Editor
KOMPAS.com – Sebuah penemuan ilmiah terbaru mengungkap fakta mengejutkan tentang sejarah alam Arab Saudi. Wilayah gurun di barat laut Kerajaan yang kini kering dan tandus ternyata pernah berada di bawah laut dangkal sekitar 34 juta tahun lalu.
Temuan tersebut merupakan hasil penelitian tim ilmuwan internasional yang dipimpin para peneliti dari King Abdulaziz University.
Mereka berhasil mengidentifikasi dan mendokumentasikan sedimen laut pertama dari Kala Oligosen di wilayah barat laut Arab Saudi, sebuah penemuan yang mengubah pemahaman para ahli tentang sejarah geologi kawasan tersebut.
Formasi batuan baru yang diberi nama Formasi Al-Qurayyat ditemukan di kawasan Al-Qurayyat, wilayah Al-Jouf, dekat perbatasan Arab Saudi dan Yordania. Untuk pertama kalinya, formasi ini diperkenalkan secara resmi dalam literatur ilmiah internasional.
Baca juga: Arab Saudi Hijaukan Gurun dan Lindungi Laut Merah, Ambisi Besar Menuju Visi 2030 Jadi Sorotan Dunia
Lapisan batuan tersebut terdiri atas endapan batu kapur laut dengan ketebalan antara 15 hingga 26 meter.
Para peneliti menemukan lapisan batu kapur abu-abu kaya fosil di bagian bawah, disusul lapisan marl dan batu kapur yang berselang-seling, serta batu kapur kasar di bagian atas yang mengandung pecahan bulu babi laut, spons laut, dan cangkang moluska.
Penelitian ini sekaligus membantah sejumlah interpretasi geologi sebelumnya. Selama bertahun-tahun, para ahli meyakini bahwa Formasi Ar-Rishrashiyah dari zaman Eosen langsung berada di atas Formasi Sirhan yang lebih muda.
Namun penelitian terbaru menunjukkan adanya Formasi Al-Qurayyat yang berada di antara kedua lapisan tersebut.
Salah satu peneliti utama, Dr Mohammed Hamed Al-Jahdali, Associate Professor Paleo-Lingkungan Laut dan Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kelautan King Abdulaziz University, menjelaskan bahwa usia formasi ditentukan melalui analisis mikrofosil laut berukuran sangat kecil yang dikenal sebagai calcareous nannofossils.
"Kami mengidentifikasi 85 spesies yang berasal dari 26 genus dan mengelompokkannya ke dalam biozona NP21, yang sesuai dengan periode Oligosen Awal, sekitar 34 hingga 32 juta tahun yang lalu," kata Al-Jahdali.
Tim peneliti menemukan 85 spesies mikrofosil dari 26 genus berbeda yang menunjukkan bahwa lapisan batuan tersebut terbentuk pada awal Kala Oligosen, sekitar 34 hingga 32 juta tahun silam.
Penemuan ini juga memberikan gambaran baru tentang kondisi Semenanjung Arab pada masa lampau. Saat itu, sebagian besar wilayah Arab merupakan tepi laut dangkal yang terhubung dengan Samudra Neo-Tethys kuno. Ketika Lempeng Arab perlahan bertabrakan dengan Eurasia, laut mulai surut dan daratan muncul ke permukaan.
Meski kini kawasan Al-Qurayyat didominasi bentang alam gurun, berbagai bukti menunjukkan bahwa wilayah tersebut dahulu merupakan lingkungan laut.
Bukti itu meliputi melimpahnya mikrofosil laut, endapan batu kapur dan marl khas lingkungan lepas pantai, jejak organisme penggali dasar laut, hingga fosil bulu babi laut dan cangkang hewan laut yang masih terawetkan di dalam batuan.
"Apa yang sekarang kita lihat sebagai gurun dulunya adalah dasar laut purba," kata Al-Jahdali.
"Wilayah itu kemudian terangkat, mengalami deformasi, tertimbun, dan akhirnya kembali tersingkap ke permukaan setelah jutaan tahun aktivitas tektonik dan proses erosi."
Menurutnya, apa yang saat ini terlihat sebagai hamparan gurun sebenarnya merupakan dasar laut purba yang terangkat ke permukaan akibat aktivitas tektonik dan proses erosi selama jutaan tahun.
Baca juga: Gurun Saudi “Hidup” Kembali: Bunga Liar Bermekaran, Serangga Penyerbuk Kembali Bermunculan
Selain memperkaya pengetahuan tentang sejarah bumi, penemuan ini juga memiliki potensi ekonomi yang besar. Kerangka geologi baru yang dihasilkan dari penelitian tersebut diyakini dapat membantu eksplorasi fosfat, unsur tanah jarang, serta sumber daya minyak dan gas di wilayah Arab Saudi bagian barat laut.
Para peneliti meyakini masih banyak endapan Oligosen lain yang tersembunyi di bawah blok-blok batuan yang belum pernah diteliti. Karena itu, penemuan Formasi Al-Qurayyat disebut sebagai awal dari babak baru eksplorasi geologi di Arab Saudi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang