Editor
KOMPAS.com - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, rekrutmen anggota Majelis Masyayikh masa khidmat 2026–2031 harus mengutamakan ulama yang memiliki kedalaman ilmu, integritas, keteladanan, serta marwah dan kewibawaan.
Ia berharap Majelis Masyayikh mampu memperkuat penjaminan mutu dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan pesantren di Indonesia.
Baca juga: Kemenag Siapkan 25 Calon Anggota Majelis Masyayikh Periode 2026–2031
Dilansir dari laman Kemenag, Nasaruddin menyampaikan arahan tersebut dalam kegiatan Finalisasi dan Penetapan Hasil Rekrutmen Anggota Majelis Masyayikh Masa Khidmat 2026–2031 di Jakarta Pusat.
Menurutnya, Majelis Masyayikh memiliki peran strategis dalam menjaga sekaligus meningkatkan mutu pendidikan pesantren.
Pengalaman pada periode sebelumnya, kata dia, perlu menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan fungsi penjaminan mutu semakin efektif dan mampu menjawab tantangan zaman.
Baca juga: Kemenag Uji Kapasitas Calon Anggota Majelis Masyayikh 2026-2031, 83 Peserta Diseleks
Karena itu, anggota Majelis Masyayikh tidak cukup hanya memiliki jabatan atau popularitas, tetapi juga harus menunjukkan kapasitas keilmuan, kematangan spiritual, integritas, dan pengabdian yang diakui lingkungan pesantren.
“Ulama yang memiliki marwah adalah mereka yang dihormati karena kedalaman ilmu, akhlak, keteladanan, dan pengabdiannya, bukan semata-mata karena jabatan atau popularitas,” tegas Menag, Senin (12/10/2026).
Menag mengingatkan bahwa pesantren memiliki tradisi keilmuan yang kuat dan berkontribusi besar dalam melahirkan ulama, tokoh bangsa, serta generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.
Tradisi tersebut perlu dipertahankan sebagai fondasi pengembangan pendidikan pesantren di tengah perubahan zaman.
Menurut Nasaruddin, penghormatan kepada guru, keteladanan kiai, adab dalam menuntut ilmu, dan kesinambungan sanad keilmuan merupakan bagian penting dari identitas pesantren.
Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan harus berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai khas pesantren.
Dalam penguatan kelembagaan, kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan, tata kelola, dan penjaminan mutu pendidikan pesantren.
Upaya tersebut tetap harus memperhatikan karakteristik khas pesantren serta menghormati kemandirian dan kewibawaan para kiai.
Nasaruddin juga berharap rekrutmen anggota Majelis Masyayikh menghasilkan figur yang mampu menjalankan amanah secara profesional, menjaga kehormatan ulama, dan mendorong peningkatan mutu pendidikan pesantren secara berkelanjutan.
Keterwakilan yang proporsional, termasuk unsur gender, turut menjadi perhatian untuk mewujudkan kelembagaan yang inklusif.
Direktur Jenderal Pesantren Basnang Said mengatakan, rekrutmen anggota Majelis Masyayikh masa khidmat 2026–2031 telah memasuki tahap finalisasi setelah melalui serangkaian seleksi selama kurang lebih dua hingga tiga bulan.
Basnang menjelaskan, Tim Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), yang terdiri atas unsur ketua, sekretaris, dan anggota berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama, hadir secara langsung untuk menyelesaikan tahap penetapan hasil rekrutmen.
Tim AHWA bertugas menjaring 25 calon anggota untuk disampaikan kepada Menteri Agama sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan komposisi keanggotaan definitif.
Jumlah anggota yang ditetapkan mengacu pada ketentuan yang berlaku, dengan komposisi minimal sembilan orang dan maksimal 17 orang.
"Percepatan proses rekrutmen ini diperlukan mengingat masa khidmat Majelis Masyayikh periode pertama dijadwalkan berakhir pada 25 November 2026. Oleh karena itu, tahapan penetapan, pelantikan, hingga pembagian tugas perlu dipersiapkan sejak dini agar kesinambungan fungsi penjaminan mutu tetap terjaga," ungkap Basnang.
Melalui proses rekrutmen yang transparan dan akuntabel, Kementerian Agama berharap Majelis Masyayikh masa khidmat 2026–2031 dapat mengoptimalkan kinerja, menjaga marwah ulama, memperkuat tradisi keilmuan, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan pesantren di Indonesia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.