Editor
KOMPAS.com - Kementerian Agama (Kemenag) berkomitmen menghadirkan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional yang lebih inklusif dengan membuka ruang partisipasi bagi penyandang disabilitas sensorik.
Inisiatif tersebut mulai dirintis pada tahun ini di Semarang, Jawa Tengah, dan akan dipersiapkan secara lebih matang pada penyelenggaraan MTQ Nasional 2026.
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya Kemenag untuk memperluas akses terhadap pembinaan dan syiar Al Quran agar dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Baca juga: Tutup MTQ Disabilitas, Bahlil Dorong Regulasi Lebih Berpihak ke Penyandang Disabilitas
Melalui langkah tersebut, MTQ diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi membaca Al Quran, tetapi juga ruang yang setara dan ramah bagi semua peserta, termasuk penyandang disabilitas.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengatakan penyelenggaraan MTQ yang melibatkan penyandang disabilitas sensorik mulai diinisiasi pada tahun ini di Semarang.
Baca juga: Cetak Sejarah Baru, MTQ Disabilitas di Ponpes An-Nawawi Purworejo Raih Rekor Dunia
“Tahun ini baru kita inisiasi. Tahun depan bapak, ibu, bisa mulai mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya,” ujar Abu Rokhmad saat dikonfirmasi dari Jakarta, Jumat.
Untuk mendukung pelaksanaan MTQ yang inklusif, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) di seluruh Indonesia diminta mulai melakukan pembinaan dan menyiapkan calon peserta sejak dini.
Menurut Abu, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat fungsi MTQ, bukan hanya sebagai kompetisi, tetapi juga sebagai sarana pembinaan dan syiar Al Quran yang dapat diakses semua kalangan.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan cabang musabaqah bagi penyandang disabilitas sensorik menjadi wujud komitmen Kementerian Agama untuk memastikan setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama dalam membaca, memahami, dan menghayati Al Quran.
“Kita ingin pengembangan tilawah Al Quran juga menyentuh anak-anak kita yang berada dalam kondisi keterbatasan, sehingga mereka juga akan memiliki kesempatan yang cukup untuk melakukan berbagai macam kegiatan keagamaan,” ujarnya.
Abu menilai pembinaan Al Quran tidak boleh hanya menyasar kelompok tertentu, tetapi harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Karena itu, penyelenggaraan MTQ yang semakin inklusif diharapkan dapat menjadi ruang yang lebih ramah, setara, dan memberi kesempatan berprestasi bagi semua peserta.
Ia menambahkan, pengembangan cabang baru bagi penyandang disabilitas sensorik juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif.
Menurutnya, langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap MTQ sebagai kegiatan keagamaan yang tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga menumbuhkan nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan pemberdayaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang