KOMPAS.com – Di tengah kehidupan spiritual umat Islam, shalawat menempati posisi istimewa sebagai bentuk cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dari sekian banyak shalawat yang dikenal luas, Shalawat Badar menjadi salah satu yang paling sering dilantunkan dalam berbagai majelis, pesantren, hingga acara keagamaan di Indonesia.
Lebih dari sekadar bacaan, Shalawat Badar menyimpan sejarah panjang, nilai spiritual, serta keyakinan akan keberkahan yang menyertainya.
Shalawat Badar terdiri dari rangkaian pujian kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, serta tawassul kepada para pejuang Perang Badar.
Secara umum, isi shalawat ini memohon perlindungan, keselamatan, dan keberkahan dengan perantara kemuliaan Ahli Badar.
Baca juga: Sholawat Busyro Lengkap: Amalan Pembuka Kabar Baik dan Rezeki
صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ
صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ
تَوَ سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ
وَ كُــلِّ مُجَـا هِـدِ لِلّهِ بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلا ُمـَّة مِـنَ اْلافـَاتِ وَالنِّـقْـمَةَ
وَمِنْ هَـمٍ وَمِنْ غُـمَّـةٍ بِاَ هْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَللهُ
اِلهِى نَجِّـنَا وَاكْـشِـفْ جَـمِيْعَ اَذِ يـَّةٍ وَا صْرِفْ
مَـكَائـدَ الْعِـدَا وَالْطُـفْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى نَـفِّـسِ الْـكُـرَبَا مِنَ الْعَـاصِيْـنَ وَالْعَطْـبَا
وَ كُـلِّ بـَلِـيَّـةٍ وَوَبـَا بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
فَكَــمْ مِنْ رَحْمَةٍ حَصَلَتْ وَكَــمْ مِنْ ذِلَّـةٍ فَصَلَتْ
وَكَـمْ مِنْ نِعْمـَةٍ وَصَلَـتْ بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَ كَـمْ اَغْـنَيْتَ ذَالْعُـمْرِ وَكَـمْ اَوْلَيْـتَ ذَاالْفَـقْـرِ
وَكَـمْ عَافَـيـْتَ ذِاالْـوِذْرِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
لَـقَدْ ضَاقَتْ عَلَى الْقَـلْـبِ جَمِـيْعُ اْلاَرْضِ مَعْ رَحْبِ
فَانْـجِ مِنَ الْبَلاَ الصَّعْـبِ بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
ا َتَيـْنَا طَـالِـبِى الرِّفْـقِ وَجُـلِّ الْخَـيْرِ وَالسَّـعْدِ
فَوَ سِّـعْ مِنْحَـةَ اْلاَيـْدِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
فَـلاَ تَرْدُدْ مَـعَ الْخَـيـْبَةْ بَلِ اجْعَلْـنَاعَلَى الطَّيْبـَةْ
اَيـَا ذَاالْعِـزِّ وَالْهَـيـْبَةْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَ اِنْ تَرْدُدْ فَـمَنْ نَأْتـِىْ بِـنَيـْلِ جَمِيـْعِ حَاجَا تِى
اَيـَا جَـالِى الْمُـلِـمـَّاتِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى اغْفِـرِ وَاَ كْرِ مْنَـا بِـنَيـْلِ مـَطَا لِبٍ مِنَّا
وَ دَفْـعِ مَسَـاءَةٍ عَـنَّا بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى اَنـْتَ ذُوْ لُطْـفٍ وَذُوْ فَـضْلٍ وَذُوْ عَطْـفٍ
وَكَـمْ مِنْ كُـرْبـَةٍ تَنـْفِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَصَلِّ عَـلَى النـَّبِىِّ الْبَـرِّ بـِلاَ عَـدٍّ وَلاَ حَـصْـرِ
وَالِ سَـادَةٍ غُــــرِّ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Shalaatullaah Salaamullaah 'Alaa Thaaha Rasuulillaah
Shalaatullaah Salaamullaah 'Alaa Yaa Siin Habiibillaah
Tawassalnaa Bibismillaah Wabil Haadi Rasuulillaah
Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
llaahi Sallimil Ummah Minal Aafaati Wanniqmah
Wamin Hammin Wamin Ghummah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Ilaahi Najjinaa Waksyif Jamii'a Adziyyatin Wahrif
Makaa idal 'idaa wal thuf Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
llaahi Naffisil Kurbaa Minal'Ashiina Wal'Athbaa
Wakulli Baliyyatin Wawabaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Fakam Min Rahmatin Washalat Wakam Min Dzillatin Fashalat
Wakam Min Ni'matin Washalat Bi Ahlil Bailri Yaa Allaah
Wakam Aghnaita Dzal 'Umri Wakam Autaita D'Zal Faqri
Wakam'Aafaita Dzal Wizri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Laqad Dlaaqat'Alal Oalbi Jamii'ul Ardli Ma' Rahbi
Fa Anji Minal Balaas Sha'bi Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Atainaa Thaalibir Rifdi Wajullil Khairi Was Sa'di
Fawassi' Minhatal Aidii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Falaa Tardud Ma'al Khaibah Balij'Alnaa'Alath Thaibah
Ayaa Dzal 'lzzi Wal Haibah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Wain Tardud Faman Ya-Tii Binaili Jamii'i Haajaati
Ayaa jalail mulimmaati Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
llaahighfir Wa Akrimnaa Binaili Mathaalibin Minnaa
Wadaf i Masaa-Atin 'Annaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
llaahii Anta Dzuu Luthfin Wadzuu Fadl-Lin Wadzuu 'Athfin
Wakam Min Kurbatin Tanfii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Washalli 'Alan Nabil Barri Bilaa 'Addin Walaa Hashri
Wa Aali Saadatin Ghurri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Artinya:
"Rahmat dan keselamatan Allah, semoga tetap untuk Nabi utusan Allah.
Rahmat dan keselamatan Allah, semoga tetap untuk Nabi Yasin kekasih Allah.
Kami berwasilah dengan berkah basmalah, dan dengan Nabi yang menunaikan lagi utusan Allah.
Dan seluruh orang yang berjuang karena Allah, karena berkahnya ahli badar ya Allah.
Ya Allah, semoga Engkau menyelamatkan ummat, dari bencana dan siksa.
Dan dari susah dan kesulitan, karena berkahnya ahli badar ya Allah.
Ya Allah semoga Engkau selamatkan kami dari segala yang menyakitkan, dan semoga Engkau menjauhkan dari berbagai tipu daya musuh-musuh.
Dan semoga Engkau mengasihi kami, karena berkahnya ahli badar ya Allah.
Ya Allah semoga Engkau menjauhkan beberapa kesusahan, dari orang-orang yang bermaksiat dan membuat kerusakan.
Dan semoga Engkau menghilangkan semua bencana dan wabah penyakit, karena berkahnya ahli badar ya Allah.
Maka sudah banyak rahmat yang telah sampai, dan sudah banyak kenistaan yang dihilangkan.
Dan sudah banyak dari nikmat yang telah sampai, karena berkahnya ahli badar ya Allah.
Sudah berapa kali Engkau memberi harta orang yang makmur, dan berapa kali Engkau memberi nikmat kepada orang yang fakir.
Dan berapa kali Engkau mengampuni orang yang berdosa, karena berkahnya ahli badar ya Allah.
Sungguh hati manusia yang merasa sempit di atas tanah yang luas ini, karena banyaknya marabahaya yang menakutkan dan malapetaka yang menghancurkan.
Semoga Allah menyelamatkan kami dari bencana yang menakutkan, karena berkahnya ahli badar ya Allah.
Kami datang dengan memohon pertolongan, dan memohon kebaikan dan keberkahan.
Semoga Allah meluaskan anugerah yang melimpah-limpah, karena berkahnya ahli badar ya Allah.
Maka janganlah Engkau menolak kami dari kerugian, bahkan jadikanlah diri kami dapat beramal baik dan selalu berbahagia.
Wahai Dzat yang punya kebesaran dan keagungan, karena berkahnya ahli badar ya Allah.
Ya Allah semoga Engkau mengampuni segala kesalahan kami dan memuliakan kami dengan beberapa permohonan.
Dan menolak kesalahan-kesalahan kami, karena berkahnya ahli badar ya Allah.
Ya Allah, Engkaulah yang mempunyai belas kasihan dan punya anugrah dan kasih sayang.
Sudah banyak kesusahan yang sirna dari sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.
Dan semoga Engkau melimpahkan rahmat kepada Nabi yang senantiasa berbakti kepada-Mu dengan limpahan rahmat dan kesejahteraan yang tak terbilang dan tak terhitung.
Dan semoga tetap atas para keluarga Nabi dan para Sayyid yang bersinar cahayanya, karena berkahnya ahli badar ya Allah."
Bacaan ini menegaskan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul pilihan Allah yang membawa cahaya petunjuk bagi umat manusia.
Dalam kitab Dalail al-Khairat karya Imam Al-Jazuli, shalawat dijelaskan sebagai bentuk dzikir yang tidak hanya mendekatkan hamba kepada Rasulullah, tetapi juga menjadi jalan turunnya rahmat Allah SWT.
Baca juga: Sholawat Munjiyat: Bacaan Lengkap, Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Menurut buku Shalawat Populer: Esensi Shalawat bagi Umat Nabi Muhammad SAW karya KH. Suhaidi Ghazali dan Dr. Shabri Shaleh Anwar, Shalawat Badar digubah oleh Kiai Ali Mansur pada sekitar tahun 1960-an di Banyuwangi.
Saat itu, beliau menjabat sebagai pejabat Kementerian Agama sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama di daerahnya.
Latar belakang lahirnya shalawat ini tidak terlepas dari situasi sosial-politik yang penuh ketegangan.
Pada masa itu, tekanan terhadap para ulama cukup kuat, sementara kondisi umat Islam menghadapi tantangan besar.
Dalam kegelisahan tersebut, Kiai Ali Mansur menuliskan syair Arab yang kemudian dikenal sebagai Shalawat Badar.
Syair itu lahir setelah pengalaman spiritual berupa mimpi dan peristiwa yang oleh masyarakat sekitar dimaknai sebagai tanda keberkahan.
Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi keyakinan kolektif bahwa shalawat ini memiliki nilai spiritual yang kuat dan penuh keberkahan.
Dalam kajian sejarah Islam Nusantara yang ditulis oleh Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara, tradisi shalawat di Indonesia memang sering lahir dari perpaduan antara spiritualitas, budaya lokal, dan pengalaman religius para ulama.
Nama “Badar” dalam shalawat ini merujuk pada Perang Badar, salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Perang ini bukan hanya pertempuran fisik, tetapi juga simbol kemenangan iman atas keterbatasan jumlah dan persenjataan.
Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Ibnu Katsir, Perang Badar digambarkan sebagai momentum penting yang memperkuat posisi umat Islam di masa awal dakwah Nabi.
Karena itu, penyebutan “Ahli Badar” dalam shalawat dipahami sebagai bentuk tawassul kepada para sahabat yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT.
Baca juga: Sholawat Nariyah: Bacaan Lengkap, Arti, dan Keutamaannya
Shalawat Badar tidak hanya dikenal sebagai bacaan rutin, tetapi juga diyakini memiliki berbagai keutamaan spiritual.
Dalam beberapa literatur Islam seperti Fadhail A’mal karya Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi, shalawat secara umum memiliki keutamaan memperluas rahmat dan menghapus kesulitan hidup.
Adapun keutamaan Shalawat Badar yang banyak diyakini umat Islam antara lain:
Pertama, menjadi wasilah untuk memperoleh ampunan Allah SWT.
Kedua, menenangkan hati dari kegelisahan dan kesedihan.
Ketiga, diyakini sebagai doa perlindungan dari marabahaya dan gangguan.
Keempat, membuka jalan kemudahan rezeki dan keberkahan hidup.
Dalam tradisi pesantren di Indonesia, Shalawat Badar juga kerap dilantunkan saat menghadapi situasi sulit sebagai bentuk doa kolektif agar diberikan pertolongan Allah SWT.
Di Indonesia, Shalawat Badar telah menjadi bagian dari budaya religius yang hidup di tengah masyarakat.
Ia tidak hanya dibaca di masjid atau pesantren, tetapi juga dalam acara keagamaan, pengajian, hingga momen kebangsaan.
Menurut penelitian dalam jurnal Studia Islamika, tradisi shalawat di Indonesia berperan penting dalam membangun solidaritas sosial dan spiritual umat Islam.
Shalawat Badar menjadi salah satu contoh bagaimana teks religius dapat hidup dalam ruang budaya dan menjadi pengikat emosional umat.
Lebih dari sekadar rangkaian doa, Shalawat Badar adalah jejak spiritual yang menghubungkan sejarah Islam, perjuangan ulama, dan kehidupan umat di masa kini.
Dalam perspektif tasawuf yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, shalawat merupakan jalan untuk membersihkan hati dan memperkuat hubungan batin antara manusia dan Rasulullah SAW.
Karena itu, Shalawat Badar tidak hanya dibaca, tetapi juga dihayati sebagai doa yang hidup dalam keseharian.
Shalawat Badar tetap bertahan hingga hari ini bukan tanpa alasan. Di balik setiap lantunannya, tersimpan sejarah, doa, dan harapan akan perlindungan serta keberkahan hidup.
Bagi banyak umat Islam, shalawat ini bukan sekadar warisan, melainkan pengingat bahwa dalam setiap kesulitan, selalu ada jalan spiritual yang menghubungkan manusia dengan rahmat Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang