Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bupati Bandung Ajak Warga Nikah Sederhana di KUA untuk Hindari Utang demi Resepsi Mewah

Kompas.com, 9 Mei 2026, 19:32 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Fenomena masyarakat berutang demi pesta pernikahan kini menjadi perhatian pemerintah daerah di Jawa Barat.

Tidak sedikit keluarga yang terpaksa meminjam uang ke rentenir hingga pinjaman online hanya untuk menggelar resepsi mewah.

Karena itu, akad nikah sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA) dinilai lebih realistis dan bermanfaat untuk masa depan rumah tangga.

Baca juga: Kemenag Bangun 1.758 Gedung KUA dengan SBSN untuk Perkuat Layanan Keagamaan

Pernikahan sederhana di KUA mulai didorong sebagai solusi agar pasangan muda tidak terbebani biaya resepsi yang mahal.

Bupati Bandung Dukung Nikah Sederhana di KUA

Bupati Bandung, Dadang Supriatna, mendukung ajakan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi agar masyarakat menggelar pernikahan secara sederhana tanpa pesta besar yang membebani ekonomi keluarga.

Baca juga: Cara Daftar Nikah di KUA 2026: Alur Online-Offline dan Biaya Resminya

Menurut Dadang, akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) tanpa harus disatukan dengan resepsi besar bisa menjadi pilihan yang lebih praktis, sederhana, dan hemat biaya.

"Sudah akad nikah di tempat KUA yang tentunya ini lebih simpel dan lebih efektif dan lebih sederhana dan lebih murah," ujarnya usai kegiatan pelepasan jemaah haji Kabupaten Bandung, Sabtu (9/5/2026).

Ia menilai saat ini masih banyak masyarakat yang merasa terbebani tuntutan menggelar resepsi pernikahan mewah demi gengsi sosial.

Jangan Sampai Nikah Mewah Berujung Utang

Dadang mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri menggelar pesta besar hingga harus berutang demi biaya pernikahan.

Menurutnya, kondisi tersebut justru bisa menjadi beban ekonomi baru setelah pasangan resmi menikah.

"Jangan sampai ada kejadian bahwa yang nikah, pinjam kepada bank Emok (bank keliling atau rentenir) atau pinjaman online (Pinjol) yang pada akhirnya jadi beban ke depannya," katanya.

Ajakan serupa sebelumnya juga disampaikan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia menilai fenomena pesta pernikahan besar kerap membuat keluarga mengalami tekanan finansial.

"Saya melihat banyak orang tua yang menikahkan anaknya dengan cara berutang ke sana sini, ada yang menjual sawah, pinjam ke koperasi, bank, bahkan pinjol. Usai pernikahan bukan kebahagiaan yang didapat, tapi justru penderitaan," ucapnya.

Dana Pernikahan Disarankan untuk Persiapan Masa Depan  

Dedi menyarankan pasangan dengan keterbatasan ekonomi cukup melangsungkan akad nikah di KUA tanpa pesta besar.

Menurutnya, dana yang tersedia akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk kebutuhan jangka panjang setelah menikah.

"Uangnya bisa digunakan untuk DP rumah, modal usaha, atau kebutuhan lain yang lebih bermanfaat bagi kehidupan rumah tangga. Lebih baik jadi raja selamanya daripada raja sehari tapi sengsara selamanya," ujarnya.

Ajakan menikah sederhana ini diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat bahwa esensi pernikahan bukan terletak pada kemewahan pesta, melainkan kesiapan membangun kehidupan rumah tangga yang lebih tenang dan sejahtera.

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul "Dukung KDM, Bupati Bandung Ajak Masyarakat Nikah di KUA: Jangan Pinjam ke Bank Emok atau Pinjol"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Tradisi Buka Luwur Sunan Kudus 2026 Bagikan 34.000 Bungkus Nasi, Warga Antre Sejak Subuh
Tradisi Buka Luwur Sunan Kudus 2026 Bagikan 34.000 Bungkus Nasi, Warga Antre Sejak Subuh
Aktual
5 Hari Sebelum Kloter Terakhir Pulang, Petugas Haji Diminta Tetap Kencangkan Ikat Pinggang
5 Hari Sebelum Kloter Terakhir Pulang, Petugas Haji Diminta Tetap Kencangkan Ikat Pinggang
Aktual
Doa Mengusap Kepala Anak Yatim dan Artinya, Salah Satu Amalan pada Hari Asyura 10 Muharram
Doa Mengusap Kepala Anak Yatim dan Artinya, Salah Satu Amalan pada Hari Asyura 10 Muharram
Doa dan Niat
Kemenag Usul Nilai Ketuhanan Masuk RUU Sisdiknas, Guru Agama hingga Pesantren Jadi Sorotan
Kemenag Usul Nilai Ketuhanan Masuk RUU Sisdiknas, Guru Agama hingga Pesantren Jadi Sorotan
Aktual
MUI Ingatkan Masyarakat dan Orang Tua Waspadai Kampanye LGBT Berkedok HAM
MUI Ingatkan Masyarakat dan Orang Tua Waspadai Kampanye LGBT Berkedok HAM
Aktual
MUI Tegaskan Tetap Istiqamah Perjuangkan Sanksi Pidana LGBT di Tengah Aksi Penolakan
MUI Tegaskan Tetap Istiqamah Perjuangkan Sanksi Pidana LGBT di Tengah Aksi Penolakan
Aktual
Amalan Hari Asyura 10 Muharram, Ternyata Tidak Hanya Berpuasa
Amalan Hari Asyura 10 Muharram, Ternyata Tidak Hanya Berpuasa
Aktual
Mengenal Hari Asyura 10 Muharram dan Keutamaannya bagi Umat Islam
Mengenal Hari Asyura 10 Muharram dan Keutamaannya bagi Umat Islam
Aktual
DPR Setujui Anggaran Rp 4,5 Triliun untuk Pesantren Tahun 2027
DPR Setujui Anggaran Rp 4,5 Triliun untuk Pesantren Tahun 2027
Aktual
Haji Mabrur: Sebuah Prestasi Spiritual, Bukan Prestise Sosial
Haji Mabrur: Sebuah Prestasi Spiritual, Bukan Prestise Sosial
Aktual
Niat Puasa Asyura Lengkap Tulisan Arab, Keutamaan dan Waktu Terbaik Melaksanakannya
Niat Puasa Asyura Lengkap Tulisan Arab, Keutamaan dan Waktu Terbaik Melaksanakannya
Doa dan Niat
Cerita Mbah Marsiyah Jemaah Haji Tertua 105 Tahun, Selalu Sehat Selama Berhaji
Cerita Mbah Marsiyah Jemaah Haji Tertua 105 Tahun, Selalu Sehat Selama Berhaji
Aktual
AMALI Desak Negara Biayai Pesantren Secara Penuh, Soroti Diskriminasi terhadap Ma'had Aly
AMALI Desak Negara Biayai Pesantren Secara Penuh, Soroti Diskriminasi terhadap Ma'had Aly
Aktual
Sensasi Berkuda di Gurun Madinah: Wisata Spiritual Jemaah Indonesia
Sensasi Berkuda di Gurun Madinah: Wisata Spiritual Jemaah Indonesia
Aktual
Puasa Asyura 10 Muharram: Niat, Keutamaan, dan Tata Cara Pelaksanaannya
Puasa Asyura 10 Muharram: Niat, Keutamaan, dan Tata Cara Pelaksanaannya
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com