KOMPAS.com - Sholat dhuha selama ini dikenal sebagai salah satu amalan sunnah yang erat kaitannya dengan pembuka rezeki.
Banyak Muslim sengaja meluangkan waktu di pagi hari untuk menunaikan sholat ini dengan harapan diberi kelancaran urusan, hati yang tenang, hingga keberkahan hidup.
Namun, tidak sedikit yang masih bertanya-tanya: kapan sebenarnya waktu sholat dhuha terbaik? Apakah benar ada jam tertentu yang lebih utama sehingga doa lebih mudah dikabulkan?
Dalam berbagai hadis, Rasulullah SAW memang menjelaskan bahwa sholat dhuha memiliki waktu paling utama dibanding sekadar dikerjakan di awal pagi.
Para ulama kemudian menerangkan tanda-tanda waktunya, bahkan mengaitkannya dengan kondisi matahari yang mulai terasa panas.
Sholat dhuha bukan hanya ibadah sunnah biasa. Dalam banyak riwayat, amalan ini disebut memiliki keutamaan besar.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah.
Jumlahnya mencapai 360 sendi, dan dua rakaat sholat dhuha dapat menggantikan seluruh sedekah tersebut.
Selain itu, ada pula hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Ahmad:
“Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan kebutuhanmu sepanjang hari itu.”
Hadis ini sering dijadikan dasar mengapa banyak ulama menyebut sholat dhuha sebagai amalan pembuka keberkahan rezeki dan penjaga kecukupan hidup.
Dalam buku Keajaiban Shalat Sunnah karya M. Khalilurrahman Al Mahfani dijelaskan, sholat dhuha termasuk ibadah yang sangat dianjurkan karena menjadi bentuk syukur seorang hamba atas nikmat kesehatan, tubuh, dan kesempatan hidup yang Allah berikan setiap pagi.
Baca juga: Kenapa Shalat Terasa Berat? Bisa Jadi Tanda Belum Diizinkan Allah, Ini Kata Buya Yahya
Secara umum, waktu dhuha dimulai setelah matahari terbit dan naik setinggi tombak. Dalam praktiknya di Indonesia, waktu ini biasanya sekitar 15–20 menit setelah matahari terbit.
Waktu dhuha berakhir menjelang masuknya waktu zuhur, kira-kira 10–15 menit sebelumnya.
Artinya, rentang waktu sholat dhuha sebenarnya cukup panjang. Namun, para ulama menjelaskan bahwa ada waktu yang lebih utama dibanding waktu lainnya.
Rasulullah SAW pernah menjelaskan bahwa waktu paling utama untuk sholat dhuha adalah ketika matahari mulai terasa panas.
Hadis riwayat Muslim menyebutkan:
“Shalat orang-orang awwabin adalah ketika anak unta mulai kepanasan.”
Hadis tersebut diriwayatkan dari sahabat Zaid bin Arqam. Pada masa Arab dahulu, kondisi “anak unta mulai kepanasan” menjadi tanda bahwa matahari telah meninggi dan panas mulai terasa di padang pasir.
Para ulama kemudian menjelaskan bahwa waktu itu berada di seperempat siang atau mendekati pertengahan pagi.
Dalam kitab Fiqih Manhaji Ala Madzhab Al Imam Asy-Syafii, dijelaskan bahwa waktu terbaik dhuha adalah saat panas matahari mulai kuat, bukan terlalu pagi setelah matahari terbit.
Sementara itu, Syaikh Musthafa Al Bugha dalam kitab Nuzhatul Muttaqin menerangkan:
“Waktu sholat dhuha dimulai sejak matahari meninggi hingga mendekati tengah hari. Namun yang paling utama adalah ketika matahari sudah terasa panas.”
Jika dikonversi ke waktu Indonesia, khususnya wilayah seperti Jakarta dan sekitarnya, waktu dhuha paling utama umumnya berada sekitar pukul 08.30 hingga 10.00 WIB.
Banyak ulama menyebut sekitar pukul 09.00 WIB sebagai waktu yang sangat baik untuk melaksanakan dhuha karena matahari sudah cukup tinggi namun belum mendekati zuhur.
Meski demikian, waktu terbaik bisa sedikit berbeda tergantung lokasi dan posisi matahari di masing-masing daerah.
Karena itu, bila ingin mendapatkan waktu paling utama, patokannya bukan sekadar jam tertentu, melainkan ketika matahari mulai terasa hangat dan pagi sudah benar-benar terang.
Baca juga: Shalat Sunnah Isyraq: Niat, Tata Cara, Doa, dan Perbedaan dengan Dhuha
Sebagian ulama menjelaskan bahwa waktu dhuha merupakan momen ketika manusia mulai sibuk dengan urusan dunia: bekerja, berdagang, bepergian, dan mencari nafkah.
Di saat banyak orang fokus mengejar aktivitas duniawi, orang yang menyempatkan diri menghadap Allah dinilai memiliki keutamaan tersendiri.
Dalam buku Rahasia Dahsyat Shalat Sunnah karya Imam Musbikin disebutkan bahwa sholat dhuha menjadi simbol tawakal seorang hamba. Ia tetap menggantungkan harapan rezekinya kepada Allah di tengah kesibukan hidup.
Karena itu, doa-doa setelah sholat dhuha sering dipanjatkan untuk memohon kemudahan rezeki, keberkahan usaha, ketenangan hati, dan kelancaran urusan.
Jumlah rakaat sholat dhuha paling sedikit adalah dua rakaat.
Namun, Rasulullah SAW juga pernah mengerjakan empat rakaat, delapan rakaat, bahkan lebih sesuai kemampuan.
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa sholat dhuha dikerjakan dua rakaat salam, dua rakaat salam.
Berikut bacaan niat sholat dhuha dua rakaat.
اُصَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatadh dhuhaa rak‘ataini lillaahi ta‘aalaa.
Artinya: “Aku niat sholat sunnah dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Secara umum, tata cara sholat dhuha sama seperti sholat sunnah lainnya:
Sebagian ulama menganjurkan membaca Surah Asy-Syams, Ad-Dhuha, atau Al-Insyirah, meski tidak ada kewajiban khusus mengenai surat tertentu.
Baca juga: Doa Setelah Shalat Tahajud, Waktu Sunyi yang Diyakini Penuh Keberkahan
Doa setelah dhuha sangat populer dibaca kaum Muslim karena berisi permohonan keberkahan dan kemudahan rezeki.
اللَّهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاؤُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ
اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَيَسِّرْهُ وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ
بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِي مَا آتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ
Allahumma innadh dhuhaa-a dhuhaa-uka, wal bahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ‘ishmata ‘ishmatuka.
Allahumma in kaana rizqii fis samaa’i fa anzilhu, wa in kaana fil ardhi fa akhrijhu, wa in kaana mu‘siran fa yassirhu, wa in kaana haraaman fathahhirhu, wa in kaana ba‘iidan faqarribhu.
Bi haqqi dhuhaa-ika wa bahaa-ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa aataita ‘ibaadakash shaalihiin.
Artinya “Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, dan perlindungan adalah perlindungan-Mu.
Ya Allah, jika rezekiku di langit maka turunkanlah, jika di bumi maka keluarkanlah, jika sulit maka mudahkanlah, jika haram maka sucikanlah, jika jauh maka dekatkanlah.
Dengan hak waktu dhuha-Mu, keindahan, keagungan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, berikanlah kepadaku sebagaimana Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.”
Para ulama mengingatkan bahwa rezeki bukan hanya soal uang atau materi. Rezeki juga bisa berupa kesehatan, ketenangan hati, keluarga yang baik, pekerjaan yang lancar, hingga hidup yang berkah.
Karena itu, sholat dhuha sebaiknya tidak dipandang semata-mata sebagai “ritual mencari kekayaan”, melainkan bentuk kedekatan seorang hamba kepada Allah.
Dalam buku Mukjizat Shalat Dhuha karya H. Amirulloh Syarbini disebutkan, konsistensi menjaga dhuha dapat membentuk optimisme, disiplin, serta ketenangan jiwa yang berdampak positif pada kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, banyak ulama juga menekankan bahwa doa akan lebih mudah dikabulkan bila dibarengi ikhtiar, kejujuran, serta menjauhi rezeki yang haram.
Sholat dhuha menjadi salah satu amalan sunnah yang istimewa karena dikerjakan di tengah awal aktivitas manusia mencari nafkah.
Waktu terbaiknya adalah ketika matahari mulai meninggi dan terasa panas, sekitar pukul 09.00 WIB untuk wilayah Indonesia bagian barat.
Selain mendatangkan pahala, dhuha juga menjadi momen memohon keberkahan hidup, kelancaran rezeki, dan ketenangan hati kepada Allah SWT.
Dengan menjaga amalan ini secara rutin, seorang Muslim tidak hanya berharap kecukupan dunia, tetapi juga kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang