Editor
KOMPAS.com – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Miftachul Akhyar, menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya keadilan dalam menjalankan pemerintahan saat menghadiri penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Institut Agama Islam Syaikhona Mohammad Kholil, Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).
Di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto, Kiai Miftach mengingatkan bahwa kezaliman merupakan faktor yang dapat menghancurkan kekuasaan, sementara keadilan menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan sebuah pemerintahan.
“Mengenai penyebutan perihal keadilan dan politik, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, atau dalam sebuah riwayat ini merupakan perkataan dari Sayyidina Ali karramallahu wajhah: Al-mulku yabqo ma'al kufri, wala yabqo ma'adh dhulm (Kekuasaan itu bisa bertahan bersama kekafiran, namun tidak akan bisa bertahan bersama kezaliman),” ujarnya.
Dalam tausiyahnya, Kiai Miftach mengulas catatan sejarah bangsa Majusi atau Persia Kuno yang pernah menguasai dunia dalam waktu sangat lama.
Menurutnya, kekuatan pemerintahan mereka bukan karena keyakinan yang dianut, melainkan karena komitmen terhadap keadilan dan perlakuan yang setara kepada rakyat.
“Dalam sejarah dicatat bahwa bangsa Majusi pernah menguasai dunia selama empat ribu tahun dan roda kerajaan berada di tangan mereka. Sesungguhnya kerajaan mereka dapat bertahan lama tidak lain adalah karena keadilan mereka terhadap rakyatnya serta penjagaan mereka yang setara,” katanya.
Ia menjelaskan, pemerintahan yang menjunjung keadilan akan mampu menutup celah munculnya kesewenang-wenangan yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Mereka sama sekali tidak memandang bahwa kezaliman dan kesewenang-wenangan itu sah dalam agama dan keyakinan mereka. Dengan keadilan itu mereka memakmurkan negeri dan berbuat insyaf kepada sesama hamba,” lanjutnya.
Melalui refleksi sejarah tersebut, Rais Aam PBNU menitipkan harapan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto agar terus berpihak kepada kepentingan rakyat kecil dan memperkuat agenda kesejahteraan nasional.
“Kita berikan husnudzon pada beliau agar terus bisa memperbaiki apa yang selama ini tampak kurang, mungkin masih ada, bahkan saya yakin masih ada persediaan, masih ada senjata-senjata pamungkas untuk mengatasi semua masalah-masalah yang dihadapi ini,” ungkapnya.
Kiai Miftach juga mengajak masyarakat meneladani sikap Imam Ahmad bin Hanbal yang senantiasa mendoakan pemimpin agar diberikan petunjuk dan kemampuan menjalankan amanah dengan baik.
Baca juga: Prabowo Hadiri Penutupan Munas dan Konbes NU 2026, Gus Yahya Tegaskan Kesetiaan NU untuk Bangsa
Menutup sambutannya, ia memanjatkan doa khusus untuk Presiden Prabowo agar diberi kesehatan, perlindungan, dan kebijaksanaan dalam memimpin bangsa.
“Semoga Bapak Presiden kita diberikan sehat wal afiat, selalu dalam lindungan Allah, dan pemikiran-pemikiran yang cemerlang agar rakyat umat yang besar ini akan bisa segera menerima sebagaimana apa yang mereka harapkan,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang