KOMPAS.com - Berbeda pendapat dengan orang tua dapat menjadi situasi yang sulit, terutama ketika menyangkut pilihan pekerjaan, pasangan hidup, pendidikan, atau cara menjalani masa depan. Anak mungkin ingin menyampaikan keinginannya, tetapi khawatir dianggap membantah atau tidak menghormati orang tua.
Dalam Islam, berbakti kepada orang tua tetap menjadi kewajiban, tetapi tidak berarti anak harus menyembunyikan seluruh perasaan atau selalu menyetujui setiap keputusan. Seorang Muslim perlu menjaga adab ketika berbeda pandangan sekaligus menyampaikan pendirian dengan jujur, selama tidak melanggar ketentuan agama.
Berbakti kepada orang tua atau birrul walidain mencakup sikap menghormati, memperlakukan mereka dengan baik, dan menjaga hubungan keluarga. Namun, perbedaan pandangan tidak otomatis menjadikan seorang anak durhaka. Cara menyampaikan ketidaksetujuan dan sikap terhadap orang tua perlu diperhatikan.
Baca juga: Muhammadiyah Haramkan Rokok, Mas’udi Dorong Pengawasan dan Sanksi di Kampus
Misalnya, anak yang memilih pekerjaan berbeda dari keinginan orang tuanya dapat menjelaskan pertimbangan dan rencana yang dimiliki. Ia tetap perlu mendengarkan kekhawatiran orang tua tanpa harus langsung menganggap semua pendapat mereka sebagai keputusan yang tidak boleh dibicarakan.
Allah SWT menjelaskan prinsip berbakti sekaligus batas ketaatan kepada orang tua dalam QS Luqman ayat 15:
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
Wa in jāhadāka ‘alā an tusyrika bī mā laisa laka bihī ‘ilmun fa lā tuṭi‘humā wa ṣāḥibhumā fid-dunyā ma‘rūfā.
Artinya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS Luqman: 15).
Baca juga: Mars Hari Santri dan Ikrar Santri, Pengingat Perjuangan dan Janji untuk Negeri
Ayat ini menjelaskan bahwa ketaatan kepada orang tua memiliki batas, sedangkan kewajiban memperlakukan mereka dengan baik tetap berlaku. Konteks ayat tersebut adalah larangan menaati ajakan kepada kemusyrikan, sehingga tidak tepat jika ayat ini dijadikan alasan untuk menolak semua nasihat orang tua. Pesan yang dapat dipahami ialah bahwa perbedaan atau penolakan harus tetap disertai sikap yang baik.
Ketika tidak setuju, anak dapat menjelaskan alasan secara tenang tanpa menggunakan kata-kata yang merendahkan. Memilih waktu ketika kedua pihak tidak sedang marah juga membantu percakapan berlangsung lebih baik. Jika suasana memanas, menunda pembicaraan sampai keadaan lebih tenang dapat menjadi pilihan.
Dalam pembahasan tentang batas ketaatan kepada orang tua, NU Online mengingatkan bahwa kewajiban menghormati dan menaati orang tua tetap berada dalam koridor syariat. Artinya, berbakti tidak cukup diukur dari apakah anak mengikuti setiap keinginan orang tua, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga perilaku dan hubungan dengan mereka.
Baca juga: Surah Al-Baqarah Ayat 205 dan Larangan Membakar Hutan hingga Merusak Lingkungan
Memendam perasaan karena takut dianggap durhaka dapat membuat persoalan tidak terselesaikan. Sebaliknya, meluapkan kekecewaan dengan tuduhan dapat membuat orang tua merasa diserang. Karena itu, anak bisa menjelaskan apa yang dirasakan dan dibutuhkan tanpa menyimpulkan bahwa orang tua selalu salah.
Sebagai contoh, daripada mengatakan bahwa orang tua tidak pernah memahami pilihannya, anak dapat menerangkan alasan di balik keputusan tersebut dan meminta kesempatan untuk menjelaskan. Cara ini bukan jaminan orang tua langsung setuju, tetapi membuka ruang dialog yang lebih sehat dan saling menghargai.
Rasulullah SAW memberi teladan tentang tetap berbuat baik kepada orang tua meskipun terdapat perbedaan keyakinan. Dalam hadis yang diriwayatkan Asma binti Abu Bakar, ia bertanya tentang ibunya yang masih musyrik dan ingin menjalin hubungan dengannya. Nabi menjawab:
Baca juga: Guru Besar UMP: Label Syariah Tak Cukup, Pengelolaan Dana Harus Transparan
نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ
Na‘am, ṣilī ummaki.
Artinya: “Ya, tetaplah menjalin hubungan dengan ibumu.” (Sahih al-Bukhari 2620).
Hadis ini menunjukkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan ibu meskipun terdapat perbedaan mendasar. Dalam kehidupan sehari-hari, ketidaksetujuan mengenai pilihan pribadi tidak seharusnya langsung menjadi alasan untuk memutus komunikasi, mengabaikan kebutuhan orang tua, atau membalas perkataan mereka dengan kasar.
Tidak semua perbedaan harus selesai dalam satu percakapan. Anak dapat meminta waktu untuk mempertimbangkan nasihat orang tua, menjelaskan batas yang dimiliki, atau melibatkan anggota keluarga tepercaya sebagai penengah jika komunikasi terus buntu.
Baca juga: 750 Nama Bayi Perempuan Islami Tercantik dan Artinya
Tetap berbakti bukan berarti menghapus suara dan kebutuhan diri sendiri. Anak dapat mendengarkan, mempertimbangkan, lalu mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Jika terjadi tekanan atau perlakuan yang membahayakan, mencari bantuan dari orang tepercaya juga penting. Tujuannya ialah menjaga hubungan dengan orang tua tanpa mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan diri.
## Sumber Primer
- Al-Qur’an, QS Luqman ayat 15: https://quran.com/id/luqman/15
- Sahih al-Bukhari 2620: https://sunnah.com/bukhari/51/52
## Sumber Pendukung
- NU Online, “Kajian Hadits: Batas Taat kepada Orang Tua dalam Islam”: https://islam.nu.or.id/nikah-keluarga/kajian-hadits-batas-taat-kepada-orang-tua-dalam-islam-zWydz
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.