KOMPAS.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, banyak umat Islam mulai mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah kurban.
Namun, di tengah persiapan tersebut, muncul satu pertanyaan yang hampir selalu ramai dibahas setiap awal bulan Dzulhijjah, benarkah shohibul qurban dilarang memotong rambut dan kuku?
Larangan ini memang sering terdengar di kalangan masyarakat Muslim, terutama ketika memasuki 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.
Sebagian orang memilih tidak memotong kuku dan rambut sama sekali hingga hewan kurban disembelih.
Namun, tidak sedikit pula yang masih bingung mengenai hukum, dasar hadis, hingga konsekuensinya dalam Islam.
Lalu bagaimana sebenarnya penjelasan para ulama mengenai larangan tersebut?
Larangan bagi orang yang hendak berkurban untuk memotong rambut dan kuku bersumber dari hadis sahih riwayat Imam Muslim.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun hingga ia menyembelih kurbannya.” (HR Muslim No. 1977).
Hadis tersebut menjadi dasar utama dalam pembahasan fikih mengenai adab shohibul qurban menjelang Idul Adha.
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa larangan dimulai sejak masuknya 1 Dzulhijjah, tepatnya setelah matahari terbenam pada akhir bulan Dzulqa’dah, hingga hewan kurban selesai disembelih pada hari raya atau hari tasyrik.
Baca juga: Hukum Kurban untuk Orang yang Sudah Meninggal, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama
Shohibul qurban adalah orang yang berkurban atau pihak yang menanggung hewan kurban atas namanya sendiri.
Dalam praktiknya, larangan ini berlaku bagi orang yang berniat berkurban, bukan kepada seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah, kecuali mereka juga tercatat sebagai pemilik kurban secara khusus.
Dalam kitab Al-Majmu’ karya Imam Nawawi dijelaskan bahwa larangan tersebut berkaitan langsung dengan pemilik kurban, bukan seluruh keluarga atau orang yang diwakilinya menyembelih.
Karena itu, jika satu kambing diniatkan atas nama kepala keluarga, maka yang dianjurkan menahan diri dari memotong rambut dan kuku adalah shohibul qurban tersebut.
Para ulama menjelaskan bahwa terdapat beberapa hikmah di balik anjuran tersebut.
Salah satu hikmah yang paling sering disebut adalah bentuk penyerupaan spiritual dengan jamaah haji yang sedang ihram.
Jamaah haji yang berada dalam keadaan ihram juga dilarang memotong rambut dan kuku hingga tahallul.
Shohibul qurban dianjurkan menjaga sebagian adab tersebut sebagai bentuk penghayatan terhadap momentum Idul Adha dan ibadah kurban.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa larangan ini termasuk bagian dari adab ibadah kurban yang mengandung nilai spiritual dan penghambaan diri kepada Allah SWT.
Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa seluruh anggota tubuh shohibul qurban seakan “ikut terikat” dengan hewan kurban yang akan dipersembahkan kepada Allah SWT.
Makna simbolik ini menunjukkan kesungguhan dalam beribadah dan ketundukan penuh kepada perintah Allah.
Dalam kitab Subulus Salam karya Muhammad bin Ismail Ash-Shan’ani disebutkan bahwa larangan tersebut mengandung nilai pengagungan terhadap syiar kurban.
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah termasuk waktu paling utama dalam Islam. Rasulullah SAW menyebut amal saleh pada hari-hari tersebut sangat dicintai Allah SWT.
Oleh karena itu, menjaga rambut dan kuku menjadi salah satu bentuk kesadaran spiritual agar seorang Muslim lebih fokus memperbanyak ibadah, dzikir, sedekah, dan persiapan kurban.
Baca juga: Kurban Sapi Patungan atau Kambing Sendiri, Mana Lebih Utama? Ini Penjelasan Ulama
Para ulama ternyata memiliki pendapat berbeda mengenai hukum larangan tersebut.
Mazhab Hanbali memandang larangan ini bersifat haram berdasarkan zahir hadis riwayat Muslim.
Artinya, shohibul qurban tidak boleh sengaja memotong rambut atau kuku hingga hewan kurban disembelih.
Sementara mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i berpendapat hukumnya makruh, bukan haram. Jika seseorang tetap memotong rambut atau kuku, maka kurbannya tetap sah dan tidak ada kewajiban membayar denda.
Pendapat ini dijelaskan Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim. Menurutnya, larangan tersebut lebih dekat pada anjuran adab dan kesunnahan.
Karena itu, sebagian ulama menekankan bahwa yang paling utama adalah berusaha mengikuti sunnah Rasulullah SAW selama mampu.
Banyak masyarakat khawatir ibadah kurbannya batal jika terlanjur memotong kuku atau rambut.
Padahal, para ulama sepakat bahwa hal tersebut tidak membatalkan kurban.
Dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah dijelaskan bahwa jika seseorang melanggar larangan tersebut, maka ia tetap diperbolehkan berkurban dan kurbannya sah.
Hanya saja, ia dianggap meninggalkan keutamaan atau adab yang dianjurkan Rasulullah SAW.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan tidak berlebihan dalam menyikapi persoalan ini, tetapi tetap menghormati perbedaan pendapat ulama.
Baca juga: Jangan Keliru! Ini Panduan Menyembelih Hewan Kurban beserta Niat & Pembagian Sesuai Syariat
Larangan memotong rambut dan kuku berakhir setelah hewan kurban disembelih.
Jika seseorang menyembelih kurbannya pada 10 Dzulhijjah setelah salat Id, maka setelah itu ia boleh memotong rambut dan kuku.
Namun, jika penyembelihan dilakukan pada hari tasyrik tanggal 11, 12, atau 13 Dzulhijjah, maka larangan tetap berlaku sampai proses penyembelihan selesai.
Ibadah kurban pada dasarnya bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga latihan ketundukan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS Al-Hajj: 37)
Ayat tersebut menegaskan bahwa inti kurban terletak pada ketakwaan dan keikhlasan hati.
Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa ibadah kurban mengajarkan manusia untuk menundukkan hawa nafsu dan mendekatkan diri kepada Allah melalui pengorbanan terbaik yang dimiliki.
Oleh karena itu, menjaga adab selama Dzulhijjah, termasuk tidak memotong rambut dan kuku bagi shohibul qurban, dipandang sebagai bagian dari upaya menghidupkan nilai spiritual Idul Adha.
Di tengah kesibukan mempersiapkan hewan kurban dan kebutuhan hari raya, anjuran ini menjadi pengingat bahwa Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan, tetapi juga tentang ketaatan, kesabaran, dan penghambaan diri kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang