Editor
KOMPAS.com - Sejarah Tapak Suci menjadi bagian penting dalam perjalanan perguruan atau organisasi pencak silat Muhammadiyah di Indonesia.
Organisasi ini tidak hanya berkembang sebagai wadah seni bela diri, tetapi juga membawa nilai dakwah, kaderisasi, dan pelestarian budaya pencak silat.
Perjalanan Tapak Suci Muhammadiyah dari masa ke masa menunjukkan bagaimana seni bela diri dapat menjadi bagian dari gerakan organisasi dan pendidikan generasi muda.
Baca juga: Muhammadiyah Ikut Mazhab Apa? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Terkait Mazhab Fikih yang Dianut
Selain menjadi wadah pembinaan pencak silat, Tapak Suci berkembang sebagai sarana dakwah Muhammadiyah sekaligus bagian dari upaya melestarikan budaya luhur Indonesia.
Tapak Suci Putera Muhammadiyah atau dikenal sebagai Tapak Suci merupakan organisasi pencak silat di bawah Persyarikatan Muhammadiyah.
Baca juga: Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah Resmi Tetapkan 13 Formatur PPNA 2026-2030
Organisasi ini resmi berdiri pada 31 Juli 1963 di Kampung Kauman, Kota Yogyakarta, yang menjadi tempat bertemunya tiga aliran silat, yakni Cikauman, Seranoman, dan Kasegu.
Pendirnya adalah Muhammad Barie Irsyad, seorang putra Kauman Yogyakarta yang lahir pada 3 Agustus 1934.
Sebagai salah satu ortom Muhammadiyah, Tapak Suci menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai landasan sekaligus mengedepankan nilai persaudaraan.
Organisasi ini memiliki semboyan yang menjadi pedoman bagi para kadernya, yaitu “Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak menjadi lemah.”
Semboyan tersebut menjadi prinsip yang melekat dalam pembinaan para pendekar Tapak Suci.
Nilai keimanan dan akhlak ditempatkan sebagai bagian penting yang berjalan beriringan dengan kemampuan bela diri.
Tapak Suci tidak hanya berperan sebagai kanal dakwah Muhammadiyah, tetapi juga turut melestarikan pencak silat sebagai bagian dari budaya Indonesia.
Keberadaan organisasi ini sekaligus menunjukkan bahwa Muhammadiyah memberikan ruang bagi seni dan budaya, termasuk pencak silat yang merupakan salah satu warisan budaya luhur bangsa.
Dikutip dari data Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), aliran pencak silat di Indonesia mencapai kurang lebih 840 aliran.
Pencak silat juga telah dinobatkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2019 sehingga keberadaannya perlu terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, Tapak Suci tidak hanya menjalankan fungsi dakwah Persyarikatan Muhammadiyah, tetapi juga menjadi bagian dari creative minority di era modern.
Peran tersebut diwujudkan melalui upaya mempertahankan dan mengembangkan pencak silat sebagai budaya luhur bangsa di tengah perubahan zaman.
Tapak Suci juga tercatat sebagai salah satu dari 10 Perguruan Historis IPSI. Perguruan historis tersebut meliputi Persaudaraan Setia Hati, Persaudaraan Setia Hati Terate, Keluarga Silat Nasional (KELATNAS) Indonesia Perisai Diri, Perguruan Silat Nasional Perisai Putih, Phashadja Mataram, Perguruan Pencak Silat Indonesia (PERPI) Harimurti, Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI), Persatuan Pencak Silat Putra Betawi, dan Keluarga Pencak Silat Nusantara.
Status Tapak Suci sebagai ortom Muhammadiyah membuat organisasi ini memiliki posisi penting di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.
Tapak Suci hadir mulai dari jenjang sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi.
Di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang tersebar di berbagai provinsi Indonesia, Tapak Suci menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler.
Sementara di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA), Tapak Suci menjadi bagian dari organisasi intra kampus bersama Hizbul Wathan dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Kehadiran tersebut membuat pembinaan pencak silat sekaligus nilai-nilai keislaman dapat dilakukan sejak usia sekolah hingga pendidikan tinggi.
Tapak Suci pun menjadi salah satu ruang kaderisasi yang menghubungkan olahraga bela diri dengan nilai-nilai Persyarikatan Muhammadiyah.
Pesilat putri Tapak Suci menunjukkan keahliannya dalam demonstrasi di ajang festival internasional. Kehadiran ratusan pesilat dari 24 negara akan memeriahkan Muktamar Tapak Suci 2026 di Semarang, mempertegas visi internasionalisasi Tapak Suci Muhammadiyah.Komitmen Tapak Suci dalam melestarikan pencak silat sebagai budaya luhur bangsa tercantum dalam maksud dan tujuan organisasi.
Salah satunya adalah tujuan nomor dua, yakni “Memelihara kemurnian pencak silat sebagai seni beladiri Indonesia yang sesuai dan tidak menyimpang dari ajaran Islam sebagai budaya bangsa yang luhur dan bermoral.”
Tujuan tersebut kemudian diwujudkan melalui sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan, penelitian, serta pengembangan seni bela diri Indonesia. Beberapa di antaranya meliputi:
Perkembangan Tapak Suci tidak terlepas dari identitasnya sebagai ortom Muhammadiyah.
Berdasarkan penelusuran dokumen penelitian yang dilakukan Alifka Atmo Ridho B pada 2023, perkembangan Tapak Suci turut didukung oleh luasnya jaringan Muhammadiyah di berbagai wilayah.
Sebagai organisasi Islam yang memiliki jaringan luas di Indonesia dan luar negeri, Muhammadiyah memberikan ruang bagi Tapak Suci untuk berkembang di kawasan yang telah memiliki keberadaan Muhammadiyah.
Perkembangan tersebut membuat Tapak Suci tidak hanya tumbuh di Indonesia, tetapi juga menjangkau masyarakat di berbagai negara.
Alifka Atmo menyebutkan, pada 2013 Tapak Suci sudah tersebar di 35 provinsi di Indonesia, serta memiliki 4 perwakilan kepala khusus di empat negara khususnya di Eropa, Belanda, Singapura, dan Kairo.
Akan tetapi perkembangan Tapak Suci berkembang sangat dinamis, seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum PP Tapak Suci, Afnan Hadikusumo pada 2023 yang menyebutkan bahwa Tapak Suci sudah tersebar di 22 negara, dan memiliki anggota kurang lebih 3 juta jiwa.
Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah, baik dari sisi anggota maupun wilayah persebarannya. Hal ini sejalan dengan perkembangan Muhammadiyah yang telah hadir di 30 negara.
Di sejumlah negara, keberadaan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) biasanya diikuti dengan berkembangnya organisasi otonom Muhammadiyah, termasuk Tapak Suci.
Kegiatan Tapak Suci di luar negeri juga tidak hanya diikuti warga diaspora Indonesia. Kelas-kelas latihan yang diselenggarakan di sejumlah negara turut menarik minat masyarakat lokal untuk mempelajari pencak silat Indonesia.
Perkembangan tersebut salah satunya terlihat di Mesir. Hampir 99 persen peserta kelas latihan Tapak Suci di Mesir merupakan warga asli Mesir, menunjukkan tingginya minat masyarakat lokal terhadap pencak silat Indonesia.
Tapak Suci di Mesir mulai dirintis sejak awal 2000-an dan kini telah berkembang di tujuh provinsi dengan ribuan siswa yang aktif mengikuti latihan.
Selain mengembangkan pencak silat, Tapak Suci di Mesir juga mengikuti berbagai festival untuk memperkenalkan budaya Indonesia dan Muhammadiyah kepada masyarakat internasional.
Upaya tersebut menjadi salah satu bentuk pengenalan Indonesia dan Muhammadiyah melalui seni bela diri.
Mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, Prof. Bambang Suryadi, menyebut langkah tersebut sebagai ‘diplomasi lunak’.
Di Mesir, katanya, Tapak Suci dan Bahasa Indonesia menjadi alat diplomasi strategis, sebab warga Mesir menaruh minat yang besar untuk belajar Bahasa Indonesia dan Tapak Suci.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyebut Tapak Suci sebagai salah satu organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah yang memiliki karakter inklusif dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Tapak Suci ini adalah ortom yang paling inklusif, sehingga diharapkan dapat merangkul seluruh elemen masyarakat. Baik perempuan maupun laki-laki, tua maupun muda, semua bisa menjadi anggota Tapak Suci,” ujarnya ketika membuka Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang pada Sabtu (8/8/2026).
Haedar menegaskan bahwa sebagai bagian dari organisasi otonom Muhammadiyah, TSPM perlu terus menjunjung nilai-nilai keimanan, ketakwaan, dan akhlak dalam menjalankan perannya untuk kemajuan umat dan bangsa.
“Karena semangat iman, takwa, dan akhlak yang dibawa Tapak Suci akan menjadi pilar kekuatan bangsa yang jiwa dan raganya kokoh,” ungkapnya.
Menurut Haedar, nilai-nilai tersebut dapat diterapkan melalui pembinaan rohani dan jasmani dalam pendidikan bela diri Tapak Suci. Pembinaan itu diharapkan dapat membentuk pribadi dengan jiwa kesatria.
“Jiwa kesatria yang dimaksud adalah jiwa kenegarawanan yang mampu membela kebenaran tanpa mengenal perbedaan, selalu menebar kebaikan, dan menjadi kekuatan yang dapat bersinergi dengan pemerintah untuk membela negara,” jelas Haedar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang