Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Futur dalam Islam: Pengertian, Tanda-Tanda, dan Cara Mengatasinya

Kompas.com, 21 Januari 2026, 18:59 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Dalam perjalanan menggenggam iman, seorang Muslim tidak selalu berada pada puncak semangat dalam beribadah. Ada kalanya hati terasa berat untuk beribadah, malas melakukan kebaikan, dan kehilangan gairah spiritual. Kondisi inilah yang dalam Islam dikenal dengan istilah futur.

Futur adalah ujian yang sering dialami oleh siapa saja, bahkan oleh orang-orang beriman. Memahami futur dan cara mengatasinya sangat penting agar keimanan tidak terus menurun dan tetap berada di jalan Allah.

Baca juga: Amalan Sebelum Tidur: Penenang Jiwa dan Penjaga Iman di Malam Hari

Pengertian Futur

Secara bahasa, futur berarti melemah atau menurun setelah sebelumnya kuat. Dalam konteks keimanan, futur adalah kondisi menurunnya semangat beribadah dan ketaatan kepada Allah, baik dalam amal wajib maupun sunnah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal memiliki masa semangat, dan setiap masa semangat memiliki masa futur (lemah). Barang siapa futur-nya masih berada pada sunnahku, maka ia telah mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa futur adalah hal yang manusiawi, namun yang membedakan adalah bagaimana seseorang menyikapinya. Futur masih wajar selama masih berada di jalan yang lurus, minimal masih mengerjakan ibadah-ibadah wajib.

Futur perlu mendapat perhatian serius ketika membuat seseorang melakukan berbagai kemaksiatan dan meninggalkan kewajiban-kewajiban ibadah. Bila ini terjadi, iman sedang berada di titik terendahnya atau bahkan hilang sama sekali.

Tanda-Tanda Futur

Munculnya tanda-tanda futur terkadang tidak disadari. Ia datang perlahan-lahan seiring penurunan kualitas dan kuantitas ibadah. Ketika sudah parah, berulah tanda-tanda ini disadari.

Berikut ini beberapa tanda futur yang umum dirasakan seseorang, antara lain:

  • Malas beribadah, terutama sholat tepat waktu dan membaca Al-Qur’an.
  • Hilangnya kelezatan iman, ibadah terasa hampa dan sekadar rutinitas.
  • Menunda-nunda amal baik dan lebih memilih kesenangan duniawi.
  • Menjauh dari majelis ilmu dan lingkungan yang baik.
  • Mudah lalai dan terjerumus maksiat, meski sebelumnya berusaha menjauhinya.

Baca juga: Doa Isra Miraj dan Amalan untuk Menguatkan Iman

Penyebab Futur

Futur tidak muncul tanpa sebab. Ia hadir karena ada beberapa faktor utama yang memicunya, antara lain:

  • Kurangnya ilmu agama sehingga ibadah dilakukan tanpa pemahaman dan kurang bermakna.
  • Lingkungan yang buruk, jauh dari orang-orang sholeh, memberikan dampak buruk dalam praktek ibadah dan keimanan.
  • Dosa dan maksiat akan mengeraskan hati dan menghalangi cahaya iman menyusup ke dalamnya.
  • Kelelahan fisik dan mental, karena memaksakan ibadah tanpa keseimbangan dan mengalami masalah berat dalam kehidupan dapat memicu munculnya futur.
  • Terlalu fokus mengejar dunia hingga mengesampingkan akhirat.

Cara Mengatasi Futur

Islam tidak hanya menjelaskan masalah, tetapi juga memberikan solusi. Berikut ini beberapa cara efektif mengatasi futur:

1. Bertaubat Kepada Allah SWT

Bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT akan membuat hati menjadi bersih, sehingga sinar Ilahiyah akan mampu menembus hati dan meneranginya untuk meniti jalan yang lurus.

2. Memperbaiki Niat

Perbaiki niat-niat dalam beribadah. Ingat kembali tujuan hidup sebagai hamba Allah dan bahwa semua amal dilakukan hanya untuk mencari ridha-Nya.

Baca juga: Kisah Lengkap Ashabul Kahfi: 7 Pemuda Teladan Penggenggam Iman

3. Konsisten Meski Sedikit

Konsisten atau istiqamah dalam mengerjakan amal walaupun sedikit akan mendatangkan rahmat Allah SWT sehingga imannya akan dijaga.

Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan memaksakan diri dengan amalan berat. Mulailah dari yang ringan namun istiqamah.

4. Dekat dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk dan obat bagi hati yang sakit. Memperbanyak membaca Al-Qur'an akan semakin menguatkan hati dan dapat menguatkan kembali iman yang melemah.

5. Pilih Lingkungan yang Baik

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap keimanan. Untuk itu, bertemanlah dengan orang-orang sholeh yang dapat mengingatkan kepada Allah dan memberi motivasi dalam kebaikan.

6. Menghadiri Majelis Ilmu

Ilmu adalah bahan bakar iman dan cahaya yang akan menerangi hati manusia. Mendengarkan kajian atau membaca buku agama dapat membangkitkan semangat iman yang telah meredup.

Baca juga: Keteguhan Iman, Bakti pada Ibu, dan Janji Surga Sa’ad bin Abi Waqqas

7. Seimbangkan Ibadah dan Istirahat

Islam adalah agama yang seimbang. Jangan memforsir diri dalam segala hal hingga lelah karena kelelahan bisa menjadi pintu masuk futur.

Penutup

Futur bukanlah tanda kegagalan iman, melainkan bagian dari ujian perjalanan spiritual. Yang terpenting bukanlah jatuhnya, tetapi bagaimana cara bangkit kembali.

Selama futur disikapi dengan kembali kepada sunnah Rasulullah SAW, memperbaiki niat, dan menjaga amal, maka futur justru bisa menjadi sarana untuk naik ke tingkat iman yang lebih baik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
Aktual
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Aktual
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
Aktual
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
Aktual
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
Aktual
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
Aktual
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
Aktual
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Aktual
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Aktual
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Aktual
Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
Bacaan Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Bacaan Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Presiden Dijadwalkan Buka Kongres Umat Islam Indonesia VIII Hari Ini, MUI Himpun 87 Ormas Bahas Masa Depan Bangsa
Presiden Dijadwalkan Buka Kongres Umat Islam Indonesia VIII Hari Ini, MUI Himpun 87 Ormas Bahas Masa Depan Bangsa
Aktual
Wasekjen PBNU soal Kuota Hangus: Jangan Ambil Hak Pelanggan Secara Batil
Wasekjen PBNU soal Kuota Hangus: Jangan Ambil Hak Pelanggan Secara Batil
Aktual
Menlu RI dan Negara Muslim Kecam Keras Eskalasi Israel di Al-Aqsa
Menlu RI dan Negara Muslim Kecam Keras Eskalasi Israel di Al-Aqsa
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar