Penulis
KOMPAS.com - Dalam perjalanan menggenggam iman, seorang Muslim tidak selalu berada pada puncak semangat dalam beribadah. Ada kalanya hati terasa berat untuk beribadah, malas melakukan kebaikan, dan kehilangan gairah spiritual. Kondisi inilah yang dalam Islam dikenal dengan istilah futur.
Futur adalah ujian yang sering dialami oleh siapa saja, bahkan oleh orang-orang beriman. Memahami futur dan cara mengatasinya sangat penting agar keimanan tidak terus menurun dan tetap berada di jalan Allah.
Baca juga: Amalan Sebelum Tidur: Penenang Jiwa dan Penjaga Iman di Malam Hari
Secara bahasa, futur berarti melemah atau menurun setelah sebelumnya kuat. Dalam konteks keimanan, futur adalah kondisi menurunnya semangat beribadah dan ketaatan kepada Allah, baik dalam amal wajib maupun sunnah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal memiliki masa semangat, dan setiap masa semangat memiliki masa futur (lemah). Barang siapa futur-nya masih berada pada sunnahku, maka ia telah mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menunjukkan bahwa futur adalah hal yang manusiawi, namun yang membedakan adalah bagaimana seseorang menyikapinya. Futur masih wajar selama masih berada di jalan yang lurus, minimal masih mengerjakan ibadah-ibadah wajib.
Futur perlu mendapat perhatian serius ketika membuat seseorang melakukan berbagai kemaksiatan dan meninggalkan kewajiban-kewajiban ibadah. Bila ini terjadi, iman sedang berada di titik terendahnya atau bahkan hilang sama sekali.
Munculnya tanda-tanda futur terkadang tidak disadari. Ia datang perlahan-lahan seiring penurunan kualitas dan kuantitas ibadah. Ketika sudah parah, berulah tanda-tanda ini disadari.
Berikut ini beberapa tanda futur yang umum dirasakan seseorang, antara lain:
Baca juga: Doa Isra Miraj dan Amalan untuk Menguatkan Iman
Futur tidak muncul tanpa sebab. Ia hadir karena ada beberapa faktor utama yang memicunya, antara lain:
Islam tidak hanya menjelaskan masalah, tetapi juga memberikan solusi. Berikut ini beberapa cara efektif mengatasi futur:
Bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT akan membuat hati menjadi bersih, sehingga sinar Ilahiyah akan mampu menembus hati dan meneranginya untuk meniti jalan yang lurus.
Perbaiki niat-niat dalam beribadah. Ingat kembali tujuan hidup sebagai hamba Allah dan bahwa semua amal dilakukan hanya untuk mencari ridha-Nya.
Baca juga: Kisah Lengkap Ashabul Kahfi: 7 Pemuda Teladan Penggenggam Iman
Konsisten atau istiqamah dalam mengerjakan amal walaupun sedikit akan mendatangkan rahmat Allah SWT sehingga imannya akan dijaga.
Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jangan memaksakan diri dengan amalan berat. Mulailah dari yang ringan namun istiqamah.
Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk dan obat bagi hati yang sakit. Memperbanyak membaca Al-Qur'an akan semakin menguatkan hati dan dapat menguatkan kembali iman yang melemah.
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap keimanan. Untuk itu, bertemanlah dengan orang-orang sholeh yang dapat mengingatkan kepada Allah dan memberi motivasi dalam kebaikan.
Ilmu adalah bahan bakar iman dan cahaya yang akan menerangi hati manusia. Mendengarkan kajian atau membaca buku agama dapat membangkitkan semangat iman yang telah meredup.
Baca juga: Keteguhan Iman, Bakti pada Ibu, dan Janji Surga Sa’ad bin Abi Waqqas
Islam adalah agama yang seimbang. Jangan memforsir diri dalam segala hal hingga lelah karena kelelahan bisa menjadi pintu masuk futur.
Futur bukanlah tanda kegagalan iman, melainkan bagian dari ujian perjalanan spiritual. Yang terpenting bukanlah jatuhnya, tetapi bagaimana cara bangkit kembali.
Selama futur disikapi dengan kembali kepada sunnah Rasulullah SAW, memperbaiki niat, dan menjaga amal, maka futur justru bisa menjadi sarana untuk naik ke tingkat iman yang lebih baik.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang