KOMPAS.com – Di tengah semangat umat Islam untuk menunaikan ibadah haji, masih beredar satu anggapan yang cukup mengusik, bahwa Tanah Suci adalah tempat “pembalasan” atas dosa-dosa yang pernah dilakukan di dunia.
Isu ini tidak jarang membuat sebagian orang merasa ragu, bahkan takut berangkat ke Makkah dan Madinah. Mereka khawatir, kesalahan di masa lalu akan “dibayar tunai” selama berada di sana. Namun, benarkah demikian?
Pandangan bahwa kejadian negatif di Tanah Suci merupakan azab sering kali muncul dari pemahaman yang tidak utuh.
Misalnya, ketika ada jemaah tersesat, sakit, atau mengalami kesulitan tertentu, sebagian orang langsung mengaitkannya dengan hukuman dari Allah SWT.
Padahal, dalam realitasnya, ibadah haji adalah perjalanan panjang yang melibatkan jutaan orang dari berbagai negara.
Faktor kelelahan, perbedaan budaya, kondisi cuaca ekstrem, hingga keterbatasan fisik sangat memengaruhi pengalaman jemaah.
Dalam konteks ini, kejadian-kejadian tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari dinamika perjalanan, bukan bentuk pembalasan.
Baca juga: Doa Melepas Jemaah Haji Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Melansir dari laman Nahdlatul Ulama, Mustasyar Dini PPIH Arab Saudi, Abdul Moqsith Ghazali menegaskan pentingnya berpikir jernih dalam memahami kondisi jemaah haji.
Ia menjelaskan bahwa fenomena seperti jemaah yang tersesat atau menunjukkan perilaku tidak biasa, termasuk pada lansia yang mengalami demensia, bukanlah bentuk azab.
Kondisi tersebut sangat mungkin terjadi karena faktor kelelahan, perubahan lingkungan, hingga tekanan fisik akibat suhu panas di Arab Saudi.
“Ini bukan azab. Kita perlu memahami bahwa jemaah sedang beradaptasi dengan kondisi baru, apalagi setelah perjalanan panjang,” ujarnya.
Penjelasan ini menjadi penting, terutama untuk menghindari stigma yang justru dapat menimbulkan kecemasan bagi jemaah dan keluarganya.
Dalam ajaran Islam, seseorang yang dapat menunaikan ibadah haji sejatinya adalah tamu Allah. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini.
Al-Qur’an dan hadis menegaskan bahwa ibadah haji adalah bentuk panggilan ilahi. Maka, kehadiran seorang Muslim di Tanah Suci seharusnya dipahami sebagai tanda kehormatan, bukan ancaman.
Dalam buku Manasik Haji dan Umrah karya Abdul Aziz Dahlan dijelaskan bahwa haji adalah momentum pembersihan diri, di mana seorang hamba kembali dalam keadaan suci seperti bayi yang baru dilahirkan, apabila dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.
Hal ini diperkuat oleh sabda Nabi Muhammad SAW bahwa haji yang mabrur tidak ada balasan lain kecuali surga.
Baca juga: Niat Ihram dan Doa Haji: Arab, Latin, Arti, dan Kemudahan bagi Jemaah
Tanah Suci justru dikenal sebagai tempat yang penuh keberkahan. Amal ibadah yang dilakukan di sana memiliki nilai yang berlipat ganda.
Shalat di Masjid Nabawi, misalnya, bernilai seribu kali lipat dibandingkan tempat lain, sementara shalat di Masjidil Haram bahkan mencapai seratus ribu kali lipat.
Ini menunjukkan bahwa Makkah dan Madinah adalah ruang spiritual yang dibuka seluas-luasnya bagi umat Islam untuk meraih ampunan dan rahmat Allah SWT.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menekankan bahwa keutamaan ibadah di tempat-tempat suci seharusnya mendorong rasa harap, bukan ketakutan berlebihan.
Salah satu kunci dalam menjalani ibadah haji adalah menjaga husnuzan atau prasangka baik kepada Allah.
Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Muhammad, Allah SWT berfirman bahwa Dia sesuai dengan prasangka hamba-Nya.
Artinya, jika seseorang datang dengan harapan dan keyakinan akan kasih sayang Allah, maka ia akan mendapatkan kebaikan tersebut.
Sebaliknya, prasangka buruk justru dapat membebani hati dan mengganggu kekhusyukan ibadah.
Dalam buku Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi, dijelaskan bahwa dzikir dan doa yang dilandasi keyakinan akan dikabulkan menjadi salah satu amalan yang mendekatkan seorang hamba kepada rahmat Allah.
Baca juga: Kumpulan Doa Haji dari Rasulullah: Agar Selamat dan Raih Haji Mabrur
Mengingat adanya hisab dan pertanggungjawaban di akhirat memang penting. Namun, hal itu seharusnya menjadi motivasi untuk memperbaiki diri, bukan alasan untuk menjauh dari ibadah.
Haji justru menjadi kesempatan terbaik untuk bertaubat, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan memulai lembaran baru kehidupan.
Dalam perspektif tasawuf, perjalanan ke Tanah Suci adalah simbol perjalanan batin menuju kedekatan dengan Tuhan.
Ketakutan yang didasarkan pada rumor tidak seharusnya menghalangi niat baik seseorang untuk menunaikan rukun Islam kelima.
Tanah Suci bukanlah tempat pembalasan dosa, melainkan tempat di mana pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya.
Dengan pemahaman yang benar, dukungan ilmu, serta niat yang tulus, ibadah haji akan menjadi pengalaman spiritual yang mendalam dan menenangkan.
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa besar dosa di masa lalu, tetapi seberapa besar harapan dan kesungguhan untuk kembali kepada Allah SWT.
Dan di Tanah Suci, setiap langkah sejatinya adalah undangan untuk mendekat, bukan untuk dihukum.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang