Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gurun Arab Saudi Ternyata Pernah Jadi Dasar Laut Purba 34 Juta Tahun Lalu

Kompas.com, 18 Juni 2026, 08:16 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Arab News

KOMPAS.com – Sebuah penemuan ilmiah terbaru mengungkap fakta mengejutkan tentang sejarah alam Arab Saudi. Wilayah gurun di barat laut Kerajaan yang kini kering dan tandus ternyata pernah berada di bawah laut dangkal sekitar 34 juta tahun lalu.

Temuan tersebut merupakan hasil penelitian tim ilmuwan internasional yang dipimpin para peneliti dari King Abdulaziz University.

Mereka berhasil mengidentifikasi dan mendokumentasikan sedimen laut pertama dari Kala Oligosen di wilayah barat laut Arab Saudi, sebuah penemuan yang mengubah pemahaman para ahli tentang sejarah geologi kawasan tersebut.

Formasi batuan baru yang diberi nama Formasi Al-Qurayyat ditemukan di kawasan Al-Qurayyat, wilayah Al-Jouf, dekat perbatasan Arab Saudi dan Yordania. Untuk pertama kalinya, formasi ini diperkenalkan secara resmi dalam literatur ilmiah internasional.

Baca juga: Arab Saudi Hijaukan Gurun dan Lindungi Laut Merah, Ambisi Besar Menuju Visi 2030 Jadi Sorotan Dunia

Lapisan batuan tersebut terdiri atas endapan batu kapur laut dengan ketebalan antara 15 hingga 26 meter.

Para peneliti menemukan lapisan batu kapur abu-abu kaya fosil di bagian bawah, disusul lapisan marl dan batu kapur yang berselang-seling, serta batu kapur kasar di bagian atas yang mengandung pecahan bulu babi laut, spons laut, dan cangkang moluska.

Penelitian ini sekaligus membantah sejumlah interpretasi geologi sebelumnya. Selama bertahun-tahun, para ahli meyakini bahwa Formasi Ar-Rishrashiyah dari zaman Eosen langsung berada di atas Formasi Sirhan yang lebih muda.

Namun penelitian terbaru menunjukkan adanya Formasi Al-Qurayyat yang berada di antara kedua lapisan tersebut.

Salah satu peneliti utama, Dr Mohammed Hamed Al-Jahdali, Associate Professor Paleo-Lingkungan Laut dan Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kelautan King Abdulaziz University, menjelaskan bahwa usia formasi ditentukan melalui analisis mikrofosil laut berukuran sangat kecil yang dikenal sebagai calcareous nannofossils.

"Kami mengidentifikasi 85 spesies yang berasal dari 26 genus dan mengelompokkannya ke dalam biozona NP21, yang sesuai dengan periode Oligosen Awal, sekitar 34 hingga 32 juta tahun yang lalu," kata Al-Jahdali.

Tim peneliti menemukan 85 spesies mikrofosil dari 26 genus berbeda yang menunjukkan bahwa lapisan batuan tersebut terbentuk pada awal Kala Oligosen, sekitar 34 hingga 32 juta tahun silam.

Penemuan ini juga memberikan gambaran baru tentang kondisi Semenanjung Arab pada masa lampau. Saat itu, sebagian besar wilayah Arab merupakan tepi laut dangkal yang terhubung dengan Samudra Neo-Tethys kuno. Ketika Lempeng Arab perlahan bertabrakan dengan Eurasia, laut mulai surut dan daratan muncul ke permukaan.

Meski kini kawasan Al-Qurayyat didominasi bentang alam gurun, berbagai bukti menunjukkan bahwa wilayah tersebut dahulu merupakan lingkungan laut.

Bukti itu meliputi melimpahnya mikrofosil laut, endapan batu kapur dan marl khas lingkungan lepas pantai, jejak organisme penggali dasar laut, hingga fosil bulu babi laut dan cangkang hewan laut yang masih terawetkan di dalam batuan.

"Apa yang sekarang kita lihat sebagai gurun dulunya adalah dasar laut purba," kata Al-Jahdali.

"Wilayah itu kemudian terangkat, mengalami deformasi, tertimbun, dan akhirnya kembali tersingkap ke permukaan setelah jutaan tahun aktivitas tektonik dan proses erosi."

Menurutnya, apa yang saat ini terlihat sebagai hamparan gurun sebenarnya merupakan dasar laut purba yang terangkat ke permukaan akibat aktivitas tektonik dan proses erosi selama jutaan tahun.

Baca juga: Gurun Saudi “Hidup” Kembali: Bunga Liar Bermekaran, Serangga Penyerbuk Kembali Bermunculan

Selain memperkaya pengetahuan tentang sejarah bumi, penemuan ini juga memiliki potensi ekonomi yang besar. Kerangka geologi baru yang dihasilkan dari penelitian tersebut diyakini dapat membantu eksplorasi fosfat, unsur tanah jarang, serta sumber daya minyak dan gas di wilayah Arab Saudi bagian barat laut.

Para peneliti meyakini masih banyak endapan Oligosen lain yang tersembunyi di bawah blok-blok batuan yang belum pernah diteliti. Karena itu, penemuan Formasi Al-Qurayyat disebut sebagai awal dari babak baru eksplorasi geologi di Arab Saudi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
15 Ucapan Selamat Naik Kelas Islami untuk Anak, Penuh Doa dan Motivasi
15 Ucapan Selamat Naik Kelas Islami untuk Anak, Penuh Doa dan Motivasi
Aktual
30 Ucapan Perpisahan Sekolah Paling Menyentuh dan Penuh Doa untuk Teman & Guru
30 Ucapan Perpisahan Sekolah Paling Menyentuh dan Penuh Doa untuk Teman & Guru
Aktual
Jejak Umar bin Khattab Ditemukan pada Prasasti Batu di Madinah
Jejak Umar bin Khattab Ditemukan pada Prasasti Batu di Madinah
Aktual
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Keutamaan Puasa Asyura dan Keistimewaan Bulan Muharram
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Keutamaan Puasa Asyura dan Keistimewaan Bulan Muharram
Aktual
Kemenag Buka Kompetisi Film Pendek Islami 2026, Hadiah hingga Rp 10 Juta
Kemenag Buka Kompetisi Film Pendek Islami 2026, Hadiah hingga Rp 10 Juta
Aktual
Kemenag Sebut Ada yang Dipotong dari Pernyataan Menag soal Fir’aun, Apa Itu?
Kemenag Sebut Ada yang Dipotong dari Pernyataan Menag soal Fir’aun, Apa Itu?
Aktual
Masuk Museum Ini, Jemaah Serasa Hidup di Zaman Nabi Muhammad
Masuk Museum Ini, Jemaah Serasa Hidup di Zaman Nabi Muhammad
Aktual
Niat Shalat Istisqa untuk Meminta Hujan, Lengkap dengan Tata Cara dan Khutbahnya
Niat Shalat Istisqa untuk Meminta Hujan, Lengkap dengan Tata Cara dan Khutbahnya
Doa dan Niat
Muhammadiyah Minta Program MBG Dibenahi dan Anggarannya Transparan
Muhammadiyah Minta Program MBG Dibenahi dan Anggarannya Transparan
Aktual
Gurun Arab Saudi Ternyata Pernah Jadi Dasar Laut Purba 34 Juta Tahun Lalu
Gurun Arab Saudi Ternyata Pernah Jadi Dasar Laut Purba 34 Juta Tahun Lalu
Aktual
Kemenag Luruskan Pernyataan Menag soal Fir’aun, Sekjen: Jangan Potong Kalimat dan Timbulkan Salah Paham
Kemenag Luruskan Pernyataan Menag soal Fir’aun, Sekjen: Jangan Potong Kalimat dan Timbulkan Salah Paham
Aktual
Timwas Haji DPR: Presiden Minta Antrean Haji Dipangkas Lagi Jadi 26 Tahun
Timwas Haji DPR: Presiden Minta Antrean Haji Dipangkas Lagi Jadi 26 Tahun
Aktual
Anggaran Kemenag 2027 Naik Jadi Rp 41,8 Triliun, Revitalisasi Madrasah dan Insentif Guru Non-ASN Jadi Prioritas
Anggaran Kemenag 2027 Naik Jadi Rp 41,8 Triliun, Revitalisasi Madrasah dan Insentif Guru Non-ASN Jadi Prioritas
Aktual
Insentif Guru Madrasah Non ASN Cair Akhir Juni 2026, Setiap Guru Terima Rp 1,5 Juta
Insentif Guru Madrasah Non ASN Cair Akhir Juni 2026, Setiap Guru Terima Rp 1,5 Juta
Aktual
Prabowo Minta Layanan Haji 2027 Ditingkatkan, Ini Arahannya
Prabowo Minta Layanan Haji 2027 Ditingkatkan, Ini Arahannya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com