Editor
KOMPAS.com - Perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram tidak hanya menjadi momentum pergantian tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga diwarnai beragam tradisi kuliner khas di berbagai daerah Indonesia.
Setiap daerah memiliki makanan yang disajikan sebagai bagian dari perayaan dan ungkapan rasa syukur menyambut datangnya tahun baru Islam.
Tradisi tersebut serupa dengan perayaan Idul Fitri yang identik dengan opor ayam atau Tahun Baru Imlek yang lekat dengan sajian kue keranjang.
Baca juga: Doa Minum Susu Putih 1 Muharram: Arab, Latin, dan Artinya
Mulai dari tumpeng, kue apem, hingga bubur suro, berikut ragam kuliner yang menjadi bagian penting dari peringatan 1 Muharram yang masih dilestarikan masyarakat hingga sekarang.
Salah satu kuliner yang identik dengan perayaan 1 Muharram adalah tumpeng lengkap dengan berbagai lauk pauknya.
Baca juga: Sejarah 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam, Ternyata Bukan Ditetapkan pada Masa Nabi
Di Semarang, Jawa Tengah, masyarakat biasanya menyajikan tumpeng dalam rangkaian perayaan Tahun Baru Islam.
Tumpeng tersebut kemudian disantap bersama-sama melalui tradisi "Kembul Bujana", yaitu tradisi makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Tradisi penyajian tumpeng juga ditemukan di Banyuwangi, Jawa Timur.
Masyarakat setempat menggelar ritual "Gerebeg Tumpeng Agung" setiap tiga tahun sekali pada bulan Suro atau Muharram, tepatnya pada tanggal 20 Suro.
Dalam tradisi tersebut, terdapat lima jenis tumpeng yang disiapkan, yaitu dua tumpeng nasi gunungan yang terdiri dari nasi kuning dan nasi putih, satu tumpeng berisi palawija, satu tumpeng berisi jajanan pasar, serta satu tumpeng berisi aneka buah-buahan.
Setelah selesai dibuat, tumpeng-tumpeng tersebut diarak mengelilingi kampung sebagai bagian dari rangkaian ritual budaya masyarakat setempat.
Selain tumpeng, masyarakat Jawa juga kerap menyajikan kue apem saat perayaan 1 Muharram.
Kue tradisional ini dibuat dari bahan utama tepung beras, santan, dan gula jawa.
Sementara itu, masyarakat Gorontalo memiliki tradisi menyajikan kue apangi atau apem pada tanggal 10 Muharram.
Kue tersebut dibuat menggunakan tepung beras dan gula merah sebagai bahan dasarnya.
Dalam tradisi masyarakat setempat, gula merah melambangkan darah, keberanian, atau pengorbanan.
Adapun warna putih pada kue apem dimaknai sebagai simbol kesucian.
Kuliner khas lainnya yang banyak dijumpai saat Muharram adalah bubur suro atau bubur asyuro.
Di sejumlah daerah di Jawa, bubur ini biasa disajikan pada malam menjelang 1 Muharram sebagai bagian dari tradisi menyambut Tahun Baru Islam.
Bubur suro dibuat dari beras yang dimasak bersama santan, garam, jahe, dan serai.
Di Jawa, sajian tersebut umumnya dilengkapi kuah opor ayam dan sambal goreng labu siam.
Sebagian masyarakat juga menambahkan taburan tujuh jenis kacang, bulir jeruk bali atau delima, irisan ketimun, serta lembaran daun bawang untuk memperkaya cita rasa dan tampilannya.
Sementara itu, masyarakat Ki Gede Ing Suro di Kota Palembang, Sumatera Selatan, menyajikan bubur suro pada 10 Muharram dan menjelang bulan Ramadhan.
Bubur suro khas Palembang menggunakan berbagai rempah sebagai bumbu utama, antara lain bawang putih, bawang merah, ketumbar, merica, garam, kecap, bumbu sop, dan minyak makan.
Keberagaman sajian khas tersebut menunjukkan bahwa perayaan 1 Muharram tidak hanya memiliki makna keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang