KOMPAS.com – Di tepian delta Sungai Tigris yang subur, pernah berdiri sebuah kota pelabuhan yang ramai dan strategis, Ubullah.
Dalam lintasan sejarah, kota ini tidak sekadar menjadi simpul perdagangan, tetapi juga saksi peralihan besar dari kekuasaan Persia menuju era Islam awal.
Namun hari ini, nama Ubullah nyaris tak terdengar. Lalu, ke mana sebenarnya kota penting itu “menghilang”?
Baca juga: Khalid bin Walid, Dari Lawan Tangguh Menjadi Pedang Allah
Dalam literatur klasik, Ubullah yang juga disebut Obolla dikenal sebagai pelabuhan utama di wilayah Irak selatan pada masa pra-Islam hingga awal abad pertengahan.
Letaknya berada di sekitar muara Sungai Tigris, dekat kawasan yang kini menjadi Shatt al-Arab, menjadikannya titik strategis jalur perdagangan antara Mesopotamia, India, hingga kawasan Timur Jauh.
Mengacu pada Encyclopaedia Iranica, Ubullah terhubung dengan jaringan kanal penting seperti Nahr al-Obolla dan Nahr Maqil, yang menghubungkannya langsung dengan Basrah. Infrastruktur ini memperkuat posisinya sebagai pusat distribusi barang dan mobilitas manusia.
Sejumlah sejarawan bahkan mengaitkan Ubullah dengan “Apologos”, pelabuhan kuno yang disebut dalam Periplus of the Erythraean Sea (abad ke-2 M), sebuah catatan penting tentang jalur perdagangan maritim dunia kuno.
Jika benar demikian, maka Ubullah telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan global jauh sebelum munculnya Islam.
Dalam buku The Early Islamic Conquests karya Fred M. Donner, wilayah Irak selatan termasuk Ubullah disebut sebagai kawasan vital yang diperebutkan karena kekayaan ekonomi dan posisi geografisnya yang menguntungkan.
Pada masa Kekaisaran Sassaniyah Persia, Ubullah berkembang sebagai kota industri dan agraris.
Beberapa sumber menyebut kota ini didirikan atau dikembangkan oleh Ardashir I, pendiri dinasti Sassaniyah.
Kota ini dikenal sebagai pusat produksi tekstil, terutama kain linen, sorban, dan saputangan berkualitas tinggi.
Selain itu, tanah di sekitarnya yang subur menjadikan Ubullah sebagai daerah pertanian produktif.
Pengembara terkenal, Naser-e Khosraw, dalam catatan perjalanannya pada abad ke-11, menggambarkan Ubullah sebagai kota dengan pasar yang hidup, masjid megah, dan bangunan publik yang terawat.
Ini menunjukkan bahwa bahkan setelah masa awal Islam, Ubullah masih mempertahankan peran ekonominya.
Baca juga: 5 Muslimah Hebat Zaman Nabi: Kisah Inspiratif dan Perannya
Transformasi besar dalam sejarah Ubullah dimulai ketika ekspansi Islam mencapai wilayah Irak pada masa Khalifah Abu Bakar.
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa setelah menaklukkan Yamamah, Khalid bin Walid diperintahkan untuk bergerak menuju Irak. Salah satu target strategisnya adalah Ubullah, yang saat itu menjadi benteng kuat Persia.
Pemimpin Persia di wilayah itu, Hurmuz, dikenal keras dan segera menyiapkan pasukan besar. Pertempuran yang terjadi kemudian dikenal sebagai Perang Dzatus Salasil, karena sebagian pasukan Persia dirantai untuk menjaga formasi.
Khalid bin Walid, yang memimpin sekitar 18.000 pasukan, menghadapi tantangan berat, termasuk kekurangan air. Namun, hujan deras yang turun di tengah kondisi sulit menjadi titik balik moral pasukan Muslim.
Dalam duel satu lawan satu, Khalid berhasil mengalahkan Hurmuz. Kemenangan ini membuka jalan bagi runtuhnya pertahanan Persia di Ubullah.
Meski demikian, sebagaimana dicatat dalam berbagai sumber sejarah Islam, pasukan Muslim tidak melakukan kekerasan terhadap warga sipil.
Khalid hanya memerangi tentara, sementara penduduk sipil tetap dilindungi, sebuah pendekatan yang menjadi ciri ekspansi Islam awal.
Menariknya, meskipun berhasil ditaklukkan, Ubullah tidak berkembang menjadi pusat kekuasaan Islam. Sebaliknya, peran tersebut justru diambil alih oleh kota baru: Basrah.
Dalam buku The Great Arab Conquests karya Hugh Kennedy, disebutkan bahwa pendirian Basrah oleh Utbah bin Ghazwan menjadi titik penting dalam strategi militer dan administrasi Islam di Irak.
Basrah dirancang sebagai kota garnisun (amsar) yang lebih terorganisasi dan dekat dengan jalur ekspansi ke wilayah lain.
Ubullah, meskipun tetap menjadi pelabuhan aktif untuk beberapa waktu, perlahan kehilangan peran strategisnya.
Aktivitas perdagangan dan administrasi berpindah ke Basrah yang lebih modern dan terencana.
Baca juga: Kisah Abdullah bin Mubarak, Ulama Ahli Hadits yang Ibadah Hajinya Digantikan Malaikat
Seiring waktu, terutama setelah periode kekhalifahan Abbasiyah dan masuknya invasi Mongol, Ubullah mengalami kemunduran drastis.
Pengelana terkenal Ibnu Battuta, dalam catatannya pada abad ke-14, menggambarkan Ubullah hanya sebagai desa kecil yang jauh dari kejayaannya di masa lalu.
Ini menunjukkan bahwa kota tersebut telah kehilangan signifikansinya secara ekonomi dan politik.
Faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Ubullah antara lain:
Secara fisik, Ubullah tidak benar-benar “hilang”. Lokasinya diyakini berada di sekitar kawasan Al-Asar di Basrah modern, Irak. Namun, tidak banyak peninggalan yang tersisa untuk menandai kejayaan masa lalunya.
Kini, Ubullah lebih hidup dalam catatan sejarah daripada dalam realitas geografis. Ia menjadi contoh bagaimana sebuah kota besar bisa meredup bukan karena kehancuran seketika, tetapi karena perubahan perlahan dalam dinamika politik, ekonomi, dan lingkungan.
Kisah Ubullah mengajarkan bahwa kejayaan sebuah kota tidak selalu abadi. Ia bisa memudar ketika pusat kekuasaan bergeser, ketika jalur perdagangan berubah atau ketika strategi politik memilih tempat lain sebagai pusat peradaban.
Dari pelabuhan internasional yang menghubungkan dunia Timur, menjadi kota kecil yang nyaris terlupakan, Ubullah adalah potret nyata bagaimana sejarah bekerja, tidak selalu dengan ledakan besar, tetapi sering kali melalui perubahan sunyi yang berlangsung perlahan.
Dan di balik “hilangnya” Ubullah, tersimpan jejak penting tentang pertemuan dua peradaban besar, Persia dan Islam. Sebuah kisah yang masih layak untuk terus digali dan dikenang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang