Editor
KOMPAS.com - Ibadah kurban menjadi salah satu amalan utama umat Islam saat Hari Raya Idul Adha.
Dalam pelaksanaannya, umat Muslim menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi, atau unta sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Namun, di tengah masyarakat masih muncul pertanyaan mengenai alasan hewan kurban lebih dianjurkan berjenis kelamin jantan.
Baca juga: Perbedaan Kurban dan Akikah, Mulai dari Hukum, Waktu hingga Tujuannya
Penjelasan mengenai hal tersebut tidak hanya berkaitan dengan hukum fikih, tetapi juga menyangkut sunnah Nabi Muhammad SAW, kualitas hewan kurban, hingga hikmah di balik pelaksanaannya.
Dilansir dari laman Baznas, berikut penjelasan dan alasan hewan kurban jantan lebih dianjurkan dalam Islam sesuai syariat dan pandangan ulama.
Baca juga: Kurban Sapi Patungan atau Kambing Sendiri, Mana Lebih Utama? Ini Penjelasan Ulama
Anjuran memilih hewan jantan untuk kurban merujuk pada praktik yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Majah disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menyembelih dua domba jantan bertanduk, berwarna putih bercampur hitam, dan dalam kondisi sehat.
Dari riwayat tersebut, para ulama menyimpulkan bahwa hewan jantan lebih utama dijadikan hewan kurban.
Meski demikian, syariat Islam tidak menetapkan hewan jantan sebagai syarat mutlak sahnya kurban. Pemilihan hewan jantan lebih bersifat anjuran untuk mengikuti sunnah Nabi SAW.
Selain itu, hewan jantan umumnya memiliki tubuh lebih besar, lebih kuat, dan lebih mahal sehingga dianggap mencerminkan bentuk pengorbanan terbaik kepada Allah SWT.
Dalam Islam, kualitas hewan kurban menjadi bagian penting dalam pelaksanaan ibadah.
Hewan jantan dinilai memiliki tubuh lebih kokoh dan daging lebih banyak dibandingkan hewan betina.
Karena itu, hewan jantan dianggap lebih utama untuk dijadikan persembahan dalam ibadah kurban.
Selain faktor kualitas, penggunaan hewan jantan juga dinilai tidak mengganggu proses reproduksi ternak.
Berbeda dengan hewan betina produktif yang masih dapat berkembang biak, penyembelihan hewan jantan dianggap lebih maslahat karena tidak memengaruhi kelangsungan populasi ternak.
Sebaliknya, menyembelih hewan betina yang sedang bunting atau masih produktif dikhawatirkan dapat mengurangi populasi ternak dalam jangka panjang.
Dalam perspektif fikih, mayoritas ulama menyatakan hewan jantan maupun betina sama-sama sah dijadikan kurban selama memenuhi syarat syariat.
Menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, “Tidak makruh berkurban dengan hewan betina, namun hewan jantan lebih utama.”
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa kurban dengan hewan betina tetap diperbolehkan dan sah secara hukum Islam.
Karena itu, apabila kondisi ekonomi atau ketersediaan hewan membuat seseorang hanya dapat memperoleh hewan betina, maka kurban tetap dapat dilaksanakan dan tetap bernilai ibadah.
Syariat Islam juga memberikan kelonggaran selama hewan kurban memenuhi syarat seperti cukup umur, sehat, dan tidak cacat.
Sejumlah ulama juga memandang pemilihan hewan jantan memiliki makna simbolik dalam ibadah kurban.
Hewan jantan sering dikaitkan dengan kekuatan, ketegasan, dan nilai pengorbanan yang lebih besar.
Hal tersebut dianggap sejalan dengan semangat pengorbanan yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Menyembelih hewan jantan dipandang sebagai bentuk kesiapan seorang Muslim menyerahkan sesuatu yang bernilai tinggi demi meraih ridha Allah SWT.
Karena itu, pemilihan hewan jantan dalam kurban tidak hanya dipahami dari sisi hukum, tetapi juga mengandung nilai spiritual dan simbolik.
Anjuran memilih hewan jantan dalam ibadah kurban memiliki beberapa hikmah penting.
Selain mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, hewan jantan juga dinilai lebih berkualitas dan tidak mengganggu kelangsungan reproduksi ternak.
Namun, Islam tetap memberikan kemudahan bagi umat yang ingin berkurban menggunakan hewan betina selama memenuhi syarat sah kurban.
Dengan memahami alasan anjuran memilih hewan jantan, umat Islam diharapkan lebih selektif dalam menentukan hewan kurban dan semakin memahami makna ibadah kurban secara menyeluruh.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang