat setempat. Warga Jepang pun menunjukkan rasa hormat, bahkan ketertarikan.
“Kalau untuk warga lokal tidak ada masalah sih semua sama tertib karena selama penyelenggaraan sholat ied dibantu juga dengan beberapa polisi jepang,” ujar Swasta Putra Dianto.
Apalagi beberapa warga lokal terlihat menyaksikan dari sekitar lokasi, ada yang sekadar penasaran, ada pula yang ikut merayakan.
“Teman-teman saya banyak yang ngucapin dan antusias, ada beberapa orang jepang yang saat sholat ied ikut mungkin sudah masuk islam," kata pria asal Kota Malang, Jawa Timur itu
"Banyak juga saya lihat orang jepang yang ada disekitar masjid mungkin mereka sekedar ingin tahu, antusias juga mereka dan tidak merasa terganggu,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang