Editor
KOMPAS.com - Kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan dapat menimbulkan berbagai kesulitan bagi masyarakat, mulai dari berkurangnya pasokan air hingga terganggunya aktivitas sehari-hari.
Dalam kondisi seperti ini, Islam memberikan tuntunan kepada umatnya untuk memohon turunnya hujan melalui shalat istisqa.
Ibadah sunnah ini menjadi bentuk ikhtiar spiritual dengan memohon pertolongan Allah SWT agar menurunkan hujan yang membawa keberkahan.
Baca juga: Kabut Asap Riau Makin Parah, Ribuan Warga Rokan Hulu Minta Hujan lewat Shalat Istisqa
Pelaksanaannya dilakukan secara berjamaah dengan tata cara yang telah dicontohkan dalam syariat.
Apabila terjadi kekeringan akibat hujan yang tidak turun dalam waktu lama dan sulit dikendalikan, pemerintah setempat dianjurkan mengimbau masyarakat untuk melaksanakan salat istisqa.
Sebelum shalat dilaksanakan, masyarakat dianjurkan berpuasa selama tiga hari sebagai bentuk persiapan spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Baca juga: Doa Minta Hujan Berhenti yang Diajarkan Rasulullah, Simak Lafalnya!
Setelah menjalani puasa selama tiga hari, seluruh masyarakat berkumpul pada hari keempat untuk melaksanakan salat istisqa secara berjamaah.
Shalat dilaksanakan pada waktu pagi di lapangan, sebagaimana waktu dan tempat pelaksanaan shalat Idul Fitri maupun Idul Adha.
Sebelum memulai shalat, jamaah berniat melaksanakan shalat sunnah istisqa.
Niat shalat istisqa:
أُصَلِّي سُنَّةَ الإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Ushallī sunnatal-istisqā'i rak'ataini mustaqbilal-qiblati imāman/ma'mūman lillāhi ta'ālā.
Arti: "Aku berniat melaksanakan shalat sunnah istisqa dua rakaat dengan menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah Ta'ala."
Pelaksanaan shalat istisqa pada dasarnya sama dengan salat Idul Fitri maupun Idul Adha.
Adapun tata caranya sebagai berikut:
Setelah shalat selesai, khatib menyampaikan khutbah yang didengarkan oleh seluruh jamaah.
Khutbah shalat istisqa terdiri atas dua khutbah. Khatib menyampaikannya dalam keadaan berdiri dengan sekali duduk di antara dua khutbah tersebut.
Rukun dan tata cara khutbah shalat istisqa sama seperti khutbah shalat Id, yaitu:
Dalam khutbah, khatib dianjurkan mengajak jamaah untuk memperbanyak taubat kepada Allah SWT, memohon ampun atas segala dosa, serta memperbanyak istighfar.
Ajakan tersebut bertujuan agar Allah SWT mengabulkan permohonan turunnya hujan yang menjadi kebutuhan umat manusia dan seluruh makhluk hidup di tengah musim kemarau panjang.
Setiap mengakhiri khutbah pertama maupun khutbah kedua, khatib disunnahkan membaca doa dengan tata cara khusus.
Saat berdoa, khatib membalikkan badan sehingga membelakangi jamaah dan menghadap kiblat.
Khatib juga menukar posisi selendang atau sorban yang dikenakan di pundak, kemudian mengangkat kedua tangan sambil memanjatkan doa memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.
Melalui salat istisqa, umat Islam diajak untuk mengiringi ikhtiar menghadapi kekeringan dengan memperbanyak doa, taubat, dan istighfar.
Ibadah ini menjadi wujud penghambaan kepada Allah SWT sekaligus pengingat bahwa segala nikmat, termasuk turunnya hujan, berasal dari kehendak-Nya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang