Editor
KOMPAS.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengajak seluruh peserta Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 untuk mengedepankan ketulusan, kedamaian, serta persatuan dalam bermusyawarah demi menyiapkan masa depan Nahdlatul Ulama yang lebih baik.
Pesan tersebut disampaikan Gus Yahya saat memberi sambutan dalam pembukaan Munas dan Konbes NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, Sabtu malam (20/6/2026).
Menurutnya, Munas dan Konbes kali ini menjadi momentum penting karena berlangsung menjelang berakhirnya masa khidmah kepengurusan PBNU periode saat ini sekaligus menjadi ajang persiapan menuju Muktamar ke-35 NU.
"Kita akan menuju pada penghujung masa khidmah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Dalam Konferensi Besar dan Musyawarah Nasional Alim Ulama kali ini di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, kita akan mempersiapkan semua yang kita perlukan untuk melaksanakan Muktamar ke-35 yang akan datang," kata Gus Yahya dilansir dari siaran langsung YouTube NU Online.
Ia menegaskan bahwa forum tersebut merupakan kesempatan bagi PBNU bersama seluruh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) se-Indonesia untuk memberikan kontribusi terbaik bagi jam'iyah.
"Ini adalah kesempatan kita semua, kesempatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama beserta segenap pimpinan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama seluruh Indonesia untuk melakukan yang terbaik demi mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi jam'iyah yang kita cintai ini," ujarnya.
Dalam pidatonya, Gus Yahya mengingatkan bahwa seluruh warga NU hadir dalam organisasi bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk berkhidmah dan mengabdi kepada jam'iyah.
"Mari kita teguhkan kembali keberadaan kita di dalam jam'iyah ini. Kita ada di sini untuk berkhidmah. Kita berkhidmah untuk mendapatkan berkah dari jam'iyah yang barokah ini," tuturnya.
Ia mengajak seluruh peserta memusatkan pikiran, tenaga, dan upaya demi kemaslahatan masa depan NU dan warganya.
"Mari seluruhnya kita pusatkan pada himmah untuk kemaslahatan masa depan jam'iyah dan jamaah Nahdlatul Ulama ini," katanya.
Gus Yahya berharap Munas dan Konbes mampu melahirkan keputusan-keputusan terbaik yang dapat diabdikan bagi kemajuan organisasi.
"Kita laksanakan tugas kita dengan sebaik-baiknya untuk dapat menghadirkan permusyawaratan, menghadirkan kebersamaan, dan menghadirkan gagasan-gagasan yang akan kita abdikan untuk kemaslahatan jam'iyah ini," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya juga menekankan pentingnya menjaga suasana musyawarah yang damai dan konstruktif. Ia meminta seluruh peserta menghindari langkah-langkah yang berpotensi menimbulkan polemik maupun perpecahan.
"Mari sesudah ini kita lalui proses yang harus kita lalui ini dengan sebaik-baiknya, dengan penuh ketulusan, dengan penuh kedamaian, dengan penuh kejujuran, dengan menghindari apa pun yang berpotensi menimbulkan kontroversi maupun pertentangan baru," tegasnya.
Menurutnya, semangat persatuan harus terus dijaga sebagaimana pesan pendiri NU, Hasyim Asy'ari, ketika mengajak umat bergabung dalam jam'iyah NU.
"Inilah saatnya kita mengingat kembali seruan Hadhratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari ketika beliau memanggil kita semua untuk bergabung di dalam jam'iyah yang mulia ini," katanya.
Ia mengajak seluruh peserta tidak hanya hadir secara fisik dalam forum, tetapi juga menyatukan hati dan semangat dalam kebersamaan.
"Mari kita sambungkan bukan hanya jasad kita di dalam pertemuan-pertemuan ini, tetapi juga roh-roh kita dalam mahabbah dan wihdah, dalam kerukunan dan persatuan," ujarnya.
Gus Yahya menyatakan keyakinannya bahwa NU akan tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan karena dibangun di atas fondasi spiritual yang kuat.
"Kita yakin bahwa apa pun yang terjadi, jam'iyah ini didirikan dengan fondasi rohani yang kokoh," katanya.
Menurut dia, NU senantiasa berada dalam naungan dan pemeliharaan Allah SWT sehingga berbagai upaya yang bertujuan merusak atau mencederai organisasi tidak akan berhasil.
"Apapun yang dilakukan orang untuk mengganggu, untuk mencederai, untuk merusak apa yang mulia di dalam jam'iyah ini pasti tidak akan mencapai apa yang diinginkan," ujarnya.
Pada bagian akhir pidato, Gus Yahya menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Pondok Pesantren Al-Falah Ploso yang menjadi tuan rumah Munas dan Konbes NU 2026.
Menurutnya, pesantren tidak hanya menyediakan fasilitas penyelenggaraan kegiatan, tetapi juga menghadirkan kekuatan spiritual yang menjadi fondasi penting bagi perjalanan NU.
"Al-Falah Ploso beserta segenap keluarga besarnya, beserta barokah para masyayikh dan muassisnya, menyediakan diri sebagai pondasi rohani dan landasan rohani dari keberadaan kita menjalankan khidmah kepada jam'iyah ini," katanya.
Baca juga: Rekam Jejak Munas NU: Dari Khittah 1926 hingga Fatwa AI, Gus Dur Ukir Sejarah di Situbondo
Ia berharap keberkahan para masyayikh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso menyertai jalannya Munas dan Konbes sehingga menghasilkan keputusan yang membawa manfaat bagi seluruh warga NU.
"Semoga musyawarah yang kita laksanakan di dalam Konferensi Besar dan Munas Alim Ulama kali ini menghasilkan hasil-hasil yang bermanfaat, hasil-hasil yang menggembirakan semua orang, hasil-hasil yang sama sekali tidak menimbulkan masalah bagi siapa pun, dan sungguh membawa kemaslahatan untuk jam'iyah yang kita cintai ini," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang