Editor
KOMPAS.com - Sholat Dhuha merupakan salah satu ibadah sunnah muakkad, yakni sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan karena memiliki keutamaan besar dalam ajaran Islam.
Ibadah ini kerap dikaitkan dengan upaya memohon kelancaran rezeki, ketenangan hidup, serta ampunan dosa.
Selain bernilai sebagai amalan sunnah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, sholat Dhuha juga mengandung pahala besar bagi siapa saja yang melaksanakannya dengan ikhlas dan istiqomah.
Tidak sedikit umat Islam yang menjadikan sholat Dhuha sebagai amalan rutin karena diyakini mampu membuka pintu rezeki dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah SAW pun menganjurkan umatnya untuk menjaga amalan ini karena manfaat spiritual dan keberkahannya yang luar biasa.
Baca juga: Hukum Sholat Dhuha Berjamaah, Ini Penjelasan Ulama
Sholat Dhuha dilaksanakan pada pagi hari setelah matahari terbit hingga menjelang masuk waktu Zuhur.
Secara bahasa, kata “Dhuha” merujuk pada awal siang hari, yaitu saat matahari mulai naik dan sinarnya tampak terang.
Para ulama menjelaskan bahwa waktu Dhuha dimulai ketika matahari telah terbit dan naik setinggi satu tombak, sekitar tujuh hasta atau kurang lebih 2,5 meter, hingga sebelum matahari tergelincir ke arah barat.
Sebagian ulama menganjurkan agar sholat Dhuha dikerjakan pada akhir waktunya, yakni ketika matahari sudah cukup tinggi dan panas mulai terasa, sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 pagi.
Pada waktu inilah pahala dan keberkahan sholat Dhuha disebut lebih utama, seperti anjuran pada hadits berikut:
أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ » أخرجه مسلم
Artinya: "Dari Zaid bin Arqam, bahwa ia melihat orang-orang mengerjakan shalat dhuha (pada waktu yang belum begitu siang), maka ia berkata: 'Mereka mungkin tidak mengetahui sholat dhuha pada selain saat-saat seperti itu adalah lebih utama, karena sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah (al-Awwabin) adalah pada waktu anak-anak unta sudah bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari.'” (HR Muslim).
Jumlah rakaat sholat Dhuha bersifat fleksibel. Ibadah sunnah ini dapat dikerjakan minimal dua rakaat dan maksimal dua belas rakaat atau bahkan lebih, dengan ketentuan setiap dua rakaat diakhiri dengan salam.
Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW kerap mengerjakan sholat Dhuha sebanyak empat rakaat, dan terkadang menambahnya sesuai kehendak Allah SWT. Hal ini sebagaimana sabda beliau:
"Sholat Dhuha itu (minimal) dua rakaat, dan yang paling sempurna adalah delapan rakaat, sedangkan Rasulullah biasa mengerjakannya empat rakaat, dan menambahkannya sesuai dengan yang Allah kehendaki." (HR. Muslim).
Dengan demikian, jumlah rakaat sholat Dhuha dapat disesuaikan dengan kemampuan, waktu, dan keikhlasan masing-masing dalam beribadah.
Berikut bacaan niat sholat Dhuha menurut jumlah rakaatnya:
اُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Usholli sunnatadh dhuhaa rak’ataini mustaqbilal qiblati ada’an lillahi ta’aalaa.
Artinya: Saya berniat mengerjakan sholat sunnah Dhuha dua rakaat semata-mata karena Allah Ta’ala.
أُصَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلّهِ تَعَالَى
Latin: Usholli sunnatadh Dhuhaa arba'aa roka'aatin mustaqbilal qiblati adaa'an lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku niat sholat sunnah Dhuha empat rakaat menghadap kiblat saat ini karena Allah Ta’ala."
Pelaksanaan sholat Dhuha pada dasarnya sama dengan sholat sunnah lainnya. Berikut tata cara sholat Dhuha dua rakaat:
Tata cara tersebut dapat diulang sesuai jumlah rakaat yang diinginkan, dengan ketentuan setiap dua rakaat diakhiri salam.
Setelah menunaikan sholat Dhuha, seorang Muslim dianjurkan untuk tidak langsung beranjak dari tempat sholat.
Memperbanyak dzikir, doa, dan amalan ibadah setelah sholat Dhuha diyakini dapat menyempurnakan ibadah serta menghadirkan ketenangan batin dan keberkahan hidup.
Beberapa bacaan dzikir yang dianjurkan antara lain:
Meski tidak ada doa khusus dari Nabi SAW, terdapat doa yang banyak diamalkan dan disebutkan dalam kitab Syarh Al-Minhaj karya Asy-Syarwani serta dikutip Ad-Dimyathi dalam I’anatuth Thalibin, yaitu:
للّٰهُمَّ اِ نَّ الضُّحَآ ءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاء َ بَهَاءُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ و َالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَ الْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ و َالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ
Allahumma innadhdhuha-a dhuha-uka, walbahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ‘ishmata ‘ishmatuka.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, dan penjagaan adalah penjagaan-Mu.”
Dilanjutkan dengan doa:
اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ...
Artinya: "Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sulit mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, dan apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, dan kekuasaan-Mu. Berikanlah kepadaku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih."
Selain itu, terdapat doa-doa yang populer dan sering diamalkan oleh kaum Muslim, di antaranya:
اَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ الَّذِ ىْ لَا اِلٰهَ اِلَّا هُوَالْحَىُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ
Astaghfirullahalazim aladhii laa ilaha ilaa huwalhayyul qayum wa atubu ilayh.
Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Besar, yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang senantiasa hidup lagi yang mengurus segala sesuatu sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya." (HR. Abu Daud dan at-Turmidzi dari Bilal)
اللَّهُمَ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Allahumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarakta yaa dzaljalaali wal ikram.
Artinya: "Ya Allah, Engkaulah As-Salam dan dari-Mu pula segala keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Tuhan yang memiliki kebesaran dan kemuliaan."
Selain dzikir dan doa, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilakukan setelah sholat Dhuha, di antaranya membaca Al-Qur’an, terutama surat Al-Waqi’ah, Ar-Rahman, atau Yasin, sebagai ikhtiar memohon keberkahan rezeki dan perlindungan Allah SWT.
Bersedekah juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Sedekah setelah sholat Dhuha diyakini dapat membuka pintu rezeki dan menjauhkan dari kesulitan hidup.
Terakhir, memperbanyak doa untuk kelancaran rezeki, kesehatan, keselamatan, serta kebahagiaan di dunia dan akhirat menjadi penutup yang baik setelah menunaikan sholat Dhuha.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang