Editor
KOMPAS.com - Fenomena masyarakat berutang demi pesta pernikahan kini menjadi perhatian pemerintah daerah di Jawa Barat.
Tidak sedikit keluarga yang terpaksa meminjam uang ke rentenir hingga pinjaman online hanya untuk menggelar resepsi mewah.
Karena itu, akad nikah sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA) dinilai lebih realistis dan bermanfaat untuk masa depan rumah tangga.
Baca juga: Kemenag Bangun 1.758 Gedung KUA dengan SBSN untuk Perkuat Layanan Keagamaan
Pernikahan sederhana di KUA mulai didorong sebagai solusi agar pasangan muda tidak terbebani biaya resepsi yang mahal.
Bupati Bandung, Dadang Supriatna, mendukung ajakan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi agar masyarakat menggelar pernikahan secara sederhana tanpa pesta besar yang membebani ekonomi keluarga.
Baca juga: Cara Daftar Nikah di KUA 2026: Alur Online-Offline dan Biaya Resminya
Menurut Dadang, akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) tanpa harus disatukan dengan resepsi besar bisa menjadi pilihan yang lebih praktis, sederhana, dan hemat biaya.
"Sudah akad nikah di tempat KUA yang tentunya ini lebih simpel dan lebih efektif dan lebih sederhana dan lebih murah," ujarnya usai kegiatan pelepasan jemaah haji Kabupaten Bandung, Sabtu (9/5/2026).
Ia menilai saat ini masih banyak masyarakat yang merasa terbebani tuntutan menggelar resepsi pernikahan mewah demi gengsi sosial.
Dadang mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri menggelar pesta besar hingga harus berutang demi biaya pernikahan.
Menurutnya, kondisi tersebut justru bisa menjadi beban ekonomi baru setelah pasangan resmi menikah.
"Jangan sampai ada kejadian bahwa yang nikah, pinjam kepada bank Emok (bank keliling atau rentenir) atau pinjaman online (Pinjol) yang pada akhirnya jadi beban ke depannya," katanya.
Ajakan serupa sebelumnya juga disampaikan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia menilai fenomena pesta pernikahan besar kerap membuat keluarga mengalami tekanan finansial.
"Saya melihat banyak orang tua yang menikahkan anaknya dengan cara berutang ke sana sini, ada yang menjual sawah, pinjam ke koperasi, bank, bahkan pinjol. Usai pernikahan bukan kebahagiaan yang didapat, tapi justru penderitaan," ucapnya.
Dedi menyarankan pasangan dengan keterbatasan ekonomi cukup melangsungkan akad nikah di KUA tanpa pesta besar.
Menurutnya, dana yang tersedia akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk kebutuhan jangka panjang setelah menikah.
"Uangnya bisa digunakan untuk DP rumah, modal usaha, atau kebutuhan lain yang lebih bermanfaat bagi kehidupan rumah tangga. Lebih baik jadi raja selamanya daripada raja sehari tapi sengsara selamanya," ujarnya.
Ajakan menikah sederhana ini diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat bahwa esensi pernikahan bukan terletak pada kemewahan pesta, melainkan kesiapan membangun kehidupan rumah tangga yang lebih tenang dan sejahtera.
Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul "Dukung KDM, Bupati Bandung Ajak Masyarakat Nikah di KUA: Jangan Pinjam ke Bank Emok atau Pinjol".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang