Editor
KOMPAS.com - Ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan ruhani yang penuh kesabaran, pengorbanan, disiplin, dan kepatuhan kepada Allah SWT.
Karena itu, kemabruran haji tidak cukup diukur dari pakaian ihram atau selesainya rangkaian manasik semata.
Predikat haji mabrur lahir dari niat yang tulus, ibadah yang benar, serta perubahan akhlak setelah pulang dari haji.
Baca juga: Haji Tidak Selalu Mabrur, Ini Tanda dan Cara Agar Ibadah Diterima
Setiap jamaah tentu berharap memperoleh kemuliaan tersebut karena balasannya sangat agung di sisi Allah.
Dilansir dari laman MUI, Balasan bagi haji mabrur dijelaskan dalam hadits yang sangat masyhur yaitu:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Khutbah Jumat Hari Ini: Mengenal Apa Itu Haji Mabrur dan Ciri-cirinya
Predikat haji mabrur menjadi harapan seluruh jamaah haji. Namun, kemabruran tidak datang otomatis hanya karena seseorang telah tiba di Makkah dan menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji.
Predikat tersebut harus diupayakan melalui dua jalan besar, yakni ikhtiar lahiriah dan permohonan batiniah kepada Allah SWT.
Langkah pertama menuju haji mabrur adalah dengan mencari ilmu dengan menjalankan seluruh manasik sesuai tuntunan syariat.
Karena itu, mempelajari fikih haji, memahami rukun, wajib, sunnah, larangan ihram, adab thawaf, sa’i, wukuf, mabit, hingga melontar jumrah merupakan bagian penting dari kesungguhan ibadah.
Banyak orang bersemangat berangkat haji, tetapi minim persiapan ilmu. Padahal ibadah tanpa ilmu rentan jatuh pada kekeliruan.
Para ulama sejak dahulu membahas haji secara rinci dalam kitab-kitab fikih, menunjukkan bahwa ibadah ini membutuhkan kesiapan yang matang.
Selain sah secara hukum, jamaah juga perlu menjaga akhlak selama berhaji.
Di antaranya adalah sabar saat antre, lembut kepada sesama jamaah, tidak mudah marah, menjaga lisan, serta memperbanyak dzikir.
Haji mabrur bukan hanya ibadah yang benar secara fikih, tetapi juga baik secara perilaku.
Setelah ikhtiar maksimal, seorang hamba tetap membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Sebab yang menilai kemabruran bukan manusia, bukan panitia, dan bukan pula gelar sosial setelah pulang haji.
Ilustrasi hajiDalam pembahasan manasik terdapat riwayat doa yang populer dibaca ketika melontar jumrah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا
“Ya Allah, jadikanlah ini haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.”
Riwayat ini disebutkan dari praktik Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Dalam kitab Ad-Du‘a karya Imam ath-Thabrani disebutkan:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدٍ الْحِنَّائِيُّ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا رَمَى الْجِمَارَ كَبَّرَ عِنْدَ كُلِّ حَصَاةٍ وَقَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا
“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad al-Hinna’i, telah menceritakan kepada kami Syaiban, telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau apabila melempar jumrah, beliau bertakbir pada setiap lemparan batu kecil, lalu berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.’ (Ad-Du‘a li ath-Thabrani [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], h. 276)
Artinya, Ibnu Umar ketika melempar jumrah bertakbir pada setiap lemparan batu, lalu berdoa memohon haji mabrur dan ampunan dosa.
Dalam tradisi mazhab Syafi’i, doa tersebut juga dikenal dengan tambahan lafaz:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا وَسَعْيًا مَشْكُورًا
“Ya Allah, jadikanlah ini haji yang mabrur, dosa yang diampuni, dan usaha yang diterima dengan penuh syukur.”
Hal ini sebagaimana riwayat yang dicatat Imam al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra:
أَخْبَرَنَا أَبُو سَعِيدِ بْنُ أَبِي عَمْرٍو، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ الْأَصَمُّ، أنبأ الرَّبِيعُ، قَالَ: قَالَ الشَّافِعِيُّ: أُحِبُّ كُلَّمَا حَاذَى بِهِ يَعْنِي بِالْحَجَرِ الْأَسْوَدِ أَنْ يُكَبِّرَ، وَأَنْ يَقُولَ فِي رَمَلِهِ: اللهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا، وَسَعْيًا مَشْكُورًا
“Telah mengabarkan kepada kami Abu Sa‘id bin Abi ‘Amr, telah menceritakan kepada kami Abu al-‘Abbas al-Ashamm, telah memberitakan kepada kami ar-Rabi‘, ia berkata: Imam asy-Syafi‘i berkata: ‘Aku menyukai agar setiap kali seseorang sejajar dengan Hajar Aswad, ia bertakbir. Dan hendaknya ia mengucapkan ketika melakukan ramal: ‘Ya Allah, jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur, dosa yang diampuni, dan usaha yang diterima dengan penuh syukur.’” (As-Sunan al-Kubra [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], juz 5, h. 137)
Keterangan serupa juga terdapat dalam kitab Al-Umm:
وَأُحِبُّ كُلَّمَا حَاذَى بِهِ أَنْ يُكَبِّرَ وَأَنْ يَقُولَ فِي رَمَلِهِ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا وَسَعْيًا مَشْكُورًا
“Aku menyukai agar setiap kali seseorang sejajar dengan Hajar Aswad, ia bertakbir. Dan hendaknya ia mengucapkan ketika melakukan ramal: ‘Ya Allah, jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur, dosa yang diampuni, dan usaha yang diterima dengan penuh syukur.’” (Al-Umm [Beirut: Dar al-Fikr], juz 2, h. 230)
Sebagian orang mengira doa ini merupakan hadis Nabi secara langsung. Padahal para ahli hadis menilai penyandaran tersebut kepada Nabi tidak kuat atau lemah.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengomentari:
حَدِيثُ رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي رَمَلِهِ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا... لَمْ أَجِدْهُ
“Hadits yang menyebut Nabi berdoa demikian ketika ramal, aku tidak menemukannya.”
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa al-Baihaqi menyebutkannya sebagai perkataan Imam Syafi’i, sedangkan riwayat dari jalur Ibnu Mas‘ud dan Ibnu Umar dinilai lemah. (At-Talkhis al-Habir, juz 2, h. 542)
Meski demikian, doa ini tetap boleh diamalkan sebagai doa yang baik, namun tidak dipastikan sebagai sunnah Nabi dengan sanad sahih.
Predikat haji mabrur juga dapat dilihat dari perubahan setelah seseorang pulang berhaji.
Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ. قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللهِ مَا بِرُّالْحَجِّ الْمَبْرُورُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ
“Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, ‘Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, apakah tanda kebaikan haji mabrur itu?’ Beliau menjawab, ‘Memberi makan dan menyebarkan salam.’”
Dalam Mu’jam al-Ausath disebutkan riwayat lain:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ. قَالَ: وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: ِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَطِيبُ الْكَلَامِ
“Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga. Sahabat bertanya, ‘Apa tanda kemabrurannya?’ Beliau menjawab, ‘Memberi makan dan berkata baik.’”
Dari riwayat tersebut dapat dipahami bahwa kemabruran haji tampak dalam kehidupan sehari-hari selepas berhaji.
Ukuran haji mabrur terlihat dari manfaat sosialnya. Orang yang hajinya baik akan ringan tangan membantu sesama, peduli kepada orang lain, menyebarkan kedamaian, menjaga silaturahim, dan senantiasa berkata baik.
Haji mabrur diraih melalui manasik yang benar, akhlak yang baik, doa yang tulus, dan perubahan nyata setelah pulang dari Tanah Suci.
Seorang Muslim tidak cukup hanya menjaga hubungan dengan Allah melalui ibadah, tetapi juga dituntut peduli kepada sesama.
Jika seluruh ikhtiar itu dijalankan dengan sungguh-sungguh, maka insya Allah seseorang meraih haji mabrur yang balasannya adalah surga.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang