Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Ulama Membaca Buku: Bukan Sekadar Banyak, Tapi Mendalam dan Bertahap

Kompas.com, 6 April 2026, 09:47 WIB
Add on Google
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Tradisi membaca para ulama Islam ternyata tidak sekadar soal banyaknya buku yang dilahap, tetapi lebih pada kedalaman pemahaman dan metode yang sistematis.

Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DKI Jakarta, Nur Fajri Romadhon, dalam sebuah kajian di Jakarta.

Dalam agenda kajian yang diselenggarakan KADAR bersama Penerbit Irfani pada Kamis (30/03/2026), Nur Fajri Romadhon memaparkan bagaimana cara ulama membaca buku yang terbukti mampu melahirkan peradaban besar dalam sejarah Islam.

Menurutnya, metode membaca dalam Islam bersifat ijtihadi atau terbuka, sehingga tidak ada satu cara baku yang harus diikuti.

Baca juga: Surga Mawar Arab Saudi! Panen Taif Melimpah, Hasilkan Minyak Wangi Termahal Dunia

Meski demikian, jejak para ulama tetap menjadi rujukan penting dalam membangun tradisi literasi yang kuat.

Mengacu pada pemikiran Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, Nur Fajri menekankan pentingnya membaca secara bertahap (tadarruj).

Ia menjelaskan bahwa pembelajar sebaiknya tidak langsung membaca kitab berat tanpa fondasi dasar.

“Mulailah dari buku yang ringkas untuk memahami gambaran umum, baru kemudian masuk ke pembahasan yang lebih detail,” ujarnya.

Tanpa tahapan tersebut, seseorang berisiko kehilangan arah dan justru tidak mampu menyelesaikan bacaan yang terlalu kompleks sejak awal.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya keterbukaan wawasan. Spesialisasi memang diperlukan, tetapi tidak boleh membuat seseorang terjebak menjadi “katak dalam tempurung”.

Ia mencontohkan ulama klasik seperti Ibnu Muflih yang tetap memiliki wawasan lintas disiplin meski memiliki keahlian utama.

Dalam hal metode belajar, Nur Fajri menegaskan bahwa belajar dari guru tetap menjadi fondasi utama, terutama pada tahap awal.

Namun seiring berkembangnya kemampuan intelektual, membaca mandiri akan menjadi aktivitas yang lebih dominan.

“Pada level tertentu, membaca bahkan bisa lebih intens dibandingkan menghadiri majelis ilmu,” katanya.

Menariknya, ia juga menyoroti aspek emosional dalam membaca. Mengutip pandangan Al-Jahiz dalam Kitab al-Hayawan, ia menyebut bahwa kecintaan terhadap buku seharusnya bisa menandingi kesenangan terhadap hiburan.

“Membeli buku bukan sekadar konsumsi, tapi investasi intelektual,” tegasnya.

Lebih jauh, Nur Fajri mengingatkan bahwa esensi ilmu bukan terletak pada jumlah buku yang dimiliki, melainkan pada pemahaman yang mendalam.

Hal ini sejalan dengan nasihat Ibnu Jama’ah yang menganjurkan membaca secara sistematis, mulai dari daftar isi hingga kesimpulan sebelum mendalami isi buku secara keseluruhan.

Para ulama juga dikenal memiliki adab tinggi terhadap buku. Mereka menjaga fisik buku dengan baik, tidak melipat halaman, serta tidak menjadikannya alas.

Bahkan tokoh seperti Ibnu Taimiyah tetap membaca dalam kondisi sakit karena meyakini ilmu membawa ketenangan jiwa.

Dalam praktik membaca, dikenal pula teknik seperti skimming dan scanning—yang dalam tradisi ulama disebut jard dan fahsh.

Namun, teknik ini dinilai efektif hanya bagi pembaca yang sudah memiliki dasar keilmuan yang kuat.

Baca juga: Idul Adha 2026 Muhammadiyah Tanggal Berapa? Ini Jadwal Versi Kalender Global Tunggal

Di tingkat lanjut, metode belajar ulama menggabungkan membaca dan menulis. Ulama besar seperti Imam Nawawi menjadikan aktivitas menulis sebagai cara memperdalam pemahaman. Tradisi ini juga diwarisi ulama Nusantara seperti Tengku Hasbi Ash-Shiddieqy.

Sebagai penutup, Nur Fajri mengutip pandangan Al-Muzani bahwa membaca satu buku berulang kali jauh lebih bernilai dibanding membaca banyak buku tanpa pendalaman.

Paparan ini menegaskan bahwa tradisi membaca ala ulama bukan soal kecepatan atau jumlah, melainkan kualitas interaksi dengan ilmu. Sebuah pelajaran penting di tengah budaya membaca instan di era digital saat ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Makkah Bersolek Besar-besaran: Bandara Baru dan Metro Disiapkan, Layanan Jemaah Ditargetkan Makin Nyaman
Makkah Bersolek Besar-besaran: Bandara Baru dan Metro Disiapkan, Layanan Jemaah Ditargetkan Makin Nyaman
Aktual
Keberangkatan Petugas Haji 2026 Tetap Sesuai Jadwal, Pemerintah Siapkan Mitigasi Konflik Timur Tengah
Keberangkatan Petugas Haji 2026 Tetap Sesuai Jadwal, Pemerintah Siapkan Mitigasi Konflik Timur Tengah
Aktual
683 Calon Jemaah Haji Kuningan 2026 Siap Berangkat, Terbagi Jadi Dua Kloter
683 Calon Jemaah Haji Kuningan 2026 Siap Berangkat, Terbagi Jadi Dua Kloter
Aktual
Jemaah Haji dan Umrah Pemegang Kartu Nusuk Kini Bisa Dapat Diskon dan Penawaran Khusus di Arab Saudi
Jemaah Haji dan Umrah Pemegang Kartu Nusuk Kini Bisa Dapat Diskon dan Penawaran Khusus di Arab Saudi
Aktual
Apa Itu Skema Murur dan Tanazul? Ini Pengertian dan Penerapannya untuk Jemaah Haji Reguler 2026
Apa Itu Skema Murur dan Tanazul? Ini Pengertian dan Penerapannya untuk Jemaah Haji Reguler 2026
Aktual
Sejarah Jembatan King Fahd: Nadi Persaudaraan Saudi-Bahrain Sejak 1986
Sejarah Jembatan King Fahd: Nadi Persaudaraan Saudi-Bahrain Sejak 1986
Aktual
6 Teks Sambutan Walimatussafar untuk Persiapan Keberangkatan Haji 2026 Penuh Doa dan Harapan
6 Teks Sambutan Walimatussafar untuk Persiapan Keberangkatan Haji 2026 Penuh Doa dan Harapan
Aktual
Saudi Setop Akses Jembatan King Fahd, Waspada Ancaman Keamanan
Saudi Setop Akses Jembatan King Fahd, Waspada Ancaman Keamanan
Aktual
Unik! Negara Kecil di Eropa Ini Mayoritas Penduduknya Hampir 100% Muslim
Unik! Negara Kecil di Eropa Ini Mayoritas Penduduknya Hampir 100% Muslim
Aktual
Ke Arab Saudi, Delegasi Indonesia Intip Peluang Emas di Industri Mawar Dunia
Ke Arab Saudi, Delegasi Indonesia Intip Peluang Emas di Industri Mawar Dunia
Aktual
Tabula Rogeriana, Peta Dunia Karya Ilmuwan Muslim yang Mengubah Peradaban
Tabula Rogeriana, Peta Dunia Karya Ilmuwan Muslim yang Mengubah Peradaban
Aktual
Jadwal Libur Idul Adha 2026 dan Peluang Long Weekend, Serta Waktu Puasa Dzulhijjah hingga Hari Tasyrik
Jadwal Libur Idul Adha 2026 dan Peluang Long Weekend, Serta Waktu Puasa Dzulhijjah hingga Hari Tasyrik
Aktual
Biaya Haji 2026 Turun Rp 2 Juta Meski Harga Avtur Naik, Presiden Prabowo Pastikan Tak Bebani Jemaah
Biaya Haji 2026 Turun Rp 2 Juta Meski Harga Avtur Naik, Presiden Prabowo Pastikan Tak Bebani Jemaah
Aktual
Pemeriksaan Istithaah Kesehatan, Tahapan Wajib Jemaah Haji Sebelum Berangkat ke Tanah Suci
Pemeriksaan Istithaah Kesehatan, Tahapan Wajib Jemaah Haji Sebelum Berangkat ke Tanah Suci
Aktual
Embarkasi Haji Kulon Progo Operasikan Layanan Berbasis Hotel Berbintang 3 dan 4 untuk Layani Jemaah
Embarkasi Haji Kulon Progo Operasikan Layanan Berbasis Hotel Berbintang 3 dan 4 untuk Layani Jemaah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com