Editor
DENPASAR, KOMPAS.com — Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Denpasar Saprillah menilai praktik mindfulness atau kesadaran penuh seharusnya tidak menjadi cara untuk melarikan diri dari kenyataan.
Sebaliknya, mindfulness dapat menjadi ruang untuk menenangkan diri, mengevaluasi cara pandang, dan kembali menghadapi persoalan dengan kesadaran yang lebih baik.
“Bukan untuk keluar dari realitas, tetapi untuk kembali kepadanya dengan cara melihat yang sedikit berbeda,” kata Saprillah dikutip dari laman Kemenag, Selasa (22/9/2026).
Baca juga: Masjid Berdiri di Rooftop RS Jakarta, Hadirkan Healing Fisik dan Batin
Pernyataan tersebut disampaikan Saprillah menanggapi perbincangan mengenai mindfulness yang kembali ramai setelah unggahan Maudy Ayunda di media sosial.
Saprillah mengaku tidak mengikuti keseluruhan perdebatan tersebut. Karena itu, ia tidak ingin menilai pihak yang benar ataupun keliru.
Namun, dari sejumlah respons yang dibacanya, terdapat kritik bahwa mindfulness berpotensi menjadi cara seseorang mengambil jarak atau melarikan diri dari kenyataan.
Seseorang mencari ketenangan ketika kondisi di luar dirinya sedang tidak tenang. Ia berhenti membaca berita buruk, menjauh dari keributan, dan menghindari hal-hal yang membuatnya lelah.
Diri seseorang mungkin menjadi lebih tenang, tetapi persoalan yang terjadi di sekitarnya belum tentu berubah.
Saprillah mengatakan, dirinya juga mempelajari mindfulness, meskipun tidak secara mendalam.
Menurut dia, mindfulness berkaitan dengan proses memahami kesadaran diri, termasuk mengenali titik buta atau blind spot dalam kehidupan.
Istilah tersebut cukup populer di lingkungan Jaringan Gusdurian. Dalam komunitas itu, mindfulness diterjemahkan melalui ungkapan sederhana, yakni “hadir utuh, sadar penuh”.
Gagasan serupa juga digunakan dalam pelatihan Moderasi Beragama, khususnya ketika menjelaskan Theory U yang dikembangkan Otto Scharmer.
“Saya menyukai ungkapan itu karena mindfulness kemudian tidak terasa seperti usaha untuk meninggalkan hiruk-pikuk,” ujar Saprillah.
Menurut dia, seseorang justru diajak hadir di tengah berbagai persoalan dengan cara pandang baru. Ia perlu melihat apa yang sedang terjadi, menyadari perasaannya, dan memahami posisinya dalam hubungan dengan orang lain.
Untuk sampai pada kesadaran tersebut, seseorang membutuhkan jeda dari berbagai informasi, percakapan, dan kegaduhan yang terus masuk ke dalam pikiran.
Jeda itu bukan berarti menutup mata terhadap masalah, melainkan menciptakan ruang untuk melihat kembali kenyataan dengan lebih jernih.
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa saya melihat persoalan ini dengan cara tertentu? Apakah cara pandang yang selama ini saya gunakan masih cukup untuk memahami keadaan?” kata Saprillah.
Baca juga: Sakit Hati, Cemas, Stres? Coba Self Healing dengan Tahajud
Saprillah menyebut proses tersebut sebagai rethinking atau memikirkan kembali sesuatu yang sebelumnya dianggap telah selesai.
Melalui proses itu, seseorang dapat menyadari adanya cara berpikir atau mental model yang perlu diperbarui, termasuk ketika memandang orang lain, lingkungan, agama, dan dirinya sendiri.
Selama ini, kata dia, seseorang mungkin merasa telah memahami suatu persoalan. Namun, setelah berhenti dan melihatnya secara lebih saksama, ia dapat menemukan bagian-bagian yang sebelumnya terlewatkan.
“Bagi saya, mindfulness menjadi menarik ketika prosesnya tidak berhenti pada rasa tenang,” ujarnya.
Jika mindfulness hanya menghasilkan kenyamanan personal tanpa mengubah cara pandang, persoalan di luar diri akan terus berlangsung.
Meski demikian, Saprillah mengingatkan bahwa kebutuhan untuk memperoleh ketenangan pribadi tidak boleh langsung dinilai sebagai sesuatu yang salah.
Manusia tetap membutuhkan ruang untuk merawat diri karena dapat mengalami kelelahan, kemarahan, ketakutan, dan kewalahan. Seseorang juga tidak mungkin selalu berada dalam kondisi siap menghadapi berbagai masalah.
Karena itu, persoalannya bukan memilih antara ketenangan diri dan kepedulian terhadap keadaan sosial. Keduanya dapat dipertemukan melalui jeda.
“Kita berhenti sebentar, menenangkan diri, kemudian melihat kembali. Menyadari bahwa diri kita tidak berdiri sendiri,” kata Saprillah.
Menurut dia, kehidupan seseorang juga dibentuk oleh keberadaan orang lain, lingkungan, serta berbagai persoalan sosial di sekitarnya.
Kesadaran tersebut dapat mengubah cara seseorang memahami masalah. Perubahan cara pandang itu selanjutnya berpotensi memengaruhi tindakan yang diambil.
Saprillah mengatakan, hubungan antara mindfulness dan tindakan terdapat pada proses memahami kenyataan secara lebih utuh.
Seseorang tidak harus langsung bertindak setiap kali melihat persoalan. Ia dapat menyediakan ruang untuk memahami apa yang terjadi, mengenali posisinya, serta menemukan hal-hal yang selama ini luput dari perhatian.
Setelah itu, tindakan yang diambil diharapkan menjadi lebih sadar dan tidak sekadar reaksi sesaat.
Tindakan tersebut juga tidak harus selalu berskala besar. Kesadaran dapat hadir melalui keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, cara memperlakukan orang lain, merespons perbedaan, menjaga lingkungan, atau keberanian memperbaiki kekeliruan dalam diri sendiri.
“Dengan begitu, tindakan bukan sesuatu yang berada di luar mindfulness. Ia justru bisa menjadi bagian dari proses kesadaran itu sendiri,” ujar Saprillah.
Ia menilai, ukuran penting dari mindfulness bukan hanya ketenangan yang dirasakan seseorang, tetapi juga pengaruh kesadaran tersebut terhadap lingkungan di sekitarnya.
“Yang tak kalah penting adalah apa pengaruh kita terhadap lingkungan sekitar setelah kita tenang?” kata dia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.