KOMPAS.com – Arus balik Lebaran sering kali menjadi fase yang paling menguras tenaga bagi para pemudik.
Setelah menikmati momen kebersamaan saat Idul Fitri, perjalanan kembali ke kota asal justru menghadirkan tantangan yang tidak kalah berat.
Kemacetan panjang, waktu tempuh yang berjam-jam, hingga kondisi tubuh yang mulai lelah menjadi kombinasi yang berisiko.
Di tengah situasi ini, muncul satu ancaman yang kerap luput dari perhatian, yaitu microsleep, kondisi tertidur sesaat yang bisa berakibat fatal saat berkendara.
Fenomena ini tidak hanya soal kelelahan biasa. Dalam banyak kasus, microsleep menjadi salah satu faktor utama kecelakaan lalu lintas, terutama saat arus balik yang identik dengan perjalanan jarak jauh.
Microsleep adalah kondisi ketika seseorang “tertidur” dalam waktu sangat singkat, biasanya antara dua hingga 10 detik, tanpa disadari.
Dalam rentang waktu tersebut, otak berhenti merespons lingkungan sekitar, meskipun mata bisa saja masih terbuka.
Menurut kajian dalam bidang Neuroscience, microsleep terjadi akibat kelelahan ekstrem dan gangguan ritme sirkadian tubuh, yaitu jam biologis yang mengatur siklus tidur dan bangun.
Dampaknya bisa sangat serius. Dalam buku Why We Sleep karya Matthew Walker, dijelaskan bahwa kurang tidur dapat menurunkan fungsi kognitif secara drastis, bahkan setara dengan kondisi mabuk alkohol dalam hal menurunnya refleks dan konsentrasi.
Bayangkan jika kondisi ini terjadi saat mengemudi dengan kecepatan tinggi. Dalam hitungan detik, kendaraan bisa melaju puluhan hingga ratusan meter tanpa kendali.
Baca juga: Jadwal Cuti Bersama Lebaran 2026, Ini Rincian Libur, Aturan ASN, hingga Skema Mudik
Fenomena microsleep menjadi semakin berbahaya saat arus balik Lebaran. Volume kendaraan yang tinggi membuat pengemudi dituntut untuk terus fokus dalam waktu lama.
Di sisi lain, kelelahan akibat aktivitas selama libur Lebaran—mulai dari perjalanan mudik, silaturahmi, hingga kurang tidur membuat kondisi fisik tidak optimal.
Data dari berbagai lembaga keselamatan jalan menunjukkan bahwa kelelahan pengemudi berkontribusi besar terhadap kecelakaan.
Bahkan, beberapa studi regional menyebutkan bahwa sekitar 20 persen kecelakaan berkaitan dengan kondisi mengantuk atau kehilangan fokus.
Situasi ini menjadi alarm serius bagi para pemudik yang hendak kembali setelah merayakan Idul Fitri.
Salah satu hal yang membuat microsleep berbahaya adalah kemunculannya yang sering tidak disadari. Namun sebenarnya, tubuh memberikan sinyal awal sebelum kondisi ini terjadi.
Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain:
Dalam buku Sleep Deprivation and Disease karya Eve Van Cauter, dijelaskan bahwa kelelahan kronis dapat memengaruhi sistem saraf dan hormon, sehingga mempercepat munculnya kondisi seperti microsleep.
Jika gejala ini mulai dirasakan, langkah terbaik bukanlah memaksakan diri, melainkan segera berhenti dan beristirahat.
Baca juga: Mudik Lebaran 2026 Jangan Tinggalkan Sampah! MUI Ingatkan Bahaya Dampak Lingkungan
Menghindari microsleep bukan hanya soal kewaspadaan, tetapi juga tentang manajemen kondisi tubuh. Ada beberapa langkah yang terbukti efektif untuk menekan risiko ini.
Pertama, pastikan tidur cukup sebelum perjalanan. Idealnya, pengemudi mendapatkan waktu tidur minimal 7–8 jam agar tubuh berada dalam kondisi optimal.
Kedua, lakukan istirahat secara berkala. Para ahli menyarankan berhenti setiap dua hingga tiga jam di rest area atau tempat aman untuk meregangkan tubuh dan menyegarkan pikiran.
Ketiga, hindari memaksakan diri saat mengantuk. Banyak kecelakaan terjadi karena pengemudi merasa “masih mampu” melanjutkan perjalanan, padahal tubuh sudah memberi sinyal kelelahan.
Keempat, konsumsi makanan ringan atau minuman yang membantu menjaga konsentrasi. Meski tidak menggantikan istirahat, cara ini dapat membantu menjaga kewaspadaan sementara.
Seiring perkembangan teknologi otomotif, banyak kendaraan kini dilengkapi fitur keselamatan seperti sistem peringatan kantuk atau Advanced Driver Assistance Systems (ADAS).
Fitur ini dapat membantu mendeteksi pola mengemudi yang tidak normal, seperti pergerakan setir yang tidak stabil. Namun, teknologi tetap memiliki keterbatasan.
Dalam perspektif keselamatan berkendara, faktor manusia tetap menjadi penentu utama. Tidak ada sistem yang mampu sepenuhnya menggantikan kesadaran dan kondisi fisik pengemudi.
Baca juga: Niat dan Tata Cara Shalat Sunnah Safar, Bisa Dikerjakan Saat Hendak Mudik dan Kembali ke Perantauan
Arus balik Lebaran bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi juga ujian kesiapan fisik dan mental.
Microsleep menjadi pengingat bahwa kelelahan kecil sekalipun dapat berujung pada risiko besar.
Dalam konteks ini, menjaga kondisi tubuh bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Istirahat yang cukup, perencanaan perjalanan yang matang, serta kesadaran terhadap batas kemampuan diri menjadi kunci utama keselamatan.
Di tengah padatnya arus balik setelah Idul Fitri, satu keputusan sederhana, berhenti sejenak untuk beristirahat bisa menjadi pembeda antara perjalanan yang selamat dan risiko yang tidak diinginkan.
Pada akhirnya, perjalanan yang aman bukan hanya tentang sampai tujuan, tetapi juga memastikan setiap orang tiba dengan selamat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang