KOMPAS.com - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk tidak hanya mempersiapkan kebutuhan fisik, tetapi juga memperkuat kesiapan batin.
Ramadan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, melainkan ruang penyucian jiwa, penguatan iman, dan perbaikan hubungan dengan Allah SWT serta sesama manusia.
Tradisi ulama terdahulu menunjukkan bahwa persiapan menyambut Ramadan dilakukan jauh hari sebelumnya.
Mereka memohon agar dipertemukan dengan bulan penuh rahmat tersebut sekaligus berharap amalnya diterima. Doa-doa menjelang Ramadan menjadi bagian penting dari ikhtiar spiritual itu.
Berikut rangkaian doa yang dapat diamalkan menjelang Ramadan, lengkap dengan sumber rujukan dan penjelasannya.
Para salafushalih memiliki kebiasaan berdoa sejak enam bulan sebelum Ramadan agar diberi umur panjang hingga bulan suci tiba.
Dikutip dari buku Apakah Amalan Kita Diterima Allah SWT? karya Alexander Zulkarnaen, Mu’alla bin Al-Fadhl menyebutkan bahwa para sahabat berdoa enam bulan sebelum Ramadan agar dipertemukan dengannya dan enam bulan setelahnya agar amal mereka diterima. Riwayat ini juga disebut dalam kitab Lathaif Al Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali.
Salah satu doa yang diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir adalah:
اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا
Allāhumma sallimnī ilā Ramaḍāna wa sallim lī Ramaḍāna wa tasallamhu minnī mutaqabbalan.
Artinya: “Ya Allah, sampaikan aku hingga Ramadan. Sampaikan Ramadan kepadaku (dalam keadaan selamat). Dan terimalah amal Ramadan dariku.”
Doa ini mencerminkan kesadaran bahwa bertemu Ramadan adalah nikmat besar dan tidak semua orang mendapat kesempatan tersebut.
Baca juga: Beras Haji Nusantara Siap Dikirim Awal Ramadhan, 2.280 Ton untuk 205 Ribu Jemaah
Dalam kitab Ad-Du’ā karya Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabarani, disebutkan bahwa Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang doa yang sebaiknya dibaca ketika Ramadan datang. Beliau mengajarkan doa berikut:
اللهمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allāhumma innaka ‘afuwwun tuḥibbul ‘afwa fa‘fu ‘annī.
Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Doa ini populer dibaca pada malam-malam Ramadan, khususnya pada Lailatul Qadar. Namun maknanya relevan sejak awal bulan, Ramadan adalah momentum memohon ampunan seluas-luasnya.
Awal Ramadan ditandai dengan terlihatnya hilal. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi dan Ad-Darimi, Rasulullah SAW mengajarkan doa berikut:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالإِسْلَامِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّه
Allāhumma ahillahu ‘alainā bil-amni wal-īmān, was-salāmati wal-islām, wat-taufīqi limā yuḥibbu rabbunā wa yarḍā. Rabbunā wa rabbukallāh.
Artinya: “Ya Allah, tampakkanlah bulan ini kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman, serta taufik untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan ridai. Tuhan kami dan Tuhanmu (wahai bulan) adalah Allah.”
Doa ini menunjukkan bahwa Ramadan diharapkan menjadi bulan yang menghadirkan rasa aman, ketenangan, dan peningkatan kualitas iman.
Menjelang Ramadan, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak doa sejak bulan Rajab dan Sya’ban.
Dalam hadis riwayat Al-Baihaqi disebutkan doa berikut:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Allāhumma bārik lanā fī Rajaba wa Sya‘bāna wa ballighnā Ramaḍān.
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.”
Menurut buku Zikir dan Doa Sepanjang Tahun karya Ustaz Abdul Somad, doa ini mencerminkan harapan agar perjalanan spiritual menuju Ramadan berlangsung dalam keberkahan dan kesiapan yang matang.
Dalam buku Zikir-zikir Ramadhan Ajaran Nabi karya Tim Zahra, disebutkan bahwa pada malam pertama Ramadan, Rasulullah SAW memanjatkan doa panjang yang menegaskan keagungan bulan tersebut.
Di antaranya:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ... اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَصَلَوَاتِهِ وَتَقَبَّلْهُ مِنَّا
Allāhumma bārik lanā fī syahri Ramaḍān wa a‘innā ‘alā ṣiyāmihi wa ṣalātihi wa taqabbalhu minnā.
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Ramadan. Bantulah kami dalam menjalankan puasanya dan salatnya, serta terimalah amal kami di dalamnya.”
Doa ini menegaskan bahwa keberhasilan Ramadan bukan hanya soal niat, tetapi juga pertolongan Allah SWT.
Persiapan menyambut Ramadan juga berakar pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadan adalah membentuk ketakwaan. Maka doa menjelang Ramadan menjadi pintu awal menuju tujuan tersebut.
Menurut Prof. Quraish Shihab dalam buku Wawasan Al-Qur’an, kesiapan spiritual menentukan kualitas ibadah.
Ramadan yang disambut dengan hati lalai akan berbeda hasilnya dibanding Ramadan yang dipersiapkan dengan kesungguhan.
Doa menjelang Ramadan bukan sekadar tradisi, tetapi refleksi kesadaran bahwa bulan suci adalah kesempatan emas yang belum tentu terulang. Ia mengajarkan kerendahan hati, harapan, dan ketergantungan penuh kepada Allah SWT.
Ramadan selalu datang setiap tahun, tetapi tidak semua orang kembali menemuinya. Di situlah letak urgensi doa: memohon umur panjang, kekuatan ibadah, serta penerimaan amal.
Menjelang Ramadan, mungkin inilah saat yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri: sudahkah hati kita siap menyambut tamu agung itu?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang