Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Niat Puasa Syaban: Panduan Lengkap, Keutamaan, dan Dalilnya

Kompas.com, 20 Januari 2026, 09:29 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bulan Syaban menjadi salah satu momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Salah satu amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah Syaban. Agar ibadah tersebut sah dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT, niat menjadi syarat utama yang tidak boleh diabaikan.

Dalam Islam, niat bukan sekadar ucapan, tetapi tekad hati yang membedakan antara aktivitas ibadah dan rutinitas biasa.

Karena itu, memahami niat puasa Syaban beserta keutamaannya menjadi bagian penting dalam mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadan.

Syaban sebagai Bulan Persiapan Spiritual

Dalam buku Kemuliaan Bulan Sya’ban karya Ustaz Abu Ghozie as-Sundawie dijelaskan bahwa Syaban merupakan bulan yang penuh limpahan rahmat.

Pada bulan ini, Allah SWT membuka pintu ampunan, menurunkan pertolongan-Nya, serta memberikan kesempatan besar bagi hamba-Nya untuk membersihkan diri dari dosa.

Syaban juga berada di antara dua bulan besar, yakni Rajab dan Ramadan. Posisi ini menjadikan Syaban sebagai jembatan spiritual yang mempersiapkan umat Islam agar lebih siap secara fisik dan mental dalam menjalani ibadah puasa wajib.

Baca juga: Puasa Syaban, Ibadah Sunnah yang Dicintai Rasulullah Menjelang Ramadan

Anjuran Puasa Syaban dalam Hadis

Kebiasaan Rasulullah SAW yang memperbanyak puasa di bulan Syaban menjadi dalil utama dianjurkannya amalan ini. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA disebutkan:

“Nabi Muhammad SAW tidak pernah berpuasa dalam satu bulan melebihi puasa di bulan Syaban.” (HR Bukhari)

Hadis lain yang diriwayatkan Ummu Salamah RA menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bahkan sering menyambung puasa Syaban dengan Ramadan.

Hal ini menunjukkan bahwa puasa Syaban bukan sekadar ibadah sunnah biasa, tetapi memiliki nilai strategis sebagai latihan ruhani sebelum memasuki bulan suci.

Dalam buku Dakwah Kreatif: Muharram, Maulid Nabi, Rajab dan Sya’ban karya Dra. Udji Asiyah dijelaskan bahwa puasa Syaban berfungsi sebagai pengantar ibadah Ramadan, agar tubuh dan jiwa tidak mengalami perubahan mendadak ketika memasuki kewajiban puasa.

Pentingnya Niat dalam Puasa Syaban

Dalam kajian fikih, niat merupakan rukun puasa. Tanpa niat, puasa dianggap tidak sah. Dalam kitab Fathul Qarib karya Syekh Ibnu Qasim Al-Ghazi dijelaskan bahwa niat adalah kesengajaan hati untuk melakukan ibadah tertentu demi mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Untuk puasa sunnah seperti Syaban, niat dapat dilakukan sejak malam hari hingga sebelum waktu zawal (matahari tergelincir), selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.

Bacaan Niat Puasa Syaban

Berikut bacaan niat puasa Syaban yang umum diamalkan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ شَهْرٍ شَعْبَانَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin min syahri Sya‘bāna sunnatan lillāhi ta‘ālā.

Artinya: “Saya niat berpuasa esok hari dari bulan Syaban sunnah karena Allah Ta’ala.”

Baca juga: Amalan Malam Nisfu Syaban: Mengetuk Pintu Ampunan di Bulan yang Sering Terlupakan

Niat Puasa Senin dan Kamis di Bulan Syaban

Puasa Syaban sering digabungkan dengan puasa sunnah rutin seperti Senin dan Kamis.

Niat Puasa Senin

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma yaumil itsnaini lillāhi ta‘ālā.

Artinya: “Saya niat puasa sunnah hari Senin karena Allah Ta’ala.”

Niat Puasa Kamis

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الْخَمِيْسِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma yaumil khamīsi lillāhi ta‘ālā.

Artinya: “Saya niat puasa sunnah hari Kamis karena Allah Ta’ala.”

Niat Puasa Ayyamul Bidh di Bulan Syaban

Puasa Ayyamul Bidh dilaksanakan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah.

نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ayyāmil bīdh lillāhi ta‘ālā.

Artinya: “Saya niat puasa Ayyamul Bidh karena Allah Ta’ala.”

Niat Puasa Nisfu Syaban

Puasa Nisfu Syaban dilakukan pada tanggal 15 Syaban. Berikut niat yang dapat dibaca pada malam hari:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sunnati Sya‘bāna lillāhi ta‘ālā.

Artinya: “Saya niat puasa sunnah Syaban esok hari karena Allah SWT.”

Jika lupa berniat malam hari, niat dapat dilakukan siang hari sebelum zawal:

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an adā’i sunnati Sya‘bāna lillāhi ta‘ālā.

Artinya: “Saya niat puasa sunnah Syaban hari ini karena Allah SWT.”

Baca juga: Amalan Syaban: Persiapan Spiritual Menyambut Ramadan

Keutamaan Puasa Syaban Menurut Ulama

Dalam buku Ternyata Shalat dan Puasa Sunnah Dapat Mempercepat Kesuksesan karya Ceceng Salamudin, dijelaskan bahwa puasa Syaban memiliki sejumlah keutamaan penting.

  • Pertama, puasa Syaban merupakan sunnah yang paling sering dicontohkan Rasulullah SAW. Menghidupkan sunnah ini berarti mengikuti langsung praktik ibadah Nabi.
  • Kedua, Syaban menjadi bulan bersejarah karena terjadinya perpindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram. Peristiwa ini tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 144 yang menegaskan identitas spiritual umat Islam.
  • Ketiga, pada bulan Syaban pula turun perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana tertuang dalam Surah Al-Ahzab ayat 56. Hal ini menjadi pengingat agar umat Islam memperbanyak shalawat sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah.
  • Keempat, dalam kitab Dzuratun Nashihin karya Syekh Utsman bin Hasan disebutkan bahwa para ulama menganjurkan untuk meningkatkan tilawah Al-Qur’an pada bulan Syaban sebagai latihan ruhani sebelum Ramadan.

Puasa Syaban sebagai Latihan Menuju Ramadan

Puasa Syaban tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki dimensi pendidikan spiritual. Dengan membiasakan diri menahan lapar, menjaga lisan, dan mengendalikan hawa nafsu sejak Syaban, umat Islam dapat memasuki Ramadan dengan kesiapan yang lebih matang.

Puasa Syaban menjadi momentum untuk memperbaiki niat, memperkuat disiplin ibadah, serta membangun kebiasaan baik yang akan dilanjutkan di bulan suci.

Niat puasa Syaban menjadi pintu awal sahnya ibadah sunnah yang penuh keutamaan ini. Dengan memahami bacaan niat, dalil, serta hikmah di balik puasa Syaban, umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan lebih sadar dan bermakna.

Syaban bukan sekadar bulan pengantar, tetapi ruang persiapan spiritual agar Ramadan dapat dijalani dengan kualitas ibadah yang lebih baik, lebih ikhlas, dan lebih istiqamah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Menhaj Irfan: 25.271 Calon Jemaah Haji Indonesia Telah Diberangkatkan ke Madinah
Menhaj Irfan: 25.271 Calon Jemaah Haji Indonesia Telah Diberangkatkan ke Madinah
Aktual
Orang Tua Ungkap Alasan Daftarkan Haji Tsurayya Sejak Usia 2 Tahun: Bekal Hidup Dunia Akhirat
Orang Tua Ungkap Alasan Daftarkan Haji Tsurayya Sejak Usia 2 Tahun: Bekal Hidup Dunia Akhirat
Aktual
Cerita Tsurayya, Jemaah Haji Termuda Ponorogo yang Didaftarkan Sejak Usia 2 Tahun
Cerita Tsurayya, Jemaah Haji Termuda Ponorogo yang Didaftarkan Sejak Usia 2 Tahun
Aktual
Soroti Potensi Pelanggaran, Pemerintah Tegaskan KBIHU Dilarang Pungut Biaya Tambahan ke Jemaah Haji
Soroti Potensi Pelanggaran, Pemerintah Tegaskan KBIHU Dilarang Pungut Biaya Tambahan ke Jemaah Haji
Aktual
Marak Penawaran Haji Tanpa Antre Ilegal, Pemerintah Minta Masyarakat Waspada
Marak Penawaran Haji Tanpa Antre Ilegal, Pemerintah Minta Masyarakat Waspada
Aktual
Petugas Bekerja Teliti Pantau Bagasi Di Balik Ramainya Kedatangan Jemaah Haji di Madinah
Petugas Bekerja Teliti Pantau Bagasi Di Balik Ramainya Kedatangan Jemaah Haji di Madinah
Aktual
Ribuan Jemaah Haji Tiba Bersamaan di Bandara Madinah, Petugas Terapkan Rekayasa Pergerakan
Ribuan Jemaah Haji Tiba Bersamaan di Bandara Madinah, Petugas Terapkan Rekayasa Pergerakan
Aktual
Cerita Penjual Ikan Keliling di Gowa, Berangkat Haji dari Hasil Menabung Mulai Rp 30 Ribu per Hari
Cerita Penjual Ikan Keliling di Gowa, Berangkat Haji dari Hasil Menabung Mulai Rp 30 Ribu per Hari
Aktual
PPIH Madinah Imbau Jemaah Haji Indonesia Waspadai Cuaca Panas di Tanah Suci
PPIH Madinah Imbau Jemaah Haji Indonesia Waspadai Cuaca Panas di Tanah Suci
Aktual
Seorang Jemaah Haji Asal Solo Wafat di Madinah, Kemenhaj Pastikan Akan Laksanakan Badal Haji
Seorang Jemaah Haji Asal Solo Wafat di Madinah, Kemenhaj Pastikan Akan Laksanakan Badal Haji
Aktual
Kemenhaj Larang KBIHU Pungut Biaya Tambahan Jemaah Haji, Pelanggar Akan Ditindak
Kemenhaj Larang KBIHU Pungut Biaya Tambahan Jemaah Haji, Pelanggar Akan Ditindak
Aktual
Ayah Kandung Tak Ada, Bisakah Ayah Sambung Jadi Wali Nikah? Ini Syarat dan Hukumnya menurut Fikih
Ayah Kandung Tak Ada, Bisakah Ayah Sambung Jadi Wali Nikah? Ini Syarat dan Hukumnya menurut Fikih
Aktual
Ayah Tiada atau Menghilang, Siapa Wali Nikah? Ini Urutan dan Ketentuannya dalam Islam
Ayah Tiada atau Menghilang, Siapa Wali Nikah? Ini Urutan dan Ketentuannya dalam Islam
Aktual
15 Tahun Menabung dari Gaji Marbot, Hamdi Akhirnya Berhaji Bersama Istri
15 Tahun Menabung dari Gaji Marbot, Hamdi Akhirnya Berhaji Bersama Istri
Aktual
Masjid Berdiri di Rooftop RS Jakarta, Hadirkan 'Healing' Fisik dan Batin
Masjid Berdiri di Rooftop RS Jakarta, Hadirkan "Healing" Fisik dan Batin
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com