KOMPAS.com – Dalam tradisi Islam, predikat haji mabrur menjadi harapan tertinggi bagi setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Namun, sejarah Islam menyimpan sebuah kisah yang jarang terdengar, seorang ulama besar justru disebut memperoleh kemuliaan tersebut tanpa benar-benar berangkat ke Makkah.
Ia adalah Abdullah bin Al-Mubarak, seorang ulama, ahli hadis, sekaligus sufi yang hidup pada abad kedua Hijriah.
Kisahnya tidak hanya menjadi bahan renungan spiritual, tetapi juga pelajaran mendalam tentang makna keikhlasan dan prioritas amal dalam Islam.
Baca juga: Calon Jemaah Wajib Tahu! Persiapan Lengkap Haji 2026 Agar Mabrur
Dalam literatur klasik yang dikutip dari buku Sejarah Hidup Para Penyambung Lidah Nabi karya Imron Mustofa, Abdullah bin Al-Mubarak dikenal sebagai sosok ulama besar yang lahir di kota Marwa, wilayah Khurasan, pada tahun 118 Hijriah.
Ayahnya berasal dari Turki dan pernah menjadi budak pedagang, sementara ibunya berasal dari Khawarizmi.
Meski tumbuh dalam latar belakang sederhana, Abdullah bin Al-Mubarak tumbuh menjadi ulama yang disegani di dunia Islam.
Ia dikenal sebagai pribadi yang gemar menuntut ilmu, ahli dalam hadis, serta memiliki kebiasaan unik: bergantian antara beribadah haji dan berjihad fi sabilillah setiap tahunnya.
Baca juga: Kisah Haru Salman Al-Farisi, Pencari Kebenaran dari Persia
Kisah yang paling dikenal dari Abdullah bin Al-Mubarak terjadi ketika ia telah menyiapkan perjalanan haji. Ia membawa bekal besar dan telah bersiap membeli hewan tunggangan untuk menuju Makkah.
Namun dalam perjalanan menuju pasar Kufah, ia bertemu dengan seorang wanita miskin yang tengah memasak bangkai burung karena kelaparan bersama anak-anaknya.
Wanita tersebut menjelaskan bahwa ia terpaksa melakukannya karena sudah beberapa hari tidak memiliki makanan. Dalam kondisi itu, ia hanya berharap bisa menyelamatkan anak-anaknya dari kelaparan.
Mendengar kisah itu, hati Abdullah bin Al-Mubarak terguncang. Ia merasa bahwa kebutuhan wanita tersebut lebih mendesak daripada perjalanan hajinya.
Tanpa ragu, seluruh bekal yang ia siapkan untuk haji diserahkan kepada wanita tersebut. Ia kemudian membatalkan keberangkatannya ke Makkah pada tahun itu.
Setelah musim haji berlalu, para jamaah yang kembali dari Tanah Suci justru menyapa Abdullah bin Al-Mubarak dengan ucapan selamat atas hajinya.
Ia terkejut. Karena ia sendiri tidak pernah berangkat.
Namun peristiwa paling menggetarkan justru terjadi ketika ia bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW.
Dalam mimpi tersebut, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa amalnya diterima, bahkan Allah menggantikan keberangkatannya dengan malaikat yang menyerupai dirinya untuk menunaikan haji.
Kisah ini banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab adab dan tasawuf, serta disebut dalam literatur seperti Menempuh Jalan ke Surga karya Badiatul Muchlisin.
Baca juga: Kisah Uwais al-Qarni, Dipuji Rasulullah karena Baktinya kepada Sang Ibu
Para ulama tidak memahami kisah ini sebagai pengganti kewajiban haji, tetapi sebagai pelajaran spiritual tentang keutamaan amal sosial dan keikhlasan.
Dalam perspektif fikih, haji tetap wajib bagi yang mampu. Namun kisah ini menunjukkan bahwa nilai ibadah dalam Islam tidak hanya diukur dari bentuk ritual, tetapi juga dari ketulusan niat dan manfaat bagi sesama.
Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, dijelaskan bahwa keutamaan amal sangat ditentukan oleh niat, kepekaan sosial, dan tingkat pengorbanan seseorang terhadap kebutuhan orang lain.
Kisah Abdullah bin Al-Mubarak juga sering dijadikan contoh dalam konsep fiqh al-awlawiyyat atau prioritas amal.
Ketika dua kebaikan bertemu, perjalanan haji sunnah berulang dan menyelamatkan nyawa orang kelaparan, maka Islam menempatkan penyelamatan manusia sebagai prioritas utama.
Dalam buku Al-Halal wal Haram fil Islam karya Yusuf al-Qaradawi, dijelaskan bahwa syariat Islam sangat menekankan prinsip kemaslahatan, yaitu mendahulukan kebutuhan yang paling mendesak.
Kisah ini menyimpan pesan yang dalam: jalan menuju Allah tidak selalu harus melalui perjalanan jauh, tetapi bisa hadir melalui kepedulian kepada manusia yang sedang menderita.
Abdullah bin Al-Mubarak memilih menunda perjalanan ibadahnya demi menyelamatkan kehidupan orang lain. Dari sudut pandang spiritual, inilah yang menjadikan kisahnya begitu abadi.
Baca juga: Kisah Abu Hurairah, Sahabat Nabi Perawi Hadits Terbanyak dalam Sejarah Islam
Di era modern, kisah ini tetap relevan sebagai pengingat bahwa ibadah tidak terlepas dari realitas sosial.
Dalam banyak kajian fikih kontemporer, ulama menekankan bahwa kepedulian sosial adalah bagian dari inti ajaran Islam, bukan sekadar pelengkap.
Ketika seseorang memilih membantu sesama yang sangat membutuhkan, maka ia sedang menjalankan salah satu bentuk ibadah yang paling tinggi nilainya.
Kisah Abdullah bin Al-Mubarak bukan tentang menggugurkan kewajiban haji, tetapi tentang bagaimana Islam menempatkan kemanusiaan sebagai inti dari ibadah.
Ia tidak sekadar dikenang sebagai ulama yang saleh, tetapi juga sebagai simbol bahwa ketulusan bisa mengangkat derajat seseorang bahkan tanpa harus sampai ke Tanah Suci.
Dan dari kisah ini, tersisa satu pelajaran yang terus hidup: bahwa haji mabrur bukan hanya tentang siapa yang sampai ke Makkah, tetapi tentang siapa yang paling tulus dalam menjalani perintah Allah di setiap langkah kehidupannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang