Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

32 PWNU Dukung Jakarta Jadi Lokasi Muktamar NU ke-35, Ini Alasannya

Kompas.com, 5 Juli 2026, 19:08 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Dukungan terhadap DKI Jakarta sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) terus menguat menjelang penetapan tuan rumah oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Sebanyak 32 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dari berbagai daerah menyatakan dukungan agar forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut digelar di Jakarta.

Dukungan itu didasarkan pada pertimbangan kesiapan infrastruktur, kemudahan akses transportasi, serta waktu persiapan yang semakin terbatas menjelang pelaksanaan muktamar.

Baca juga: Jelang Muktamar NU 2026, Gus Rijal Klaim Mayoritas PWNU Ingin Perubahan Total Kepengurusan PBNU

Para ketua PWNU berharap usulan tersebut dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan PBNU sebelum menetapkan lokasi resmi Muktamar ke-35 NU.

32 PWNU Sepakat Usulkan Jakarta Sebagai Lokasi Muktamar

Ketua PWNU Sumatra Barat, Prof Ganefri, mengatakan Jakarta menjadi pilihan paling rasional karena memiliki infrastruktur, akses transportasi, dan fasilitas yang memadai untuk menampung peserta Muktamar dari seluruh Indonesia.

Baca juga: Jelang Muktamar NU, Kiai Imam Jazuli Soroti Aturan yang Bisa Jegal Kiai Maruf Amin

“Muktamar ini forum besar NU. Karena itu, tempatnya harus yang paling siap, paling mudah dijangkau, dan paling memungkinkan untuk mempercepat koordinasi. Dengan waktu persiapan yang semakin pendek, Jakarta adalah pilihan yang paling realistis,” kata Prof Ganefri, Jumat (3/7/2026).

Kesepakatan tersebut dihasilkan dalam rapat koordinasi daring para Ketua PWNU yang berlangsung pada Kamis malam, 2 Juli 2026.

Melalui rapat itu, para peserta mengusulkan kepada PBNU agar salah satu pondok pesantren di wilayah DKI Jakarta ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU.

Jakarta Dinilai Paling Siap Menjadi Lokasi Muktamar

Ketua PWNU Lampung, H Puji Raharjo, mengatakan dukungan kepada Jakarta didasarkan pada sejumlah pertimbangan teknis yang dinilai paling memungkinkan untuk mendukung kelancaran penyelenggaraan muktamar.

Menurutnya, Jakarta memenuhi kriteria penyelenggaraan Muktamar sebagaimana dibahas dalam Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026.

Selain itu, waktu persiapan yang tersisa kurang dari 30 hari membutuhkan lokasi yang memiliki kesiapan infrastruktur, kemudahan koordinasi, serta dukungan fasilitas yang memadai.

Jakarta juga dinilai memiliki sarana transportasi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang lebih lengkap dibandingkan daerah lain.

Kemudahan akses menuju ibu kota melalui penerbangan langsung maupun jalur darat dari berbagai wilayah Indonesia juga menjadi alasan utama.

Dukungan dari 32 PWNU tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bahwa Jakarta merupakan pilihan paling realistis di tengah belum adanya keputusan resmi PBNU mengenai lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU.

Pertimbangan Akses bagi Peserta dari Indonesia Timur

Dukungan serupa disampaikan Ketua PWNU Papua Pegunungan, Abdul Kohar.

Ia mengatakan sejak awal pihaknya telah mengusulkan Jakarta sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU karena lebih mudah dijangkau, khususnya bagi peserta dari wilayah Indonesia timur.

“Memang dari awal saya terus menyuarakan DKI Jakarta sebagai tuan rumah. Kalau di Kediri lagi, kami capek. Kemarin waktu Munas-Konbes NU di Ploso saja, kami keluar rumah jam 6 pagi, capek duduk di pesawat, capek di bus dalam perjalanan. Sampai arena, yang terasa hanya capek dan mengantuk. Kalau Jakarta kan enak transportasinya,” kata Abdul Kohar.

Menurutnya, lokasi yang lebih mudah diakses akan membuat peserta dari daerah yang jauh dapat mengikuti seluruh rangkaian persidangan dalam kondisi yang lebih siap.

Karena itu, para Ketua PWNU menilai Jakarta menjadi pilihan yang efektif agar Muktamar dapat berlangsung tertib, lancar, dan tidak membebani peserta dari berbagai daerah.

Keputusan Lokasi Muktamar Tetap di Tangan PBNU

Puji Raharjo menegaskan usulan Jakarta tidak dimaksudkan untuk mengesampingkan aspirasi PCNU maupun daerah lain yang telah mengajukan diri sebagai tuan rumah Muktamar.

Menurutnya, seluruh usulan merupakan bagian dari dinamika organisasi yang harus dihormati.

“Kami menyerahkan sepenuhnya keputusan akhir kepada PBNU,” kata Puji.

Ia menambahkan bahwa apa pun keputusan yang nantinya ditetapkan PBNU harus dihormati sebagai keputusan organisasi.

Meski demikian, dukungan dari 32 PWNU diharapkan dapat menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU.

Adapun dukungan tersebut berasal dari PWNU Lampung bersama 31 PWNU lainnya, yakni Sumatra Barat, Bengkulu, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, DIY, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, NTB, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Bali, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com dengan judul "32 PWNU Kompak Minta Muktamar NU di Jakarta".

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Ulama MUI: Islam Ajarkan Keseimbangan antara Memaafkan dan Menegakkan Keadilan
Ulama MUI: Islam Ajarkan Keseimbangan antara Memaafkan dan Menegakkan Keadilan
Aktual
Perbedaan Ayat Al-Qur'an yang Diperdengarkan untuk Delegasi Asing di Pemakaman Ali Khamenei Picu Perdebatan
Perbedaan Ayat Al-Qur'an yang Diperdengarkan untuk Delegasi Asing di Pemakaman Ali Khamenei Picu Perdebatan
Aktual
Ayat Al-Qur'an yang Tentang Perang Badar Diperdengarkan di Pemakaman Ali Khamenei
Ayat Al-Qur'an yang Tentang Perang Badar Diperdengarkan di Pemakaman Ali Khamenei
Aktual
Ulama dan Pemkab Aceh Barat Sepakat Haramkan Permainan Domino “Peh Batee”
Ulama dan Pemkab Aceh Barat Sepakat Haramkan Permainan Domino “Peh Batee”
Aktual
Shalat Jenazah untuk Mendiang Ali Khamenei Digelar di Teheran, Ratusan Ribu Pelayat Hadiri Prosesi
Shalat Jenazah untuk Mendiang Ali Khamenei Digelar di Teheran, Ratusan Ribu Pelayat Hadiri Prosesi
Aktual
32 PWNU Dukung Jakarta Jadi Lokasi Muktamar NU ke-35, Ini Alasannya
32 PWNU Dukung Jakarta Jadi Lokasi Muktamar NU ke-35, Ini Alasannya
Aktual
Jelang Muktamar NU 2026, Gus Rijal Klaim Mayoritas PWNU Ingin Perubahan Total Kepengurusan PBNU
Jelang Muktamar NU 2026, Gus Rijal Klaim Mayoritas PWNU Ingin Perubahan Total Kepengurusan PBNU
Aktual
Muhammadiyah Ikut Mazhab Apa? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Terkait Mazhab Fikih yang Dianut
Muhammadiyah Ikut Mazhab Apa? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Terkait Mazhab Fikih yang Dianut
Aktual
Muhammadiyah Luncurkan MSUS, Haedar Nashir Sebut Akan Tambah Daya Tampung
Muhammadiyah Luncurkan MSUS, Haedar Nashir Sebut Akan Tambah Daya Tampung
Aktual
Polri Terima Penghargaan dari Kemenhaj atas Kontribusi dalam Penyelenggaraan Haji 2026
Polri Terima Penghargaan dari Kemenhaj atas Kontribusi dalam Penyelenggaraan Haji 2026
Aktual
Jelang Muktamar NU, Kiai Imam Jazuli Soroti Aturan yang Bisa Jegal Kiai Ma'ruf Amin
Jelang Muktamar NU, Kiai Imam Jazuli Soroti Aturan yang Bisa Jegal Kiai Ma'ruf Amin
Aktual
Ketika Umar bin Khattab Menggaji Guru Rp 95 Juta: Pelajaran tentang Martabat Pendidik dalam Islam
Ketika Umar bin Khattab Menggaji Guru Rp 95 Juta: Pelajaran tentang Martabat Pendidik dalam Islam
Aktual
1.000 Hari Perang Gaza: 2.700 Keluarga Palestina Musnah, Ribuan Anak Jadi Korban
1.000 Hari Perang Gaza: 2.700 Keluarga Palestina Musnah, Ribuan Anak Jadi Korban
Aktual
1,3 Juta Jamaah Kunjungi Kompleks Percetakan Al-Qur'an Madinah dalam Setahun
1,3 Juta Jamaah Kunjungi Kompleks Percetakan Al-Qur'an Madinah dalam Setahun
Aktual
UIN Salatiga Resmikan Fakultas Saintek, Buka Prodi Sains Data hingga Teknologi Informasi
UIN Salatiga Resmikan Fakultas Saintek, Buka Prodi Sains Data hingga Teknologi Informasi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar