Editor
KOMPAS.com - Ungkapan doa agar pasangan yang baru menikah bisa menjadi keluarga samawa ternyata bukan ungkapan biasa.
Ilstilah samawa yang merupakan singkatan dari sakinah mawaddah warahmah merupakan tujuan pernikahan dalam Islam yang menggambarkan keluarga penuh ketenangan, cinta, dan kasih sayang.
Untuk mewujudkannya, suami dan istri perlu menjalankan tanggung jawab bersama, menjaga komunikasi, serta membangun rumah tangga berdasarkan nilai agama dan akhlak yang baik.
Baca juga: Doa Pengantin Baru agar Sakinah Mawaddah Warahmah, Lengkap Arab dan Artinya
Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi juga membangun kehidupan bersama yang dilandasi ketenangan, cinta, dan kasih sayang.
Dalam Islam, tujuan tersebut tercermin dalam konsep keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.
Baca juga: 5 Tanda Keluarga Sakinah Menurut Al-Quran dan Sunnah
Menurut Kemenag Kota Probolinggo, ketiga istilah ini memiliki makna yang saling melengkapi:
Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 21:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
Ayat tersebut menjelaskan bahwa ketenangan, cinta, dan kasih sayang merupakan bagian dari tujuan pernikahan yang perlu dijaga dan diusahakan oleh pasangan suami istri.
Keluarga yang tenteram dan bahagia tidak terbentuk dengan sendirinya. Dibutuhkan komitmen, ketakwaan, serta kebiasaan baik yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemenag Jawa Tengah menjelaskan ciri-ciri keluarga sakinah mawaddah warahmah:
Keluarga berkualitas menjadikan nilai agama sebagai pedoman dalam membangun karakter dan menjalani kehidupan. Kesalehan tidak hanya diwujudkan melalui pemenuhan kewajiban agama secara personal, tetapi juga melalui perilaku baik terhadap lingkungan sosial.
Dalam kehidupan bermasyarakat, keluarga yang berpegang pada nilai agama diharapkan memiliki sikap moderat (at-tawâsuth), menjaga keseimbangan (at-tawâzun), menegakkan kebenaran dan keadilan (i‘tidâl), serta menghormati perbedaan (at-tasâmuh).
Keluarga juga perlu menjaga persaudaraan dengan sesama muslim (ukhuwah islâmiyah), sesama bangsa Indonesia (ukhuwah wathaniyah), dan sesama manusia (ukhuwah basyariyah).
Selain itu, karakter Islami seperti shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas) perlu ditanamkan dalam kehidupan keluarga.
Komunikasi yang sehat berlangsung dua arah. Suami, istri, dan anak perlu merasa nyaman menyampaikan pendapat sekaligus bersedia mendengarkan satu sama lain.
Komunikasi yang efektif membantu menghindari kesalahpahaman, menyelesaikan persoalan, dan mempererat hubungan antaranggota keluarga.
Kebersamaan keluarga tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu yang dihabiskan bersama, tetapi juga oleh kualitas interaksi di dalamnya.
Melalui kegiatan bersama, anggota keluarga dapat memperkuat hubungan, berbagi pengalaman, dan menunjukkan perhatian satu sama lain.
Keluarga yang harmonis menghadirkan dukungan dalam keadaan suka maupun duka. Setiap anggota keluarga perlu merasakan kehadiran dan kepedulian orang-orang terdekatnya.
Dukungan emosional tersebut membantu menciptakan rasa aman dan penerimaan dalam keluarga.
Menghargai pendapat dan perasaan setiap anggota keluarga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat.
Sikap saling menghormati menciptakan lingkungan yang nyaman, terbuka, dan bebas dari kebiasaan menghakimi.
Keputusan keluarga sebaiknya dibangun melalui musyawarah dengan memberikan ruang bagi setiap anggota untuk menyampaikan pendapat.
Suami dan istri dapat melibatkan anak dalam pembahasan yang berkaitan dengan kehidupan mereka, seperti menentukan jadwal kegiatan atau aturan rumah.
Keterlibatan tersebut menumbuhkan rasa memiliki, tanggung jawab, dan kepercayaan diri anak. Anak yang ikut menyusun aturan keluarga juga cenderung lebih memahami dan menjalankannya.
Keseimbangan mental dan kemampuan mengelola emosi menjadi unsur penting dalam menjaga ketenteraman rumah tangga.
Anggota keluarga perlu belajar mengendalikan emosi, menyampaikan perasaan dengan baik, dan menyelesaikan konflik tanpa merusak hubungan.
Resiliensi merupakan kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh ketika menghadapi situasi sulit.
Keluarga yang memiliki resiliensi akan berusaha tetap bersatu saat menghadapi krisis, membicarakan masalah secara terbuka, dan mencari solusi bersama. Saling menjaga harapan dan belajar dari kesulitan juga membantu keluarga melewati masa-masa berat.
Dalam kajian subuh di Lantai Utama Masjid Istiqlal, Dr. KH. Masruhin, Lc. MA menjelaskan bahwa keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dapat terwujud apabila suami dan istri menjalankan peran serta tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
Artinya: “ Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda: "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya." (HR. Tirmidzi)
Suami berperan dalam menciptakan suasana rumah tangga yang aman, nyaman, dan penuh ketenangan. Beberapa tanggung jawab yang perlu dijalankan antara lain:
Tanggung jawab tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 34:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
Artinya: "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)..." (QS. An-Nisa (4) ayat 34)
Rasulullah SAW menjelaskan ciri istri yang baik dalam hadis berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟ قَالَ: الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah SAW ditanya: "Wanita manakah yang paling baik?" Beliau menjawab: "Yang menyenangkan suaminya apabila dilihat, mentaatinya apabila diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada dirinya dan hartanya dalam hal yang dibenci (suami)." (HR. An-Nasa'i dan Ahmad)
Dalam kehidupan rumah tangga, peran istri salehah antara lain:
Selain menjalankan peran masing-masing, suami dan istri perlu menjaga rahasia rumah tangga serta tidak menyebarkan keburukan pasangan kepada orang lain, termasuk melalui media sosial.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 187:
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
Artinya: "...mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka..."
Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang larangan menyebarkan rahasia hubungan suami istri. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, beliau bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا
Artinya: "Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian suami menyebarkan rahasia (ranjang) mereka." (HR. Muslim No. 1437)
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ SAW قَالَ: مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Barang siapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat." (HR. Muslim)
Ungkapan baiti jannati atau rumahku adalah surgaku menggambarkan rumah tangga yang menghadirkan ketenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan.
Namun, suasana tersebut tidak hadir begitu saja, melainkan membutuhkan usaha, komitmen, dan kesediaan setiap anggota keluarga untuk saling menjaga.
Keluarga sakinah, mawaddah, warahmah menjadi dambaan setiap orang beriman. Dengan menjadikan agama sebagai pedoman, menjaga komunikasi, serta menjalankan tanggung jawab dengan penuh kasih sayang, keluarga dapat membangun kehidupan yang harmonis.
Mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah merupakan perjalanan bersama yang membutuhkan komitmen dan ketakwaan.
Suami dan istri perlu saling menghargai, mendukung, serta menjaga kepercayaan agar rumah menjadi tempat yang menenteramkan.
Salah satu doa untuk memohon keluarga yang bahagia dan keturunan yang saleh terdapat dalam QS. Al-Furqan ayat 74.
وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
Doa tersebut mengandung permohonan agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk hati melalui perilaku mulia, sekaligus memohon agar keluarga dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa.
Semoga Allah SWT menganugerahkan kita semua keluarga yang penuh kemuliaan, kasih sayang, dan keberkahan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.