Editor
KOMPAS.com - Kisah Uwais al-Qarni menjadi salah satu teladan penting dalam Islam tentang ketulusan dan bakti kepada orang tua.
Meski tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi Muhammad, namanya justru disebut dan dipuji oleh beliau.
Sosok ini dikenal sebagai bagian dari generasi tābi‘in yang hidup sezaman, namun belum pernah bertemu langsung dengan Nabi.
Walau begitu, keteladanan Uwais al-Qarni terus dikenang karena menunjukkan bahwa kemuliaan tidak selalu datang dari ketenaran.
Baca juga: Kisah Abu Hurairah, Sahabat Nabi Perawi Hadits Terbanyak dalam Sejarah Islam
Dilansir dari laman Kemenag Denpasar, Uwais al-Qarni lahir dan tinggal di wilayah Qaran, Yaman, dengan kehidupan yang sangat sederhana.
Ia bukan tokoh terkenal, bukan pula pemimpin, melainkan seorang lelaki biasa yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di balik kesederhanaannya, ia memiliki hati yang tulus dan penuh ketakwaan. Kehidupan yang jauh dari sorotan justru menjadi cermin ketenangan dan keikhlasan dirinya.
Baca juga: Kisah Ummu Mahjan, Marbot Wanita di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah SAW
Meski hidup pada masa Nabi Muhammad, Uwais al-Qarni tidak pernah bertemu langsung dengan beliau.Karena itu, para ulama memasukkannya ke dalam generasi tābi‘in.
Namun, keistimewaannya terletak pada pujian Nabi yang secara khusus menyebut namanya di hadapan para sahabat.
Hal ini menjadikan Uwais sosok yang sangat istimewa dalam sejarah Islam.
Hal paling menonjol dalam kehidupan Uwais al-Qarni adalah baktinya kepada sang ibu.
Ia merawat ibunya yang lanjut usia, lumpuh, dan mengalami kebutaan dengan penuh kesabaran.
Seluruh hidupnya didedikasikan untuk mengurus ibunya tanpa keluhan. Ketulusan inilah yang membuatnya berbeda dan menjadi alasan utama ia dipuji oleh Nabi.
Dilansir dari laman HIMPUH, dalam satu kisah, sang ibu meminta agar dapat menunaikan ibadah haji sebelum wafat.
Permintaan itu menjadi tantangan besar bagi Uwais al-Qarni yang hidup dalam keterbatasan.
Ia kemudian membeli seekor anak lembu dan melatih dirinya dengan menggendongnya setiap hari naik turun bukit.
Latihan ini dilakukan selama berbulan-bulan hingga tubuhnya kuat.
Ketika musim haji tiba, ia pun menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman menuju Makkah.
Perjalanan panjang dan berat itu dijalaninya demi memenuhi keinginan sang ibu. Setibanya di Ka’bah, ibunya menangis haru dan keduanya berdoa bersama.
“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.
Sang ibu keheranan dan bertanya, “Bagaimana dengan dosamu?”
Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”
Setelah peristiwa tersebut, Uwais al-Qarni dikisahkan sembuh dari penyakit kulit yang dideritanya sejak kecil, kecuali satu tanda di tubuhnya.
Tanda ini kemudian menjadi ciri yang dikenali oleh para sahabat Nabi.
Dalam riwayat Sahih Muslim, Nabi Muhammad menyebut bahwa akan datang seorang lelaki dari Yaman bernama Uwais al-Qarni yang doanya mustajab dan sangat berbakti kepada ibunya.
Nabi juga memerintahkan para sahabat untuk meminta didoakan jika bertemu dengannya.
Setelah wafatnya Nabi, kisah ini diingat oleh para sahabat, termasuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib.
Ketika rombongan dari Yaman datang ke Madinah, Umar mencari sosok tersebut. Saat akhirnya bertemu, Umar terkesan dengan kesederhanaan dan ketulusannya, lalu meminta doa darinya sebagaimana pesan Nabi.
“Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”
Kisah Uwais al-Qarni menunjukkan bahwa kemuliaan sejati terletak pada ketulusan hati dan bakti kepada orang tua.
Ia tidak dikenal karena kekuasaan atau peran besar dalam peperangan, melainkan karena keikhlasan dan pengabdiannya.
Meski tidak pernah bertemu Nabi secara langsung, kemuliaannya justru diakui oleh beliau.
Kisah ini menjadi pelajaran bahwa kesalehan dan ketulusan lebih bernilai daripada kemuliaan duniawi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang