Editor
KOMPAS.com-Melempar jumrah menjadi salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji yang dilakukan jamaah saat berada di Mina.
Ritual ini dilakukan dengan melempar batu kerikil ke tiga jumrah, yakni jumrah ula, jumrah wustho, dan jumrah aqabah.
Setiap jumrah dilempar menggunakan tujuh batu kerikil sebagai bagian dari manasik haji yang telah diajarkan dalam syariat Islam.
Selain menjadi amalan fisik, melempar jumrah juga memiliki makna spiritual sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan, hawa nafsu, dan dosa.\
Baca juga: Berapa Jumlah Kerikil Lempar Jumrah? Ini Penjelasan Lengkapnya
Dilansir dari MUI, melempar jumrah tidak semestinya dipahami hanya sebagai gerakan melempar batu kerikil dalam rangkaian manasik haji.
Ritual ini juga menjadi simbol keteguhan seorang mukmin dalam menolak godaan setan, melawan hawa nafsu, dan membersihkan diri dari dosa-dosa yang mengotori hati.
Seorang Muslim dianjurkan menjalankan amalan ini dengan menghadirkan doa, harapan, dan penghambaan yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT.
Sahabat Nabi yang mulia, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, memberikan teladan dalam membaca doa saat menjalankan amalan melempar jumrah.
Dalam riwayat yang dinukil dari kitab Ad-Du’a karya ath-Thabrani, disebutkan bahwa setiap kali Abdullah Ibnu Umar melempar satu batu kerikil, beliau bertakbir:
اَلله أَكْبَرُ
“Allah Mahabesar.”
Setelah itu, beliau berdoa dengan membaca lafaz berikut:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا
“Ya Allah, jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.” (HR Thabrani)
Riwayat serupa juga ditemukan dalam kitab Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi dan kitab Al-Musannaf karya Ibnu Abi Syaibah.
Baca juga: Jemaah Haji Kini Lebih Sejuk, Teknologi Kabut Canggih Dipasang di Jamarat
Dalam riwayat lain, hadis ini diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha‘i.
Disebutkan bahwa Mughirah pernah bertanya kepada Ibrahim an-Nakha‘i tentang doa yang dibaca ketika melempar jumrah.
Ibrahim an-Nakha‘i kemudian menjawab agar membaca doa yang sama seperti doa tersebut.
Doa ini memang singkat, tetapi memiliki makna yang besar bagi setiap jamaah haji yang berharap ibadahnya diterima Allah SWT.
Setiap lemparan batu dalam ibadah haji menjadi kesempatan bagi jamaah untuk memperbanyak doa dan memperkuat tekad melawan muslihat setan.
Kerikil yang dilempar seakan menjadi simbol lepasnya dosa, kelalaian, dan bisikan buruk yang selama ini membelenggu diri seorang mukmin.
Melalui amalan ini, jamaah haji diingatkan agar tidak hanya menyelesaikan rangkaian manasik secara lahiriah, tetapi juga memperbaiki hati dan memperkuat ketaatan kepada Allah SWT.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kaum muslimin yang berhaji, menjadikan hajinya sebagai haji yang mabrur, serta mengampuni dosa-dosa mereka dengan ampunan yang sempurna.
Amin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang