Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kuliner Khas 1 Muharram di Indonesia, dari Tumpeng hingga Bubur Suro

Kompas.com, 15 Juni 2026, 08:29 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram tidak hanya menjadi momentum pergantian tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga diwarnai beragam tradisi kuliner khas di berbagai daerah Indonesia.

Setiap daerah memiliki makanan yang disajikan sebagai bagian dari perayaan dan ungkapan rasa syukur menyambut datangnya tahun baru Islam.

Tradisi tersebut serupa dengan perayaan Idul Fitri yang identik dengan opor ayam atau Tahun Baru Imlek yang lekat dengan sajian kue keranjang.

Baca juga: Doa Minum Susu Putih 1 Muharram: Arab, Latin, dan Artinya

Ragam Kuliner Khas 1 Muharram di Indonesia

Mulai dari tumpeng, kue apem, hingga bubur suro, berikut ragam kuliner yang menjadi bagian penting dari peringatan 1 Muharram yang masih dilestarikan masyarakat hingga sekarang.

1. Tumpeng

Salah satu kuliner yang identik dengan perayaan 1 Muharram adalah tumpeng lengkap dengan berbagai lauk pauknya.

Baca juga: Sejarah 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam, Ternyata Bukan Ditetapkan pada Masa Nabi

Di Semarang, Jawa Tengah, masyarakat biasanya menyajikan tumpeng dalam rangkaian perayaan Tahun Baru Islam.

Tumpeng tersebut kemudian disantap bersama-sama melalui tradisi "Kembul Bujana", yaitu tradisi makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Tradisi penyajian tumpeng juga ditemukan di Banyuwangi, Jawa Timur.

Masyarakat setempat menggelar ritual "Gerebeg Tumpeng Agung" setiap tiga tahun sekali pada bulan Suro atau Muharram, tepatnya pada tanggal 20 Suro.

Dalam tradisi tersebut, terdapat lima jenis tumpeng yang disiapkan, yaitu dua tumpeng nasi gunungan yang terdiri dari nasi kuning dan nasi putih, satu tumpeng berisi palawija, satu tumpeng berisi jajanan pasar, serta satu tumpeng berisi aneka buah-buahan.

Setelah selesai dibuat, tumpeng-tumpeng tersebut diarak mengelilingi kampung sebagai bagian dari rangkaian ritual budaya masyarakat setempat.

2. Kue Apem

Selain tumpeng, masyarakat Jawa juga kerap menyajikan kue apem saat perayaan 1 Muharram.

Kue tradisional ini dibuat dari bahan utama tepung beras, santan, dan gula jawa.

Sementara itu, masyarakat Gorontalo memiliki tradisi menyajikan kue apangi atau apem pada tanggal 10 Muharram.

Kue tersebut dibuat menggunakan tepung beras dan gula merah sebagai bahan dasarnya.

Dalam tradisi masyarakat setempat, gula merah melambangkan darah, keberanian, atau pengorbanan.

Adapun warna putih pada kue apem dimaknai sebagai simbol kesucian.

3. Bubur Suro

Kuliner khas lainnya yang banyak dijumpai saat Muharram adalah bubur suro atau bubur asyuro.

Di sejumlah daerah di Jawa, bubur ini biasa disajikan pada malam menjelang 1 Muharram sebagai bagian dari tradisi menyambut Tahun Baru Islam.

Bubur suro dibuat dari beras yang dimasak bersama santan, garam, jahe, dan serai.

Di Jawa, sajian tersebut umumnya dilengkapi kuah opor ayam dan sambal goreng labu siam.

Sebagian masyarakat juga menambahkan taburan tujuh jenis kacang, bulir jeruk bali atau delima, irisan ketimun, serta lembaran daun bawang untuk memperkaya cita rasa dan tampilannya.

Sementara itu, masyarakat Ki Gede Ing Suro di Kota Palembang, Sumatera Selatan, menyajikan bubur suro pada 10 Muharram dan menjelang bulan Ramadhan.

Bubur suro khas Palembang menggunakan berbagai rempah sebagai bumbu utama, antara lain bawang putih, bawang merah, ketumbar, merica, garam, kecap, bumbu sop, dan minyak makan.

Keberagaman sajian khas tersebut menunjukkan bahwa perayaan 1 Muharram tidak hanya memiliki makna keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar