KOMPAS.com – Tidak semua dosa lahir dari ucapan atau perbuatan besar. Dalam Islam, ada penyakit hati yang sering muncul diam-diam, bahkan tanpa disadari pelakunya.
Sifat itu adalah merasa senang ketika melihat orang lain tertimpa musibah, gagal, malu, atau jatuh dari kesuksesannya.
Di media sosial, sikap seperti ini sering muncul dalam bentuk komentar sinis, sindiran, hingga rasa puas ketika melihat orang lain mengalami kesulitan. Dalam Islam, perilaku tersebut dikenal dengan istilah syamatah.
Meski terdengar sederhana, para ulama menjelaskan bahwa syamatah termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya.
Bahkan Rasulullah SAW secara khusus mengingatkan umatnya agar tidak merasa bahagia atas penderitaan orang lain.
Lalu, apa sebenarnya syamatah? Mengapa sifat ini begitu dibenci dalam Islam? Dan bagaimana cara membersihkan hati dari penyakit tersebut?
Secara bahasa, syamatah berarti rasa senang atas musibah yang menimpa orang lain. Perasaan itu bisa muncul karena iri hati, persaingan, kebencian, atau keinginan melihat orang lain jatuh.
Dalam kitab Mizanul ‘Amal, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa syamatah merupakan kegembiraan atas keburukan yang menimpa orang lain yang sebenarnya tidak layak menerima musibah tersebut.
Menurut Al-Ghazali, sifat ini menjadi tanda rusaknya empati dan lemahnya kebersihan hati seseorang.
Ketika hati mulai merasa puas melihat penderitaan orang lain, saat itu manusia sedang kehilangan salah satu nilai penting dalam Islam, yaitu kasih sayang terhadap sesama.
Islam sendiri mengajarkan bahwa seorang Muslim seharusnya ikut merasakan kesedihan saudaranya, bukan justru menikmati penderitaannya.
Baca juga: 4 Cara Menghilangkan Sifat Riya Menurut Imam Al-Ghazali agar Ibadah Tetap Ikhlas
Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah engkau menampakkan kegembiraan atas musibah saudaramu, karena bisa jadi Allah menyembuhkannya lalu mengujimu.”
Hadis ini menunjukkan bahwa keadaan manusia sangat mudah berubah. Orang yang hari ini terjatuh bisa saja esok hari bangkit dan dimuliakan Allah.
Sebaliknya, orang yang merasa dirinya aman dan lebih baik justru bisa mendapatkan ujian yang sama.
Dalam hadis lain riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa perlindungan dari syamatah musuh:
“Berlindunglah kepada Allah dari beratnya cobaan, keterpurukan celaka, buruknya takdir, dan syamatah musuh.”
Para ulama menjelaskan bahwa doa tersebut menunjukkan betapa beratnya rasa sakit ketika seseorang dijadikan bahan ejekan atau sumber kepuasan orang lain saat sedang tertimpa musibah.
Salah satu hal yang membuat syamatah berbahaya adalah karena sifat ini sering muncul secara halus.
Kadang seseorang tidak secara terang-terangan menertawakan penderitaan orang lain, tetapi diam-diam merasa puas ketika melihat orang yang tidak disukainya gagal.
Fenomena ini semakin mudah ditemukan di era digital. Ketika ada tokoh yang tersandung masalah, artis yang jatuh, atau seseorang yang dipermalukan di media sosial, tidak sedikit orang justru menikmati situasi tersebut.
Dalam buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni dijelaskan bahwa hati yang dipenuhi iri dan dengki akan sulit merasakan ketenangan. Sebab, kebahagiaannya bergantung pada jatuhnya orang lain.
Padahal Islam mengajarkan kebahagiaan sejati lahir dari rasa syukur, bukan dari penderitaan sesama manusia.
Baca juga: Hasad dalam Islam: Penyebab, Dampak, dan Cara Menghindari Sifat Dengki
Para ulama menjelaskan bahwa syamatah biasanya muncul dari hasad atau iri hati yang dipendam terlalu lama.
Muhammad al-Tahir Ibnu Asyur dalam kitab At-Tahrir wa At-Tanwir menerangkan bahwa rasa senang atas musibah orang lain lahir dari permusuhan dan kedengkian di dalam hati.
Ketika seseorang tidak rela melihat orang lain bahagia, sukses, atau lebih baik darinya, maka ia akan mudah merasa puas saat orang tersebut mengalami kegagalan.
Oleh karena itu, syamatah sangat berkaitan dengan penyakit hasad yang sejak dulu diperingatkan dalam Al Quran.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Falaq ayat 5:
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”
Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan bahwa dengki bisa melahirkan berbagai keburukan hati, termasuk keinginan melihat orang lain kehilangan nikmat yang dimilikinya.
Islam membangun hubungan antarmanusia di atas dasar kasih sayang dan persaudaraan.
Karena itu, Al Quran melarang umat Islam mengolok-olok orang lain, merendahkan sesama, atau merasa diri lebih baik.
Dalam Surah Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT berfirman:
“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.”
Ayat ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak pernah tahu siapa yang lebih mulia di sisi Allah.
Bisa jadi orang yang hari ini terlihat jatuh justru lebih dicintai Allah dibanding orang yang merasa dirinya lebih suci.
Dalam kitab Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa merasa senang atas musibah sesama Muslim adalah perbuatan yang dilarang karena bertentangan dengan semangat ukhuwah Islamiyah.
Baca juga: Mengenal Sifat Kikir: Penyakit Hati yang Membinasakan
Menariknya, fenomena syamatah juga dibahas dalam dunia psikologi modern.
Dalam ilmu psikologi, rasa senang atas penderitaan orang lain dikenal dengan istilah schadenfreude, berasal dari bahasa Jerman yang berarti “kesenangan atas kemalangan orang lain”.
Penelitian Van Dijk dalam jurnal Cognition and Emotion menjelaskan bahwa schadenfreude sering muncul ketika seseorang merasa terancam, iri, atau memiliki persaingan dengan orang lain.
Sementara dalam buku Mengenal Schadenfreude dan Glücksschmerz karya Achmad Syahid dan tim peneliti Fakultas Psikologi UIN Jakarta, dijelaskan bahwa fenomena ini dapat membuat seseorang kehilangan empati dan lebih mudah menikmati kegagalan orang lain.
Artinya, apa yang sejak lama diperingatkan Islam ternyata juga terbukti berdampak buruk secara psikologis dan sosial.
Sifat ini bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menghancurkan ketenangan batin pelakunya sendiri.
Orang yang terbiasa merasa bahagia atas penderitaan orang lain cenderung hidup dalam kecemasan, iri hati, dan persaingan tanpa akhir.
Selain itu, syamatah membuat hati semakin keras dan sulit bersyukur.
Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa hasad dapat memakan pahala sebagaimana api melahap kayu bakar.
Karena itu, para ulama menilai syamatah bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan penyakit hati yang bisa merusak amal dan hubungan manusia dengan Allah SWT.
Membersihkan hati dari syamatah membutuhkan latihan spiritual yang terus-menerus.
Pertama, memperbanyak rasa syukur atas nikmat yang dimiliki. Orang yang sibuk bersyukur biasanya tidak memiliki waktu untuk iri terhadap kehidupan orang lain.
Kedua, membiasakan mendoakan kebaikan bagi sesama, termasuk kepada orang yang tidak disukai.
Ketiga, mengurangi kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain, terutama melalui media sosial.
Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia akan lebih tenang ketika fokus memperbaiki diri dibanding sibuk memikirkan kehidupan orang lain.
Di era media sosial, manusia semakin mudah melihat pencapaian, kekayaan, dan kehidupan orang lain setiap hari.
Tanpa disadari, kondisi ini bisa memicu iri hati, persaingan, hingga rasa puas ketika melihat orang lain gagal.
Oleh karena itu, menjaga hati menjadi tantangan besar bagi banyak orang hari ini.
Islam mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada jatuhnya orang lain, tetapi pada kemampuan seseorang menjaga kebersihan hatinya sendiri.
Sebab kebahagiaan sejati tidak lahir dari penderitaan sesama, melainkan dari hati yang penuh syukur, empati, dan kedekatan kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang