Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri

Kompas.com, 22 September 2026, 09:31 WIB
Reni Susanti

Editor


DENPASAR, KOMPAS.com — Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Denpasar Saprillah menilai praktik mindfulness atau kesadaran penuh seharusnya tidak menjadi cara untuk melarikan diri dari kenyataan.

Sebaliknya, mindfulness dapat menjadi ruang untuk menenangkan diri, mengevaluasi cara pandang, dan kembali menghadapi persoalan dengan kesadaran yang lebih baik.

“Bukan untuk keluar dari realitas, tetapi untuk kembali kepadanya dengan cara melihat yang sedikit berbeda,” kata Saprillah dikutip dari laman Kemenag, Selasa (22/9/2026).

Baca juga: Masjid Berdiri di Rooftop RS Jakarta, Hadirkan Healing Fisik dan Batin

Pernyataan tersebut disampaikan Saprillah menanggapi perbincangan mengenai mindfulness yang kembali ramai setelah unggahan Maudy Ayunda di media sosial.

Saprillah mengaku tidak mengikuti keseluruhan perdebatan tersebut. Karena itu, ia tidak ingin menilai pihak yang benar ataupun keliru.

Namun, dari sejumlah respons yang dibacanya, terdapat kritik bahwa mindfulness berpotensi menjadi cara seseorang mengambil jarak atau melarikan diri dari kenyataan.

Seseorang mencari ketenangan ketika kondisi di luar dirinya sedang tidak tenang. Ia berhenti membaca berita buruk, menjauh dari keributan, dan menghindari hal-hal yang membuatnya lelah.

Diri seseorang mungkin menjadi lebih tenang, tetapi persoalan yang terjadi di sekitarnya belum tentu berubah.

Hadir Utuh, Sadar Penuh

Saprillah mengatakan, dirinya juga mempelajari mindfulness, meskipun tidak secara mendalam.

Menurut dia, mindfulness berkaitan dengan proses memahami kesadaran diri, termasuk mengenali titik buta atau blind spot dalam kehidupan.

Istilah tersebut cukup populer di lingkungan Jaringan Gusdurian. Dalam komunitas itu, mindfulness diterjemahkan melalui ungkapan sederhana, yakni “hadir utuh, sadar penuh”.

Gagasan serupa juga digunakan dalam pelatihan Moderasi Beragama, khususnya ketika menjelaskan Theory U yang dikembangkan Otto Scharmer.

“Saya menyukai ungkapan itu karena mindfulness kemudian tidak terasa seperti usaha untuk meninggalkan hiruk-pikuk,” ujar Saprillah.

Menurut dia, seseorang justru diajak hadir di tengah berbagai persoalan dengan cara pandang baru. Ia perlu melihat apa yang sedang terjadi, menyadari perasaannya, dan memahami posisinya dalam hubungan dengan orang lain.

Untuk sampai pada kesadaran tersebut, seseorang membutuhkan jeda dari berbagai informasi, percakapan, dan kegaduhan yang terus masuk ke dalam pikiran.

Jeda itu bukan berarti menutup mata terhadap masalah, melainkan menciptakan ruang untuk melihat kembali kenyataan dengan lebih jernih.

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa saya melihat persoalan ini dengan cara tertentu? Apakah cara pandang yang selama ini saya gunakan masih cukup untuk memahami keadaan?” kata Saprillah.

Baca juga: Sakit Hati, Cemas, Stres? Coba Self Healing dengan Tahajud

Tidak Berhenti pada Ketenangan

Saprillah menyebut proses tersebut sebagai rethinking atau memikirkan kembali sesuatu yang sebelumnya dianggap telah selesai.

Melalui proses itu, seseorang dapat menyadari adanya cara berpikir atau mental model yang perlu diperbarui, termasuk ketika memandang orang lain, lingkungan, agama, dan dirinya sendiri.

Selama ini, kata dia, seseorang mungkin merasa telah memahami suatu persoalan. Namun, setelah berhenti dan melihatnya secara lebih saksama, ia dapat menemukan bagian-bagian yang sebelumnya terlewatkan.

“Bagi saya, mindfulness menjadi menarik ketika prosesnya tidak berhenti pada rasa tenang,” ujarnya.

Jika mindfulness hanya menghasilkan kenyamanan personal tanpa mengubah cara pandang, persoalan di luar diri akan terus berlangsung.

Meski demikian, Saprillah mengingatkan bahwa kebutuhan untuk memperoleh ketenangan pribadi tidak boleh langsung dinilai sebagai sesuatu yang salah.

Manusia tetap membutuhkan ruang untuk merawat diri karena dapat mengalami kelelahan, kemarahan, ketakutan, dan kewalahan. Seseorang juga tidak mungkin selalu berada dalam kondisi siap menghadapi berbagai masalah.

Karena itu, persoalannya bukan memilih antara ketenangan diri dan kepedulian terhadap keadaan sosial. Keduanya dapat dipertemukan melalui jeda.

“Kita berhenti sebentar, menenangkan diri, kemudian melihat kembali. Menyadari bahwa diri kita tidak berdiri sendiri,” kata Saprillah.

Menurut dia, kehidupan seseorang juga dibentuk oleh keberadaan orang lain, lingkungan, serta berbagai persoalan sosial di sekitarnya.

Kesadaran tersebut dapat mengubah cara seseorang memahami masalah. Perubahan cara pandang itu selanjutnya berpotensi memengaruhi tindakan yang diambil.

Berujung pada Tindakan Sadar

Saprillah mengatakan, hubungan antara mindfulness dan tindakan terdapat pada proses memahami kenyataan secara lebih utuh.

Seseorang tidak harus langsung bertindak setiap kali melihat persoalan. Ia dapat menyediakan ruang untuk memahami apa yang terjadi, mengenali posisinya, serta menemukan hal-hal yang selama ini luput dari perhatian.

Setelah itu, tindakan yang diambil diharapkan menjadi lebih sadar dan tidak sekadar reaksi sesaat.

Tindakan tersebut juga tidak harus selalu berskala besar. Kesadaran dapat hadir melalui keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, cara memperlakukan orang lain, merespons perbedaan, menjaga lingkungan, atau keberanian memperbaiki kekeliruan dalam diri sendiri.

“Dengan begitu, tindakan bukan sesuatu yang berada di luar mindfulness. Ia justru bisa menjadi bagian dari proses kesadaran itu sendiri,” ujar Saprillah.

Ia menilai, ukuran penting dari mindfulness bukan hanya ketenangan yang dirasakan seseorang, tetapi juga pengaruh kesadaran tersebut terhadap lingkungan di sekitarnya.

“Yang tak kalah penting adalah apa pengaruh kita terhadap lingkungan sekitar setelah kita tenang?” kata dia.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
 Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?
Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?
Aktual
ITB Bangun Hunian dan Musala Pascabencana di Bireuen, Rangka Berdiri dalam 3 Jam
ITB Bangun Hunian dan Musala Pascabencana di Bireuen, Rangka Berdiri dalam 3 Jam
Aktual
Kapan Doa Saat Hujan Paling Mustajab? Ini Dalil dan Penjelasannya
Kapan Doa Saat Hujan Paling Mustajab? Ini Dalil dan Penjelasannya
Aktual
Wamendikdasmen ke Mahasiswa UMB: Kuliah Bukan Hanya untuk Mendapatkan Ijazah
Wamendikdasmen ke Mahasiswa UMB: Kuliah Bukan Hanya untuk Mendapatkan Ijazah
Aktual
Mana yang Didahulukan, Menjawab Salam atau Bersalaman? Ini Adabnya
Mana yang Didahulukan, Menjawab Salam atau Bersalaman? Ini Adabnya
Aktual
Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri
Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri
Aktual
Tekan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif
Tekan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif
Aktual
Dua Jemaah Haji Asal Lamongan dan Tangerang Masih Dirawat di Arab Saudi
Dua Jemaah Haji Asal Lamongan dan Tangerang Masih Dirawat di Arab Saudi
Aktual
Kemenag Buka Pendaftaran Insentif Dosen Non-ASN Ma’had Aly Rp 1 Juta per Bulan
Kemenag Buka Pendaftaran Insentif Dosen Non-ASN Ma’had Aly Rp 1 Juta per Bulan
Aktual
Prabowo Kutip Al-Baqarah Ayat 191, Apa Makna “Fitnah” Sebenarnya?
Prabowo Kutip Al-Baqarah Ayat 191, Apa Makna “Fitnah” Sebenarnya?
Aktual
Muhammadiyah: Kemajuan Umat Harus Dimulai dari Masjid hingga Kemandirian Ekonomi
Muhammadiyah: Kemajuan Umat Harus Dimulai dari Masjid hingga Kemandirian Ekonomi
Aktual
Biaya Penerbangan Haji Diupayakan Turun, BPIH Berpotensi Lebih Rendah
Biaya Penerbangan Haji Diupayakan Turun, BPIH Berpotensi Lebih Rendah
Aktual
Sheikh Ibrahim Al-Madani, Muazin Masjidil Haram Wafat di Usia 51 Tahun
Sheikh Ibrahim Al-Madani, Muazin Masjidil Haram Wafat di Usia 51 Tahun
Aktual
Keffiyeh: Sejarah, Jenis, Pola, Cara Pakai, dan Simbol Solidaritas Palestina
Keffiyeh: Sejarah, Jenis, Pola, Cara Pakai, dan Simbol Solidaritas Palestina
Aktual
Hukum Makmum Masbuk Menjadi Imam untuk Jamaah Baru, Apakah Boleh? Ini Penjelasannya
Hukum Makmum Masbuk Menjadi Imam untuk Jamaah Baru, Apakah Boleh? Ini Penjelasannya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar