KOMPAS.com – Padang Arafah bukan sekadar hamparan luas di Tanah Suci. Di balik perannya sebagai lokasi utama wukuf dalam ibadah haji, tersimpan kisah yang kerap diceritakan dalam literatur keislaman, pertemuan kembali Nabi Adam dan Siti Hawa setelah terpisah lama di bumi.
Kisah ini tidak hanya menghadirkan sisi historis dan spiritual, tetapi juga memberi pemaknaan mendalam terhadap pelaksanaan wukuf yang menjadi inti ibadah haji.
Padang Arafah dikenal sebagai lokasi penting dalam rangkaian ibadah haji. Setiap tanggal 9 Dzulhijjah, jutaan jemaah berkumpul di tempat ini untuk melaksanakan wukuf, sebuah rukun yang menentukan sah atau tidaknya haji seseorang.
Dalam sejumlah riwayat dan kajian ulama, Arafah diyakini sebagai tempat dipertemukannya kembali Nabi Adam dan Siti Hawa setelah keduanya diturunkan dari surga ke bumi.
Dalam buku Mecca the Blessed & Medina the Radiant karya Seyyed Hossein Nasr dijelaskan bahwa setelah diturunkan ke bumi, Nabi Adam berada di wilayah yang kini dikenal sebagai Sri Lanka, sementara Siti Hawa berada di Jazirah Arab.
Keduanya hidup terpisah dalam waktu yang panjang sebelum akhirnya dipertemukan kembali oleh kehendak Allah di Arafah.
Pertemuan ini kemudian diyakini menjadi salah satu asal-usul penamaan “Arafah”, dari kata ‘arafa yang berarti “mengetahui” atau “saling mengenal”.
Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Saat Wukuf di Arafah? Ini Amalan Utamanya
Sebelum pertemuan tersebut, Nabi Adam terlebih dahulu menerima kalimat taubat dari Allah, sebagaimana tertuang dalam Surah Al-A'raf ayat 23.
Ayat ini menjadi simbol awal perjalanan spiritual manusia: pengakuan kesalahan dan harapan akan ampunan Tuhan.
Dalam beberapa literatur klasik disebutkan, setelah menerima taubat, Nabi Adam diperintahkan untuk melakukan ibadah sebagai bentuk penghambaan.
Dalam proses itulah, Malaikat Jibril mengarahkan Nabi Adam menuju suatu tempat yang kemudian dikenal sebagai Arafah.
Di tempat inilah, menurut riwayat, Nabi Adam dan Siti Hawa bertemu kembali dan saling berpelukan setelah perpisahan panjang, sebuah momen yang sarat makna tentang penyesalan, harapan, dan kasih sayang.
Secara bahasa, wukuf berasal dari kata waqafa yang berarti berhenti atau berdiam diri. Namun dalam praktik ibadah haji, maknanya jauh lebih dalam.
Dalam buku Konsep Filosofis dan Mistis dalam Memahami Cabang Pengetahuan tentang Ketuhanan karya Zainudin dijelaskan bahwa wukuf adalah momen kontemplatif, ketika manusia “berhenti” dari aktivitas duniawi untuk sepenuhnya menghadap Allah.
Wukuf bukan hanya aktivitas fisik berada di Arafah, tetapi juga proses batin, refleksi diri, pengakuan dosa, dan pembaruan komitmen spiritual.
Makna ini sejalan dengan perjalanan Nabi Adam yang terlebih dahulu melalui fase penyesalan sebelum akhirnya dipertemukan kembali dengan pasangannya. Dengan kata lain, wukuf mencerminkan perjalanan manusia dari kesalahan menuju kesadaran.
Baca juga: Kumpulan Doa Haji dan Umrah Lengkap: Arab, Latin, Arti Sesuai Sunnah
Pentingnya wukuf ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW. Dalam buku Sejarah Ibadah Menelusuri Asal-usul, Memantapkan Penghambaan karya Syahruddin El Fikri, disebutkan sebuah riwayat ketika seorang sahabat bertanya tentang hakikat ibadah haji.
Nabi Muhammad menjawab:
“Inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Barangsiapa yang tiba sebelum salat pada malam Muzdalifah, maka hajinya telah sempurna.” (HR Ahmad, al-Bayhaqi, dan al-Hakim)
Hadis ini menunjukkan bahwa tanpa wukuf, rangkaian ibadah haji tidak dianggap sah. Karena itu, Arafah menjadi titik puncak sekaligus penentu dalam perjalanan spiritual seorang muslim.
Menariknya, istilah wukuf sering dikaitkan dengan wakaf karena memiliki akar kata yang sama, yakni “berhenti”. Namun keduanya memiliki dimensi yang berbeda.
Wakaf berorientasi pada aspek sosial, menghentikan kepemilikan harta untuk kemaslahatan umum.
Sementara wukuf bersifat spiritual, menghentikan kesibukan dunia untuk mendekat kepada Allah.
Dalam buku Fiqh al-Ibadat karya Wahbah Az-Zuhaili dijelaskan bahwa ibadah dalam Islam selalu memiliki keseimbangan antara dimensi vertikal (hubungan dengan Allah) dan horizontal (hubungan dengan sesama manusia). Wukuf dan wakaf menjadi contoh konkret dari keseimbangan tersebut.
Baca juga: Niat Ihram dan Doa Haji: Arab, Latin, Arti, dan Kemudahan bagi Jemaah
Kini, setiap musim haji, Padang Arafah dipenuhi jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia. Mereka datang dengan satu tujuan, berdiri, berdoa, dan memohon ampunan.
Meski zaman telah berubah, esensi wukuf tetap sama seperti yang dicontohkan dalam kisah Nabi Adam, kembali kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.
Di tengah teriknya matahari Arafah, setiap doa yang dipanjatkan seakan menjadi gema dari perjalanan panjang manusia sejak awal penciptaannya.
Kisah pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa di Arafah bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah simbol perjalanan manusia, dari kesalahan menuju kesadaran, dari perpisahan menuju pertemuan, dari dunia menuju Tuhan.
Wukuf mengajarkan bahwa dalam kehidupan yang serba cepat, manusia tetap membutuhkan satu momen untuk berhenti, merenung, memperbaiki diri, dan kembali kepada Sang Pencipta.
Dan di Arafah, pelajaran itu terasa begitu nyata.