KOMPAS.com - Sakit merupakan kondisi yang hampir selalu dihindari oleh manusia. Naluri dasar setiap orang adalah menginginkan tubuh yang sehat, kuat, dan bebas dari rasa nyeri.
Namun dalam ajaran Islam, sakit tidak semata dipandang sebagai penderitaan fisik, melainkan bagian dari mekanisme pendidikan spiritual yang Allah tetapkan bagi hamba-Nya.
Ketika seorang mukmin diuji dengan penyakit, Islam mengajarkan agar ia tidak larut dalam keluhan dan keputusasaan.
Sebaliknya, kondisi tersebut diarahkan untuk menjadi sarana introspeksi, penyucian diri, serta penguatan hubungan dengan Allah SWT.
Dalam literatur keislaman, bahkan disebutkan bahwa orang sakit tidak pernah benar-benar sendirian karena berada dalam pengawasan malaikat dan limpahan rahmat Ilahi.
Baca juga: 7 Bacaan Doa untuk Orang Sakit agar Diberikan Kesembuhan
Dalam kitab Al-Jami’ Ash-Shaghir karya Imam As-Suyuthi dijelaskan bahwa musibah yang menimpa seorang mukmin bukanlah bentuk kebencian Allah, melainkan tanda perhatian dan kasih sayang-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dasar utama bahwa sakit memiliki dimensi spiritual yang besar. Penyakit bukan sekadar melemahkan fisik, tetapi menjadi media pembersihan dosa serta pengangkatan derajat keimanan seseorang.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa penghapusan dosa melalui sakit berlaku selama seorang hamba menjaga kesabaran dan tidak berburuk sangka kepada Allah.
Dengan demikian, sakit bukanlah kutukan, melainkan momentum untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Baca juga: Tata Cara Tayamum bagi Orang Sakit dan Ketentuannya dalam Islam
Dalam sejumlah kitab klasik disebutkan adanya riwayat yang dinisbatkan kepada Abu Umamah Al-Bahili tentang malaikat yang diperintahkan Allah untuk mendatangi orang mukmin yang sedang sakit. Riwayat ini tercantum dalam kitab Hilyatul Auliya’ karya Imam Abu Nu’aim Al-Ashbahani.
Meski para ulama hadis menilai riwayat ini tidak mencapai derajat shahih, para ulama tasawuf dan ulama targhib wa tarhib sering mengutipnya sebagai penguat makna spiritual, bukan sebagai dalil hukum.
Inti pesannya bukan pada detail teknis jumlah malaikat, melainkan pada makna bahwa orang sakit berada dalam lingkaran perhatian langit.
Dalam riwayat tersebut digambarkan bahwa para malaikat datang membawa ketenangan, menguatkan tubuh, menyemangati jiwa, serta mencatat penghapusan dosa yang terjadi selama masa sakit.
Baca juga: 5 Doa untuk Orang Sakit Sesuai Sunnah Rasulullah SAW
Para ulama kontemporer menjelaskan bahwa gambaran empat malaikat lebih tepat dipahami sebagai simbol dari empat dimensi pertolongan Ilahi yang menyertai orang sakit.
Pertama adalah dimensi ketenangan batin. Ketika seseorang diuji penyakit, Allah menurunkan sakinah ke dalam hati orang yang sabar.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ketenangan hati merupakan karunia langsung dari Allah yang sering kali dirasakan oleh orang beriman saat menghadapi cobaan berat.
Kedua adalah dimensi pemulihan fisik. Islam mengajarkan bahwa ikhtiar medis adalah bagian dari tawakal. Rasulullah SAW bersabda dalam Sunan Abu Dawud:
“Berobatlah kalian, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya.”
Baca juga: Doa Saat Sakit Hati agar Diberi Ketenangan dan Kesabaran
Ketiga adalah dimensi penguatan spiritual. Penyakit sering menjadi titik balik kesadaran manusia.
Dalam Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa sakit dapat melunakkan hati, menghancurkan kesombongan, dan membuka pintu taubat.
Keempat adalah dimensi pengampunan dosa. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi mengumpulkan banyak hadis yang menegaskan bahwa penderitaan fisik seorang mukmin bernilai sebagai kaffarah atau penebus kesalahan.
Salah satu pesan penting dari riwayat tentang malaikat adalah bahwa dosa yang dihapus tidak dikembalikan kepada hamba tersebut.
Ini sejalan dengan sifat Allah yang Maha Pengampun. Dalam Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 53, Allah menegaskan:
“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
Para mufasir seperti Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an menjelaskan bahwa pengampunan Allah bersifat menyeluruh bagi hamba yang bertaubat dan bersabar dalam ujian.
Dengan demikian, ketika seorang mukmin sakit lalu bersabar, berdoa, dan tetap berhusnuzan, maka ia sedang berada dalam proses pemurnian diri yang bernilai tinggi di sisi Allah.
Baca juga: Doa Menjenguk Orang Sakit Sesuai Ajaran Rasulullah SAW Lengkap dengan Artinya
Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha. Orang sakit dianjurkan untuk menggabungkan kesabaran spiritual dengan ikhtiar medis.
Rasulullah SAW mencontohkan doa, ruqyah, pengobatan herbal, serta menjaga pola hidup sehat sebagai bagian dari sunnah.
Dalam kitab Zadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dijelaskan bahwa pengobatan Nabi mencakup tiga unsur utama, yaitu doa, obat alami, dan pendekatan psikologis berupa penguatan iman.
Kesabaran, syukur, dan doa menjadi pilar utama agar sakit tidak berubah menjadi sumber keputusasaan, melainkan menjadi jalan kedewasaan iman.
Pada akhirnya, Islam memandang sakit bukan sebagai akhir, tetapi sebagai proses. Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa seseorang bisa mencapai derajat tertentu di surga bukan karena banyaknya amal, melainkan karena kesabaran saat diuji.
Inilah yang menjadikan sakit memiliki nilai transformatif. Ia mengajarkan manusia tentang keterbatasan diri, ketergantungan kepada Allah, dan pentingnya mempersiapkan kehidupan akhirat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang