Editor
KOMPAS.com - Menjelang Ramadhan, umat Islam dianjurkan mempersiapkan diri, bukan hanya secara fisik tetapi juga spiritual.
Salah satu amalan yang sangat ditekankan Rasulullah SAW sebagai persiapan itu adalah memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban.
Anjuran ini bukan sekadar tradisi, tetapi memiliki dasar kuat dari hadis sahih yang diriwayatkan para perawi terkemuka.
Baca juga: Kapan Nisfu Syaban 2026? Ini Tanggal dan Asal Usulnya
Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah RA menuturkan kebiasaan Nabi SAW dalam berpuasa di bulan ini:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Artinya: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunnah dibandingkan pada Sya’ban.” (HR Bukhari)
Riwayat lain semakin menegaskan:
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
Artinya: “Nabi tidak pernah berpuasa lebih banyak dalam satu bulan selain Sya’ban. Beliau hampir berpuasa sebulan penuh.” (HR Bukhari dan Muslim)
Mayoritas fuqaha dari mazhab Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi’iyah menyatakan bahwa puasa Sya’ban hukumnya sunnah yang sangat dianjurkan. Hal ini dirangkum dalam ensiklopedi fikih ulama Kuwait:
ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى اسْتِحْبَابِ صَوْمِ شَهْرِ شَعْبَانَ ... بَل كَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ
Artinya: “Mayoritas ulama berpendapat dianjurkannya puasa di bulan Sya’ban, bahkan Rasulullah menyambungkannya dengan Ramadhan.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah)
Imam Az-Zarqani menjelaskan, puasa Sya’ban adalah latihan sebelum Ramadhan:
وَقَدْ قِيلَ فِي صَوْمِ شَعْبَانَ مَعْنًى آخَرُ ... فَيَدْخُلَ فِي صِيَامِ رَمَضَانَ بِقُوَّةٍ وَنَشَاطٍ
Artinya: “Puasa Sya’ban menjadi latihan agar seseorang masuk Ramadhan dengan kekuatan dan semangat.” (Syarh Az-Zarqani)
Syekh Nawawi Al-Bantani bahkan menyebut keutamaannya berkaitan dengan syafaat Rasulullah SAW:
وَالثَّانِي عَشَرَ صَوْمُ شَعْبَانَ ... نَالَ شَفَاعَتَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya: “Siapa yang berpuasa Sya’ban akan mendapatkan syafaat Rasulullah di hari kiamat.” (Nihayah Az-Zain)
Adapun niat puasa sunnah Sya’ban adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: “Saya niat puasa Sya’ban karena Allah Ta’ala.”
Baca juga: Amalan Bulan Syaban: Waktu Mustajab Sebelum Berbuka Puasa
Niat ini bisa dilakukan sejak malam hari hingga sebelum waktu zawal (matahari tergelincir), selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
Dengan dalil hadis sahih dan penjelasan para ulama, puasa Sya’ban menjadi amalan penting untuk menyongsong Ramadhan.
Ia bukan hanya persiapan jasmani, tetapi juga pematangan spiritual agar Ramadhan dijalani dengan kekuatan, kekhusyukan, dan semangat ibadah yang lebih optimal.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang